Aroma Kopi Sedang Meriung di Barru, dari Pujananting hingga Tanete Riaja

  • Whatsapp
  • Arabika lebih banyak diminati karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Namun, tanaman ini membutuhkan perhatian lebih dibandingkan Robusta.
  • “Saya selalu bilang, kita ini senang minum kopi, tetapi kenapa tidak mau menanam kopi? Padahal lahannya luas dan cocok.” Syahrir Kades Gattareng. 

PELAKITA.ID – Pemerintah Kabupaten Barru di bawah kepemimpinan Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakilnya Abustan A. Bintang antusias menjadikan Barru sebagai salah satu kabupaten dengan potensi keekonomian kopi yang besar di Sulawesi Selatan melalui dukungan sarana prasarana, perbenihan hingga pengorganisasian petani kopi.

Hal itu disampaikan Bupati Andi Ina Kartika Sari saat bertemu Pelakita.ID di kediamannya pada Sabtu, 13 Juni 2026.

”Kita memang sedang mendorong desa-desa potensial kopi seperti Gattareng di Pujananting untuk kembangkan kopi,” ucap Andi Ina yang ditemani Kepala Desa Gattareng, Syahrir di rumah dinas Bupati Barru, Sabtu, 13 Juni 2026.

Andi Ina yang telah dua kali berkunjung ke Gattareng ini menyebut, desa-desa di ketinggian Kecamatan Pujananting hingga Tanete Riaja punya potensi besar sebagai penghasil komoditas kopi.

”Saat ini ada lebih seribuan hektar lahan di Barru yang ditanami kopi, bahkan lebih,” kata Andi Ina.

Menurutnya, sudah ada investor atau mitra yang terlibat dalam memperkuat kapasitas petani kopi melalui produksi kopi dengan kualitas tinggi. Salah satunya dengan petani kopi di Desa Gattareng.

Awal tahun ini, Wakil Bupati Barru, Abustan A. Bintang, telah bersua perwakilan PT Sulotco Jaya Abdi, perusahaan yang fokus pada bisnis kopi, dan melakukan kunjungan bersama ke lahan pertanaman kopi milik petani di Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting.

Bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Barru dalam mendorong penguatan sektor perkebunan rakyat, khususnya pengembangan kopi sebagai komoditas unggulan daerah melalui kemitraan strategis.

Sulotco disebut mendampingi dalam manajemen usaha kopi, pengolahan lahan, budidaya, pemasaran dan jadi mitra pemasaran kopi ke end user.

Dengan perkembangan baik seperti itu, kopi asal Kecamatan Pujananting, di mata Andi Ina, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

”Kami ingin pengelolaan yang lebih baik, berkelanjutan, serta ada pendampingan teknis dan penguatan kelompok,” ujar Andi Ina.

Dia berharap dengan atensi Pemerintah Barru untuk kopi ini, ada promosi yang terus menerus, ada tumbuh UMKM pengolah kopi termasuk pembukaan akses pasar.

Untuk saat ini, bentuk dukungan Pemerintah adalah pemberian bantuan bibit kopi yang bersumber dari APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025.

Berdasarkan data tersedia, khusus untuk Kecamatan Pujananting saat ini ada di enam desa dengan total luas sekitar 200 hektare yang dikelola oleh 11 kelompok tani.

Desa Gattareng terdapat 2 kelompok tani, sekitar 30 hektare, Desa Pujananting sebanyak 3 kelompok tani, atau 50 hektare lahan.

Lalu ada Desa Jangan-Jangan sebanyak 1 kelompok tani, atau 20 hektare, Desa Bacu-Bacu sebanyak 2 kelompok tani, atau sekitar 30 hektare, dan beberapa desa lainnya di wilayah Kecamatan Pujananting.

Pengalaman Syahrir, Hampir 2 Dekade Menanam Kopi

Sudah hampir dua dekade Syahrir mengabdikan dirinya sebagai Kepala Desa Gattareng.

