Berlangsung Lancar, Rehabilitasi Mangrove Desa Bomaki sebagai Upaya Pemulihan Ekosistem Pesisir di Kabupaten Kepulauan Tanimbar

  • Whatsapp
Meskipun terdapat tantangan di lapangan, kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki telah menghasilkan capaian yang signifikan. Project Coordinator DFW Indonesia, Waode Husmayani mengatakan bahwa melalui Program Social Investment INPEX sejauh ini telah berhasil melakukan pembibitan mangrove sebanyak 2.500 bibit, dan 2.000 bibit di antaranya telah ditanam pada area rehabilitasi seluas ±143 m².

Meskipun terdapat tantangan di lapangan, kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki telah menghasilkan capaian yang signifikan. Project Coordinator DFW Indonesia, Waode Husmayani mengatakan bahwa melalui Program Social Investment INPEX sejauh ini telah berhasil melakukan pembibitan mangrove sebanyak 2.500 bibit, dan 2.000 bibit di antaranya telah ditanam pada area rehabilitasi seluas ±143 m².

PELAKITA.ID – Desa Bomaki merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang berada di wilayah teluk dan memiliki kawasan mangrove seluas mencapai 644,39 hektar.

Kawasan ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, terutama sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi, gelombang laut, serta intrusi air laut.

Selain itu, ekosistem mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, udang, dan organisme pesisir lainnya yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Secara administratif, Desa Bomaki memiliki luas wilayah sekitar 379,08 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 1.146 jiwa yang tersebar di 12 RT.

Kondisi geografis desa yang mendukung menjadikan sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian yang dominan meliputi perkebunan kelapa, sayuran atau palawija, serta tanaman umbi-umbian.

Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini ekosistem mangrove di Bomaki menunjukkan penurunan tutupan vegetasi di beberapa titik akibat eksploitasi yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Eksploitasi tersebut antara lain dengan memanfaatkan pohon mangrove untuk kebutuhan kayu bakar, bahan bangunan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan upaya rehabilitasi sebagai langkah nyata untuk memulihkan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki diawali dengan survei lokasi oleh tim fasilitator DFW Indonesia dan koordinasi bersama Pemerintah Desa, tokoh masyarakat, serta para pemangku kepentingan.

Tahapan ini dilakukan untuk menentukan lokasi prioritas rehabilitasi sekaligus menyusun mekanisme pelaksanaan kegiatan di lapangan agar berjalan efektif dan tepat sasaran.

Dukungan Pemerintah Desa Bomaki menjadi faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kepala Desa bersama perangkat desa mendorong keterlibatan masyarakat dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pembibitan hingga penanaman mangrove.

Tahap pembibitan dilakukan dengan memanfaatkan propagul mangrove yang dikumpulkan langsung oleh masyarakat dari kawasan pesisir. Proses ini tidak hanya bertujuan menyediakan bibit, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dalam memahami dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

Selain itu, kegiatan pembibitan juga melibatkan siswa dan guru sekolah dasar sebagai bagian dari edukasi lingkungan.

Keterlibatan pelajar ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya mangrove dalam menjaga ekosistem pesisir serta keberlanjutan kehidupan laut.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki menghadapi beberapa tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kondisi alam berupa pasang surut dan arus laut yang cukup kuat.

Setelah melalui proses pembibitan selama kurang lebih tiga bulan, kegiatan penanaman mangrove dilaksanakan secara gotong royong.

Kegiatan ini melibatkan masyarakat Desa Bomaki, pelajar, Pemerintah Desa, instansi terkait, aparat TNI dan Polri, serta mitra program. Kolaborasi ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam upaya pemulihan ekosistem pesisir yang terdampak.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, telah berhasil kelompok pengelola mangrove di tingkat desa yang akan bertanggung jawab terhadap pengelolaan, pemantauan, serta keberlanjutan kawasan rehabilitasi.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki menghadapi beberapa tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kondisi alam berupa pasang surut dan arus laut yang cukup kuat.

