Kisah Baharuddin dari Lajoangin dan Mimpi Kopi Premium Barru yang Mulai Tumbuh

  • Whatsapp
H. Baharuddin (image by Pelakita.ID)

Tentang model pendampingan, semangat petani, dan harapan menjadikan kopi Desa Harapan berkelas premium

“Rendahnya pengetahuan budidaya, keterbatasan akses pasar, serta minimnya pengolahan pascapanen membuat kopi hanya menjadi tanaman sampingan.”

H. Baharuddin, Ketua Kelompok Lajoangin Coffee Tanete Riaja Barru

PELAKITA.ID – Di balik hamparan perbukitan Desa Harapan, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, biji-biji yang digandrungi semesta dunia itu sedang menemukan kembali masa depannya.

Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari mengundang anggota tim CIDES ICMI untuk mempelajari realitas dan dinamika perkopian di Barru.

“Silakan datang dan berinteraksi dengan petani kopi kami. Yang pasti saat ini, lebih seribu hektar lahan kopi telah dimanfaatkan di beberapa kecamatan seperti Pujananting hingga Tanate Riaja,” kata Andi Ina saat bertemu pengurus CIDES ICMI.

Meski mengakui bahwa kopi Barru belum seterkenal Kopi Toraja atau Kalosi, namun Andi Ina percaya, ada harapan yang sama sebab jenis kopi yang ditanam tidak berbeda dengan Toraja atau Enrekang.

“Kami ada Robusta dan juga Arabica, doakan saja semoga inisiatif memaksimalkan penanaman kopi hingga ke puncak Pujananting bisa tumbuh dan berkembang sebagaimana kopi Sulawesi Selatan yang lain.” harap Ina saat ditemui Pelakita.ID di rumah dinasnya di Barru, 12 Juni 2026.

Andi Ina sadar, usaha kopi di Barru bukan dari perkebunan besar atau investasi bernilai miliaran rupiah, melainkan dari semangat para petani yang mulai melihat bahwa kopi dapat menjadi sumber kesejahteraan baru bagi desa mereka.

Justru karena itu, Pemda Barru membuka ruang selebar-lebarnya untuk investor membantu petani kopi di Barru.

“Ini sudah dimulai, kami dorong penuh agar investasi kopi, kapasitas petani kopi juga meningkat. Saat ini sudah ada pendampingan untuk sejumlah kelompok petani kopi seperti Desa Gattareng hingga Harapan di Tanete Riaja,” ungkap Andi Ina.

Penulis bersama Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari (tengah) dan Kepala Desa Gattareng, Syahrir. Gattareng salah satu sentra kopi Barru (dok: Pelakita.ID)

Kesaksian dari Harapan

Apa yang disampaikan Andi Ina itu dibenarkan oleh Haji Baharuddin dari Desa Harapan.

Ada optimisme yang disampaikan oleh Haji Baharuddin, Ketua Kelompok Tani Lajoangin Coffee, sebuah kelompok petani kopi yang dalam setahun terakhir berkembang pesat dan mulai mendapatkan pendampingan teknis untuk meningkatkan kualitas budidaya maupun pascapanen.

“Sejak dulu kopi sebenarnya sudah ada di sini. Hampir setiap rumah punya pohon kopi, tetapi hanya sebatas tanaman pekarangan. Sekarang masyarakat mulai melihat bahwa kopi bisa menjadi usaha yang menjanjikan,” ujar Baharuddin kepada Kamaruddin Azis, dari Pelakita.ID, Sabtu 12 Juni 2026.

Kelompok Tani Lajoangin Coffee mulai mendapatkan pendampingan sejak Agustus 2025.

“Saat ini kelompok kami memiliki sekitar 61 anggota aktif dan terus bertambah hingga mendekati 70 orang. Luas areal yang dikelola anggota kelompok diperkirakan mencapai sekitar 61 hektar yang tersebar di sejumlah wilayah Desa Harapan,” ungkap Baharuddin.

Bibit kopi Robustan milik Kelompok Sajoanging Desa Harapan asal Toraja siap ditanam di Barru.

Baginya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kopi semakin besar.

“Banyak anggota yang sebelumnya hanya memiliki beberapa batang kopi kini mulai menanam hingga ribuan pohon sebagai investasi jangka panjang,” kata dia.