Sejak pertama kali dipercaya memimpin pada tahun 2009, ia menyaksikan sendiri berbagai perubahan yang terjadi di desa pegunungan yang berada di wilayah Kabupaten Barru tersebut.

Syahrir lahir dan besar di Gattareng meski kedua orang tuanya berlatar belakang geografi berbeda. Ikatan emosionalnya dengan desa itu begitu kuat. Ibunya berasal dari Barebbo Bone, sementara ayahnya berasal dari Pangkep-Maros.

Karena itu, baginya membangun Gattareng bukan sekadar menjalankan amanah jabatan, tetapi juga merawat kampung halaman yang telah membesarkannya termasuk memanfaatkan lahan pertanian dan perkebunan yang ada.

Di antara berbagai potensi yang dimiliki desa, kopi menjadi komoditas yang paling ia yakini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Menurutnya, kopi sebenarnya bukan tanaman baru di Gattareng.

”Kopi mulai diperkenalkan sekitar tahun 2000 melalui pendampingan seorang penyuluh pertanian perkebunan asal Enrekang bernama Tamrin. Saat itu, kondisi infrastruktur masih menjadi tantangan utama,” ucap Syahrir di kediaman Bupati Barru, Sabtu, 13 Juni 2026.

Akses jalan menuju kebun-kebun warga belum memadai sehingga pengembangan komoditas perkebunan tidak berjalan mudah. Namun para petani tetap mencoba.

Ketika tanaman kopi mulai menunjukkan hasil yang baik, masyarakat perlahan melihat peluang ekonomi yang menjanjikan.

“Kalau tanaman kopi berhasil, masyarakat senang. Dulu yang menjadi masalah justru pemasaran hasilnya,” kenang Syahrir.

Melihat potensi tersebut, ia mulai mendorong masyarakat untuk menanam kopi secara lebih luas.

Bahkan kebun miliknya sendiri dijadikan sebagai lahan percontohan. Dari sana, warga mulai melihat secara langsung bahwa kopi dapat tumbuh baik di kawasan pegunungan Gattareng.

Pemerintah desa pun terus memberikan dukungan melalui berbagai program. Setiap ada kesempatan, Syahrir selalu mengajak masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia untuk ditanami kopi.

“Saya selalu bilang, kita ini senang minum kopi, tetapi kenapa tidak mau menanam kopi? Padahal lahannya luas dan cocok,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini kopi telah menjadi salah satu sumber penghidupan penting bagi masyarakat Gattareng.

Hampir seluruh wilayah desa memiliki kebun kopi, dengan luas tanaman produktif yang diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare.

”Saat ini sebagian besar petani menanam kopi Arabika, meskipun masih ada pula yang masih tetap membudidayakan Robusta,” ujar Syahrir.

Menurut Syahrir, Arabika lebih banyak diminati karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Namun, tanaman ini membutuhkan perhatian lebih dibandingkan Robusta.

“Kalau Arabika, panennya tidak serempak. Hari ini dipetik, dua hari kemudian masih ada buah yang matang. Berbeda dengan Robusta yang lebih mudah dipanen sekaligus,” jelasnya disertai senyum.

Dari sisi ekonomi, kopi memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan. Harga kopi Robusta dapat mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram, sedangkan Arabika memiliki harga yang lebih tinggi tergantung kualitas dan penanganan pascapanennya.

Hingga saat ini, pemasaran kopi masyarakat masih banyak dilakukan secara langsung.

Para pembeli datang dari berbagai daerah, termasuk Makassar, Barru, dan sejumlah wilayah lainnya untuk membeli hasil panen petani secara tunai.

H. Baharuddin (kedua dari kiri) dan anggota Kelompok Saojanging Coffee Pujananting, siap kolaborasi untuk pengembangan kopi Barru (dok: Istimewa)

Model transaksi seperti itu membuat petani lebih memilih menjual langsung kepada pembeli yang datang ke desa. Upaya pengumpulan hasil panen secara kolektif pernah diwacanakan, namun belum berjalan optimal karena kebutuhan petani terhadap pembayaran cepat.