Kondisi ini menyebabkan sebagian bibit mangrove tercabut dan terbawa arus, sehingga diperlukan penanaman ulang pada beberapa titik lokasi.

Selain faktor alam, tantangan lainnya adalah tingkat partisipasi masyarakat yang masih perlu ditingkatkan. Keterlibatan sebagian organisasi pemuda seperti Karang Taruna serta sebagian masyarakat belum optimal.

Kondisi ini menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat pendekatan sosialisasi, meningkatkan kesadaran kolektif, serta mendorong partisipasi yang lebih luas dalam kegiatan pelestarian mangrove.

Meskipun terdapat tantangan di lapangan, kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki telah menghasilkan capaian yang signifikan. Project Coordinator DFW Indonesia, Waode Husmayani mengatakan bahwa melalui Program Social Investment INPEX sejauh ini telah berhasil melakukan pembibitan mangrove sebanyak 2.500 bibit, dan 2.000 bibit di antaranya telah ditanam pada area rehabilitasi seluas ±143 m².

“Dengan menggunakan metode rumpun berjarak kami bersama dengan masyarakat telah melakukan rehabilitasi mangrove di pesisir Desa Bomaki,” kata Waode.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat sebanyak 250 orang dari berbagai unsur antara lain masyarakat Desa Bomaki, siswa SD Naskat Santo Fransiskus Xaverius Bomaki, perwakilan stakeholder, dan 10 perangkat Pemerintah Desa Bomaki. Keterlibatan multi pihak ini menunjukkan adanya kolaborasi yang kuat dalam mendukung upaya pelestarian ekosistem pesisir di desa Bomaki.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar melalui Dinas Lingkungan Hidup, yang diwakili oleh Yosi A.Fordatkosu, Kepala Bidang Lingkungan, menegaskan bahwa pelestarian mangrove merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Wa Ode Husmayani, menegaskan bahwa rehabilitasi mangrove tidak hanya sekadar kegiatan penanaman, tetapi juga merupakan upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem pesisir.

“Bukan sekedar pembibitan dan penanaman mangrove tapi kegiatan ini juga merupakan bentuk kampanye kesadaran lingkungan bagi masyarakat desa Bomaki agar memiliki rasa tanggungjawab terhadap ekosistem mangrove yang ada desa mereka” kata Waode.

Sementara itu, tokoh masyarakat desa Bomaki, Siter Layan menyampaikan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman baru sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menjaga mangrove yang telah ditanam agar dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat pesisir.

“Kegiatan ini akan berdampak positif bagi warga karena selama ini mereka tidak terlalu peduli dengan isu ini” kata Siter Layan.

Pada kesempatan yang sama, Kaur Pelayanan dan Kesejahteraan Desa Bomaki, Abraham Masombe menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara berbagai pihak, termasuk DFW Indonesia dan INPEX Masela, Ltd..

Abraham berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada tahap penanaman, tetapi dapat terus berlanjut dalam bentuk pemeliharaan, monitoring, serta pengelolaan bersama secara berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat dan lingkungan pesisir.

“Kami berharap pemantauan terhadap program ini akan terus dilakukan dan pemerintah desa akan ikut mengambil tanggungjawab atas keberlanjutannya” kata Abraham.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar melalui Dinas Lingkungan Hidup, yang diwakili oleh Yosi A.Fordatkosu, Kepala Bidang Lingkungan, menegaskan bahwa pelestarian mangrove merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

“Pemerintah daerah mengapresiasi kolaborasi yang telah terbangun serta berharap program ini dapat memberikan dampak yang lebih luas, baik bagi kelestarian lingkungan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat” kata Yosi

Kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Bomaki menjadi bukti bahwa pemulihan ekosistem pesisir membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat dan berkelanjutan.

Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, aparat keamanan, serta dunia pendidikan menjadi kunci keberhasilan program ini.

(JAW)