Dari Tanaman Pekarangan Menjadi Komoditas Harapan

Sejarah kopi di Desa Harapan sesungguhnya bukan cerita baru. Menurut Baharuddin, tanaman kopi telah lama tumbuh di wilayah ini, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai tanaman pelengkap di sekitar rumah warga.

Selama bertahun-tahun kopi belum dipandang sebagai komoditas yang mampu memberikan nilai ekonomi yang signifikan.

“Rendahnya pengetahuan budidaya, keterbatasan akses pasar, serta minimnya pengolahan pascapanen membuat kopi hanya menjadi tanaman sampingan,” sebut Baharuddin.

Dikatakan, situasi itu mulai berubah ketika sejumlah petani melihat peluang pasar kopi berkualitas yang terus berkembang.

Kesadaran tersebut kemudian mendorong terbentuknya kelompok tani yang kini dikenal sebagai Lajoangin Coffee.

“Kendalanya dulu karena orang tidak tahu cara mengelola kopi yang baik. Sekarang harga kopi bagus dan informasi juga semakin terbuka. Anak-anak muda mulai tertarik kembali menanam kopi,” kata Baharuddin.

Saat ini harga kopi Robusta kering mencapai 60 ribu per kilo.

Kelompok Lajoangin Coffee saat dikunjung kelompok petani lain untuk bertukar pengalaman (dok: H. Baharuddin)

Yang Datang Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Ilmu

Menurut Baharuddin, salah satu faktor yang mendorong semangat petani adalah hadirnya pendampingan dari salah satu perusahaan yang bersedia memberi pendampingan teknis bersama Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Politani Pangkep).

Bantuan yang diberikan tidak berupa hibah uang ataupun sarana produksi dalam jumlah besar. Yang diberikan justru sesuatu yang jauh lebih berharga: transfer pengetahuan.

“Petani mendapatkan bimbingan mulai dari pembibitan, teknik budidaya, pemangkasan tanaman, hingga pengelolaan pascapanen yang menentukan kualitas akhir kopi,” ungkap Baharuddin.

Pendampingan tersebut dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Setelah pelatihan pembibitan, petani kembali mendapatkan bimbingan mengenai teknik pemangkasan dan pemeliharaan tanaman termasuk ditunjukkan bagaimana mengolah kopi dengan mesin pembuka kulit.

“Anak-anak kelompok bilang luar biasa bantuan ini. Kalau ilmu seperti ini harus dibayar seperti kuliah, mungkin biayanya sangat besar. Mereka datang membawa pengetahuan yang selama ini tidak kami miliki,” ujarnya.

Bagi petani kopi, ilmu tersebut menjadi modal utama untuk meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperbaiki daya saing produk mereka di pasar.

Belajar Memahami Kualitas

Salah satu pelajaran penting yang diperoleh petani adalah bahwa harga kopi sangat ditentukan oleh kualitas.

Menurut Baharuddin, selama ini sebagian besar petani hanya memahami kopi sebagai komoditas hasil panen yang langsung dijual.

Padahal, kata dia, kualitas kopi dibentuk oleh banyak tahapan, mulai dari cara memetik buah, proses fermentasi, pengeringan, penyimpanan, hingga pengolahan akhir.

Dalam kunjungan ke fasilitas pengolahan kopi milik mitra, Baharuddin melihat langsung bagaimana kopi dipilah berdasarkan mutu.

Ada kopi dengan kualitas standar, ada kopi premium, bahkan ada kopi specialty yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.

“Kalau asal panen dan jual, nilainya biasa saja. Tetapi kalau prosesnya benar, kualitasnya naik dan harganya juga jauh lebih baik. Di situlah kami mulai memahami bahwa kopi bukan hanya soal menanam,” jelas pria yang mengaku pernah ke Toraja untuk melihat proses budidaya kopi hingga pengolahan.

Kesadaran tersebut perlahan mengubah cara pandang petani anggota kelompoknya terhadap usaha kopi apalagi ada pembinaan dari Pak Kadir dalam hal budidaya kopi.

“Kami melihat ada peluang besar, apalagi saat ini semakin banyak yang tertarik menanam kopi dan menjadi anggota kami,” tambahnya.

H. Baharuddin (kedua dari kiri) dan anggota Kelompok Lajoangin Coffee Tanete Riaja, siap kolaborasi untuk pengembangan kopi Barru (dok: Istimewa)

Mulai Terhubung dengan Pasar

Meski masih dalam tahap pengembangan, anggota kelompok sudah mulai membangun hubungan dengan pasar yang lebih luas.

