Bukan Geng Motor, Tapi Remaja Kita yang Kehilangan Arah

  • Whatsapp
Ano 'Orwels' Suparno

Jika ditarik ke belakang, istilah atau fenomena geng motor di Indonesia sudah tercatat sejak tahun 1915, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kala itu muncul komunitas bernama Motorfiets Rijders de Batavia atau kelompok penyuka sepeda motor di Batavia.

Oleh: Ano “Orwels” Suparno

Read More

PELAKITA.ID – Hari ini, secangkir kopi hitam duduk manis di meja. Disajikan dalam cup, sengaja kuminta seperti itu. Kopi ini baru saja tuntas diseduh mesin. Seruputan pertama: tebal, intens, menagih.

Rasa khas kopi spesialis Indonesia. Tak heran, Americano Tanamera ini kerap pulang membawa piala dari berbagai panggung kopi tanah air.

Lalu saya duduk, mendengarkan sayup lagu AI generatif berjudul *Susah Kerja, Susah*.

“Sudah dapat kerja?”
“Belum.”
“Sudah melamar kerja ke mana saja?”
“Tidak ada yang lolos.”

Seruput kopi sekali lagi. Mendalami lirik itu secara saksama. *Susah kerja, susah.* Jika dibaca berulang-ulang, terasa sekali kondisi dan konteks sosial hari ini.

Sebuah jeritan frustrasi. Bukan sekadar keluhan, tetapi soundtrack realitas anak muda sekarang. Lapangan kerja sempit, syarat kerja sering tak masuk akal, sementara upah belum tentu cukup menutup biaya hidup.

Kata “susah” diulang dua kali karena memang itulah yang dirasakan setiap hari.

“Sudah dapat kerja belum?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi sebagian anak muda, pertanyaan itu terasa seperti tekanan. Biasanya muncul saat kumpul keluarga, Lebaran, atau Idul Adha 2026.

Pertanyaan yang tampak biasa, tetapi diam-diam bisa memunculkan rasa malu, insecure, bahkan perasaan gagal. Lingkungan menuntut, tetapi sering kali tidak memberi solusi.

Lalu muncul pertanyaan besar: apakah ada hubungan antara tekanan sosial itu dengan larinya sebagian remaja ke jalanan?

Nah, di sinilah pembaca setia #KopiAno. Tulisan ini hendak mengulas tentang anak-anak remaja yang kini menguasai jalanan pada malam hari.

Bukan hanya di Makassar, tetapi juga di berbagai kota besar lainnya. Negara dan media melabeli mereka dengan satu istilah: geng motor.

Padahal, jika ditarik ke belakang, istilah atau fenomena geng motor di Indonesia sudah tercatat sejak tahun 1915, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kala itu muncul komunitas bernama Motorfiets Rijders de Batavia atau kelompok penyuka sepeda motor di Batavia.

Kelompok ini lahir pada masa Hindia Belanda dan beranggotakan orang-orang Eropa yang tinggal di Batavia.

Namun, fenomena yang kini kita lihat berbeda. Sejak sekitar 2020 hingga 2026, kelompok remaja bermotor mulai identik dengan aksi kekerasan dan kriminalitas jalanan.

Kompleksitas faktor sosial, psikologis, ekonomi, hingga lingkungan membuat sebagian kelompok hobi berubah menjadi kelompok antisosial.

Tetapi pertanyaannya: apakah tepat jika kita terus-menerus menyebut mereka “geng motor”?

Menurut #KopiAno, negara, media, influencer, bahkan aparat kepolisian sebaiknya mulai meninggalkan label tersebut. Sebagai gantinya, gunakan istilah yang lebih manusiawi dan lebih tepat secara sosial: komplotan remaja bermotor atau remaja bermotor yang meresahkan.

Mereka imut, lucu dan nggemesin!

Mengapa ini penting?

Karena kata “geng” membawa stigma yang sangat berat.

Begitu istilah itu disebut, publik langsung membayangkan kriminalitas, kekerasan, dan ancaman sosial. Sekali dicap “geng”, maka sisi manusia dari anak-anak itu hilang.

Mereka tidak lagi dipandang sebagai remaja yang sedang kehilangan arah, tetapi sebagai musuh masyarakat.

Berbeda dengan istilah komplotan remaja bermotor. Kata kuncinya ada pada remaja.

Itu mengingatkan kita bahwa mereka masih anak-anak yang labil, masih bisa dibina, masih terbuka ruang untuk diarahkan.

Sementara kata bermotor hanya menjelaskan alat atau medianya, bukan identitas kriminalnya.

Frasa ini tidak langsung memvonis. Ia lebih menekankan konteks usia dan kemungkinan pembinaan.

#KopiAno juga mencatat bagaimana media-media besar dunia memandang fenomena serupa.

BBC, The Guardian, hingga Reuters cenderung menghindari label “gang” jika pelakunya masih anak-anak atau remaja.

Mereka memilih istilah yang lebih deskriptif dan netral, seperti:

Youths on motorcycles — anak muda di atas motor atau remaja bermotor
Group of teenagers — sekelompok remaja
Juvenile offenders — pelaku kejahatan di bawah umur
Motorcycle-riding teens — remaja pengendara motor

Media-media asing baru menggunakan istilah “gang” jika sudah terbukti sebagai kejahatan terorganisir: memiliki struktur, pimpinan, wilayah kekuasaan, dan pola kriminal berulang. Jika masih berupa tawuran spontan atau kekerasan remaja, istilah yang dipakai biasanya youth violence atau teen brawls.

Karena itu, #KopiAno mengusulkan kepada para pemimpin media dan wartawan: jika tujuan kita adalah pembinaan dan mencari solusi, maka gunakanlah istilah yang lebih edukatif dan lebih manusiawi.

Media tidak hanya bertugas memberitakan. Media juga bertugas membentuk cara pandang publik. Bahasa yang dipilih media akan menentukan apakah negara hadir dengan pendekatan pembinaan atau justru sekadar penghukuman.

Jika frasa geng motor terus diulang-ulang, maka yang muncul adalah rasa dimusuhi di kalangan remaja. Mereka merasa dicap sejak awal. Akibatnya, sebagian justru makin brutal karena merasa tidak lagi punya tempat di masyarakat.

Sementara masyarakat menjadi semakin takut. Yang muncul kemudian hanya satu tuntutan: Tangkap dan penjarakan.

Padahal mungkin yang sedang kita hadapi bukan musuh negara, melainkan anak-anak kita sendiri yang kehilangan arah.

Karena itu, kepada para pejabat, pemegang kekuasaan, dan aparat kepolisian, #KopiAno menyodorkan satu kalimat kunci:

Kita sedang berhadapan dengan anak-anak kita yang salah arah, bukan dengan musuh. Tugas kita bukan melabeli, tetapi mengarahkan.

Sebagai penutup, wahai para pemimpin: jika menghadapi kenakalan remaja di perkotaan, jangan hanya berkata tangkap.

Coba tanya dulu kepada mereka: “Sudah berapa lamaran kerja yang kamu kirim, Dek? Susah ya?”

Karena bisa jadi, sebelum mereka melempar batu di jalanan, mereka lebih dulu dilempari kenyataan hidup yang tak memberi harapan.

___
Ano Suparno

Praktisi Komunikasi Media dan Digital — Jurnalis

Related posts