Antara Membiasakan yang Benar dan Membenarkan yang Sudah Biasa

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Bahasa adalah rumah makna. Ketika sebuah kata berubah, makna yang dikandungnya pun dapat ikut bergeser. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi dilema: membiasakan yang benar atau membenarkan yang sudah biasa.

Di media sosial, grup percakapan, bahkan spanduk keagamaan, kita menemukan beragam penulisan: ikhlas dan ihlas, mushollah, musolla, dan musala, salat dan shalat, duhur, dhuhur, dan zuhur, atau barakallah dan baraqallah.

Sebagian orang menganggapnya sepele. Yang penting maksudnya dipahami. Namun bahasa tidak hanya menyampaikan pesan; ia juga menjaga ketepatan makna.

Dalam ilmu bahasa, sesuatu yang sering digunakan belum tentu benar. Sebaliknya, sesuatu yang benar belum tentu populer. Kesalahan yang terus diulang memang bisa menjadi kebiasaan, tetapi tidak otomatis berubah menjadi kebenaran.

Contoh yang sangat penting adalah penggunaan istilah Husnul Khatimah.

Banyak orang menulis Khusnul Khatimah, padahal yang benar adalah Husnul Khatimah (حُسْنُ الْخَاتِمَة), yang berarti akhir kehidupan yang baik, meninggal dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah.

Adapun Khusnul Khatimah merupakan bentuk yang keliru. Secara kebahasaan, maknanya justru bertolak belakang dengan doa yang dimaksud. Hanya berbeda satu huruf, tetapi maknanya berubah sangat jauh.

Karena itu, ungkapan yang tepat adalah:

“Semoga Allah menganugerahkan husnul khatimah dan menerima seluruh amal ibadahnya.”

Contoh ini menunjukkan bahwa ketepatan lafaz bukan sekadar urusan bahasa, melainkan juga urusan makna dan doa.

Di situlah kita belajar bahwa bahasa bukan sekadar rangkaian bunyi. Ia adalah rumah makna. Sebuah titik dapat mengubah huruf, sebuah huruf dapat mengubah kata, dan sebuah kata dapat mengubah pemahaman.

Karena itu, tugas kita bukan membenarkan yang sudah biasa, melainkan membiasakan yang benar. Bukan untuk merasa paling tahu, melainkan untuk menjaga kejernihan makna dan menghormati ilmu yang diwariskan kepada kita.

Sebab peradaban yang besar selalu dimulai dari kesediaan memperbaiki hal-hal kecil. Dan sering kali, jalan menuju kebenaran dimulai dari keberanian mengoreksi satu huruf.

Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.