Sebagian kopi ceri petani telah dipasok kepada mitra usaha kopi, sementara hasil panen lainnya pernah dibawa ke Politani Pangkep untuk diproses lebih lanjut.

“Ini karena kami memang belum punya alatnya,” kata Baharuddin.

Pengalaman tersebut membuka wawasan baru bagi petani bahwa rantai nilai kopi jauh lebih panjang dibanding sekadar menjual hasil panen kepada pengepul.

Hubungan dengan lembaga pendidikan dan pelaku industri juga memberi keyakinan bahwa kopi Desa Harapan memiliki peluang untuk berkembang menjadi komoditas unggulan daerah. Namun demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan pasokan yang berkelanjutan.

Industri membutuhkan kuantitas yang cukup, kualitas yang konsisten, serta kemampuan kelompok untuk menjaga standar produksi.

Karena itu, penguatan organisasi petani menjadi bagian penting dalam proses pengembangan Lajoangin Coffee.

Kerjasama petani kunci keberhasilan usaha kopi (dok: H. Baharuddin)

Menyemai Mimpi Indikasi Geografis

Di balik berbagai aktivitas budidaya yang sedang berlangsung, para petani ternyata menyimpan mimpi yang jauh lebih besar. Mereka berharap suatu saat kopi dari Desa Harapan memiliki identitas yang kuat dan diakui sebagai produk khas Barru.

Baharuddin membayangkan suatu hari nanti kopi yang ditanam petani di wilayahnya dapat memperoleh pengakuan Indikasi Geografis (IG), sebagaimana sejumlah kopi unggulan dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan pengakuan tersebut, kopi tidak hanya menjadi produk pertanian, tetapi juga menjadi identitas wilayah.

“Mudah-mudahan suatu saat kopi kita bisa memiliki Indikasi Geografis. Jadi ketika dibawa keluar daerah, orang tahu bahwa ini kopi dari Harapan, dari Barru,” ujarnya.

Mimpi itu memang masih memerlukan perjalanan panjang. Namun setiap keberhasilan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat ini jenis Robusta memang idola petani Harapan namun saat yang sama Kopi Arabica pun menemukan tempat di hati petani.

Memulai dari Kebun Sendiri

Sebagai ketua kelompok, Baharuddin memilih memberi contoh melalui tindakan nyata.

Di lahan pribadinya seluas hampir dua hektar, ia baru memulai penanaman sekitar 900 batang kopi yang kini berusia lima bulan.

Yang menarik, ia mencoba menerapkan pendekatan budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Pengalaman belajar sistem pertanian terintegrasi di Banyuwangi memberinya keyakinan bahwa kopi berkualitas dapat dibangun melalui pendekatan yang lebih berkelanjutan.

“Saya ingin membuktikan dulu. Kalau berhasil, nanti anggota bisa melihat langsung hasilnya. Petani biasanya lebih percaya kalau sudah melihat contoh nyata,” katanya sambil tersenyum.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa transformasi pertanian tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga teladan.

Lokasi perbenihan benih kopi Kelompok Lajoangin Coffee (dok: Istimewa)

Masa Depan yang Sedang Tumbuh

Hari ini, sebagian besar pohon kopi anggota Lajoangin Coffee masih muda. Banyak yang baru ditanam satu hingga dua tahun terakhir. Produksi besar mungkin belum datang dalam waktu dekat.

Namun di lereng-lereng Desa Harapan, sesuatu yang lebih penting sedang tumbuh.

Bukan hanya pohon kopi, melainkan optimisme.

Optimisme bahwa desa dapat membangun ekonomi dari potensi yang dimilikinya sendiri. Optimisme bahwa pengetahuan dapat mengubah cara bertani. Optimisme bahwa kopi Barru suatu hari nanti mampu berdiri sejajar dengan berbagai kopi unggulan Nusantara.

Perjalanan itu memang masih panjang. Tetapi seperti kopi yang membutuhkan waktu sebelum menghasilkan buah terbaiknya, masa depan juga sedang disemai perlahan oleh para petani Lajoangin Coffee.

Dari Desa Harapan, mimpi itu mulai tumbuh.

___
Penulis Kamaruddin Azis