“Kalau pembeli datang dan langsung bayar tunai, masyarakat tentu lebih memilih menjual saat itu juga,” katanya.

Meski demikian, optimisme terhadap masa depan kopi Gattareng terus tumbuh. Banyak lahan yang sebelumnya tidak produktif kini mulai dibuka kembali untuk ditanami kopi.

Kami sebagai pemerintah desa pun terus mendorong perluasan areal tanam agar kopi semakin menjadi penopang ekonomi masyarakat.

Perhatian pemerintah daerah terhadap potensi ini juga mulai terlihat. Menurut Syahrir, Bupati Barru telah beberapa kali berkunjung ke wilayah tersebut untuk melihat langsung perkembangan perkebunan kopi yang dikelola masyarakat.

Bagi Syahrir, dukungan pemerintah daerah sangat penting untuk mempercepat pengembangan kopi Gattareng, baik melalui peningkatan kualitas produksi, penguatan kelembagaan petani, maupun pembangunan infrastruktur yang dapat memperlancar akses dari kebun menuju pasar.

“Kami berharap pemerintah desa dan pemerintah kabupaten dapat berjalan bersama mengembangkan potensi kopi ini. Karena kami yakin kopi bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Gattareng di masa depan,” tuturnya.

Di tengah bentang pegunungan yang masih menyimpan banyak tantangan, kopi telah menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat Gattareng.

Ada Syahrir yang terus bersemangat menanam kopi, komoditas idaman semesta, dan ada PT Sulotco Jaya Abdi, perusahaan yang disebut punya link ke Kopi Kapal Api di Jawa Timur, produsen kopi terbesar di Indonesia.

Kisah Baharuddin dari Desa Harapan Tanete Riaja

Seperti cerita Syahrir dari Desa Gattareng, ada nada seirama dari Desa Harapan terkait tabuhan genderang pertanaman kopi di Barru. Pihaknya pun telah menjajaki kerja sama dengan PT Sulotco Jaya Abdi dan mulai merintis pembibitan kopi di Harapan.

Ada antusiasme dan optimisme yang juga disampaikan oleh Haji Baharuddin, Ketua Kelompok Tani Lajoangin Coffee, sebuah kelompok petani kopi yang dalam setahun terakhir berkembang pesat dan mulai mendapatkan pendampingan teknis untuk meningkatkan kualitas budidaya maupun pascapanen.

“Sejak dulu kopi sebenarnya sudah ada di sini. Hampir setiap rumah punya pohon kopi, tetapi hanya sebatas tanaman pekarangan. Sekarang masyarakat mulai melihat bahwa kopi bisa menjadi usaha yang menjanjikan,” ujar Baharuddin kepada Kamaruddin Azis, dari Pelakita.ID, Sabtu 12 Juni 2026.

Kelompok Tani Lajoangin Coffee mulai mendapatkan pendampingan sejak Agustus 2025, ada Dinas Pertanian Barru, hingga perusahaan mitra seperti Surotco.

“Saat ini kelompok kami memiliki sekitar 61 anggota aktif dan terus bertambah hingga mendekati 70 orang. Luas areal yang dikelola anggota kelompok diperkirakan mencapai sekitar 61 hektar yang tersebar di sejumlah wilayah Desa Harapan,” ungkap Baharuddin.

Baginya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kopi semakin besar.

“Banyak anggota yang sebelumnya hanya memiliki beberapa batang kopi kini mulai menanam hingga ribuan pohon sebagai investasi jangka panjang,” kata dia.

Bibit kopi Robustan milik Kelompok Lajoangin Desa Harapan asal Toraja siap ditanam di Barru)

Dari Tanaman Pekarangan Menjadi Komoditas Harapan

Sejarah kopi di Desa Harapan sesungguhnya bukan cerita baru. Menurut Baharuddin, tanaman kopi telah lama tumbuh di wilayah ini, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai tanaman pelengkap di sekitar rumah warga.

