Melihat Indonesia dari Jejak Kekerasan yang Terus Diwariskan

  • Whatsapp
Pada edisi kali ini, Rumah Buku SaESA menghadirkan Eka Annash, musisi dari grup musik The Brandals, sebagai narasumber.

PELAKITA.ID – Bulukumba, 13 Juni 2026 — Di negeri yang gemar merayakan slogan persatuan dan gotong royong, kekerasan sering kali hadir sebagai bahasa yang paling fasih digunakan.

Ia tidak selalu berbentuk pukulan atau benturan fisik yang kasatmata. Kekerasan juga menjelma dalam kebijakan yang menyingkirkan, stigma yang membungkam, penggusuran yang memutus ruang hidup, hingga ketimpangan yang terus dipelihara dan dianggap sebagai hal yang biasa.

Indonesia hari ini memperlihatkan banyak wajah kekerasan. Sebagiannya berlangsung terbuka di hadapan publik, menjadi berita yang cepat berganti dan segera terlupakan.

Sebagian lainnya bekerja secara senyap melalui sistem sosial, ekonomi, dan politik yang begitu mapan sehingga keberadaannya nyaris tak lagi dipertanyakan.

Dalam kondisi semacam itu, masyarakat perlahan kehilangan kepekaan untuk membedakan mana yang adil dan mana yang sekadar kebiasaan yang diwariskan oleh struktur kuasa.

Kegelisahan inilah yang mendorong Rumah Buku SaESA kembali menghadirkan Tutur Kata #6, sebuah ruang berbagi pengetahuan yang kali ini mengangkat tema “Melihat Indonesia dari Kekerasan yang Ditimbulkan.”

Melalui tema tersebut, Tutur Kata berupaya membuka percakapan yang lebih luas mengenai berbagai bentuk kekerasan yang membentuk pengalaman sosial masyarakat Indonesia.

Diskusi ini tidak hanya mengajak peserta melihat peristiwa-peristiwa yang tampak di permukaan, tetapi juga menelusuri bagaimana relasi kuasa, kebijakan, dan praktik sosial turut menghasilkan serta mereproduksi kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan ruang diskusi yang sering terjebak dalam batas-batas disiplin ilmu dan jargon akademik, Tutur Kata hadir sebagai ruang yang lebih terbuka dan membumi.

Sebab pengetahuan tidak tumbuh di ruang yang tertutup. Ia lahir dari keberanian untuk bertanya, mendengar, meragukan, dan menghubungkan berbagai pengalaman yang selama ini tercecer di pinggiran perhatian.

Pada edisi kali ini, Rumah Buku SaESA menghadirkan Eka Annash, musisi dari grup musik The Brandals, sebagai narasumber.

Melalui pengalaman berkesenian dan keterlibatannya dalam berbagai isu sosial, Eka akan berbagi pandangan mengenai cara kerja kekerasan dalam kehidupan masyarakat, sekaligus mengajak peserta membaca berbagai gejala sosial yang kerap dianggap biasa, padahal menyimpan persoalan yang lebih dalam.

Diskusi akan dipandu oleh Musakkir Basri dari Sekolah Anak Desa, yang selama ini aktif membangun ruang-ruang belajar kritis di tingkat komunitas. Kehadiran kedua narasumber diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta serta membuka kemungkinan dialog yang lebih luas tentang Indonesia hari ini.

Lebih dari sekadar agenda berbincang, Tutur Kata merupakan ajakan untuk terus merawat tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan mengarsipkan pengetahuan.

Di tengah arus informasi yang bergerak cepat dan sering kali dangkal, upaya memahami realitas secara lebih mendalam menjadi semakin penting. Sebab pengetahuan yang dirawat dengan baik memungkinkan masyarakat melihat persoalan secara lebih utuh dan tidak mudah terjebak pada kesimpulan yang terburu-buru.

Kegiatan ini akan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026, pukul 16.30 WITA hingga selesai, dan disiarkan secara langsung melalui akun Instagram @rumahbukusaesa. Masyarakat luas dapat mengikuti diskusi ini secara daring dan menjadi bagian dari percakapan tentang Indonesia, kekerasan, serta berbagai kemungkinan untuk membacanya secara lebih kritis.

Sebab hidup, pada akhirnya, adalah proses pencarian yang tak pernah selesai. Dan setiap pencarian selalu dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan apa yang selama ini dianggap biasa.