Selama bertahun-tahun kopi belum dipandang sebagai komoditas yang mampu memberikan nilai ekonomi yang signifikan.

“Rendahnya pengetahuan budidaya, keterbatasan akses pasar, serta minimnya pengolahan pascapanen membuat kopi hanya menjadi tanaman sampingan,” sebut Baharuddin.

Dikatakan, situasi itu mulai berubah ketika sejumlah petani melihat peluang pasar kopi berkualitas yang terus berkembang.

Kesadaran tersebut kemudian mendorong terbentuknya kelompok tani yang kini dikenal sebagai Lajoangin Coffee.

“Kendalanya dulu karena orang tidak tahu cara mengelola kopi yang baik. Sekarang harga kopi bagus dan informasi juga semakin terbuka. Anak-anak muda mulai tertarik kembali menanam kopi,” kata Baharuddin.

Saat ini harga kopi Robusta kering mencapai 60 ribu per kilo.

Yang Datang Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Ilmu

Menurut Baharuddin, salah satu faktor yang mendorong semangat petani adalah hadirnya pendampingan dari salah satu perusahaan yang bersedia memberi pendampingan teknis bersama Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Politani Pangkep).

Bantuan yang diberikan tidak berupa hibah uang ataupun sarana produksi dalam jumlah besar. Yang diberikan justru sesuatu yang jauh lebih berharga: transfer pengetahuan.

“Petani mendapatkan bimbingan mulai dari pembibitan, teknik budidaya, pemangkasan tanaman, hingga pengelolaan pascapanen yang menentukan kualitas akhir kopi,” ungkap Baharuddin.

Pendampingan tersebut dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Setelah pelatihan pembibitan, petani kembali mendapatkan bimbingan mengenai teknik pemangkasan dan pemeliharaan tanaman termasuk ditunjukkan bagaimana mengolah kopi dengan mesin pembuka kulit.

“Anak-anak kelompok bilang luar biasa bantuan ini. Kalau ilmu seperti ini harus dibayar seperti kuliah, mungkin biayanya sangat besar. Mereka datang membawa pengetahuan yang selama ini tidak kami miliki,” ujarnya.

Bagi petani kopi, ilmu tersebut menjadi modal utama untuk meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperbaiki daya saing produk mereka di pasar.

Belajar Memahami Kualitas

Salah satu pelajaran penting yang diperoleh petani adalah bahwa harga kopi sangat ditentukan oleh kualitas.

Menurut Baharuddin, selama ini sebagian besar petani hanya memahami kopi sebagai komoditas hasil panen yang langsung dijual.

Padahal, kata dia, kualitas kopi dibentuk oleh banyak tahapan, mulai dari cara memetik buah, proses fermentasi, pengeringan, penyimpanan, hingga pengolahan akhir.

Dalam kunjungan ke fasilitas pengolahan kopi milik mitra, Baharuddin melihat langsung bagaimana kopi dipilah berdasarkan mutu.

Ada kopi dengan kualitas standar, ada kopi premium, bahkan ada kopi specialty yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.

“Kalau asal panen dan jual, nilainya biasa saja. Tetapi kalau prosesnya benar, kualitasnya naik dan harganya juga jauh lebih baik. Di situlah kami mulai memahami bahwa kopi bukan hanya soal menanam,” jelas pria yang mengaku pernah ke Toraja untuk melihat proses budidaya kopi hingga pengolahan.

Kesadaran tersebut perlahan mengubah cara pandang petani anggota kelompoknya terhadap usaha kopi apalagi ada pembinaan dari Pak Kadir dalam hal budidaya kopi.

“Kami melihat ada peluang besar, apalagi saat ini semakin banyak yang tertarik menanam kopi dan menjadi anggota kami,” tambahnya.

H. Baharuddin, Ketua Kelompok Lajangin Coffee Barru (ilustrasi oleh Pelakita.ID)

Mulai Terhubung dengan Pasar

Meski masih dalam tahap pengembangan, anggota kelompok sudah mulai membangun hubungan dengan pasar yang lebih luas.

Sebagian kopi ceri petani telah dipasok kepada mitra usaha kopi, sementara hasil panen lainnya pernah dibawa ke Politani Pangkep untuk diproses lebih lanjut.

“Ini karena kami memang belum punya alatnya,” kata Baharuddin.

Pengalaman tersebut membuka wawasan baru bagi petani bahwa rantai nilai kopi jauh lebih panjang dibanding sekadar menjual hasil panen kepada pengepul.

Hubungan dengan lembaga pendidikan dan pelaku industri juga memberi keyakinan bahwa kopi Desa Harapan memiliki peluang untuk berkembang menjadi komoditas unggulan daerah. Namun demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan pasokan yang berkelanjutan.

Industri membutuhkan kuantitas yang cukup, kualitas yang konsisten, serta kemampuan kelompok untuk menjaga standar produksi.

Karena itu, penguatan organisasi petani menjadi bagian penting dalam proses pengembangan Lajoangin Coffee.

Di balik berbagai aktivitas budidaya yang sedang berlangsung, para petani ternyata menyimpan mimpi yang jauh lebih besar. Mereka berharap suatu saat kopi dari Desa Harapan memiliki identitas yang kuat dan diakui sebagai produk khas Barru.

Baharuddin membayangkan suatu hari nanti kopi yang ditanam petani di wilayahnya dapat memperoleh pengakuan Indikasi Geografis (IG), sebagaimana sejumlah kopi unggulan dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan pengakuan tersebut, kopi tidak hanya menjadi produk pertanian, tetapi juga menjadi identitas wilayah.

“Mudah-mudahan suatu saat kopi kita bisa memiliki Indikasi Geografis. Jadi ketika dibawa keluar daerah, orang tahu bahwa ini kopi dari Harapan, dari Barru,” ujarnya.

Mimpi itu memang masih memerlukan perjalanan panjang. Namun setiap keberhasilan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Saat ini jenis Robusta memang idola petani Harapan namun saat yang sama Kopi Arabika pun menemukan tempat di hati petani.

Lokasi perbenihan kopi Lajoangin Coffee.

Memulai dari Kebun Sendiri

Sebagai ketua kelompok, Baharuddin memilih memberi contoh melalui tindakan nyata. Di lahan pribadinya seluas hampir dua hektar, ia baru memulai penanaman sekitar 900 batang kopi yang kini berusia lima bulan.

Yang menarik, ia mencoba menerapkan pendekatan budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Pengalaman belajar sistem pertanian terintegrasi di Banyuwangi memberinya keyakinan bahwa kopi berkualitas dapat dibangun melalui pendekatan yang lebih berkelanjutan.

“Saya ingin membuktikan dulu. Kalau berhasil, nanti anggota bisa melihat langsung hasilnya. Petani biasanya lebih percaya kalau sudah melihat contoh nyata,” katanya sambil tersenyum.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa transformasi pertanian tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga teladan.

Hari ini, sebagian besar pohon kopi anggota Lajoangin Coffee masih muda. Banyak yang baru ditanam satu hingga dua tahun terakhir. Produksi besar mungkin belum datang dalam waktu dekat. Namun di lereng-lereng Desa Harapan, sesuatu yang lebih penting sedang tumbuh.

Bukan hanya pohon kopi, melainkan optimisme.

Optimisme bahwa desa dapat membangun ekonomi dari potensi yang dimilikinya sendiri. Optimisme bahwa pengetahuan dapat mengubah cara bertani. Optimisme bahwa kopi Barru suatu hari nanti mampu berdiri sejajar dengan berbagai kopi unggulan Nusantara.

Perjalanan itu memang masih panjang. Tetapi seperti kopi yang membutuhkan waktu sebelum menghasilkan buah terbaiknya, masa depan juga sedang disemai perlahan oleh para petani Lajoangin Coffee.

___
Penulis Kamaruddin Azis