Selayar, Taka Bonerate, dan Harapan yang Masih Menanti

  • Whatsapp
Ilustrasi penulis dengan latar belakang peta Taka Bonerate (dok: Istimewa)

Selayar bukan hanya tempat tinggal, tetapi identitas, warisan, dan masa depan kami semua, termasuk bagi teman-teman difabel yang juga berhak menikmati keindahan dan manfaat dari wilayah yang luar biasa ini.

Oleh: Abdul Rahman (Daeng Gusdur) – Aktivis Difabel Sulawesi Selatan

PELAKITA.ID – Duduk bersandar di pinggir jendela, angin sore ini berhembus pelan menyapa wajah.

Aku menanti detik-detik berkumandangnya azan Maghrib, tanda tibanya waktu berbuka puasa Arafah yang penuh keberkahan ini.

Hati terasa tenang dan syukur tercurah karena masih diberi kesempatan menjalani ibadah yang begitu mulia.

Sambil menunggu, aku pun membuka ponsel, menggulir daftar status WhatsApp orang lain satu per satu.

Tiba-tiba pandanganku terhenti dan tertuju pada status yang dibagikan seorang senior.

Isinya menceritakan tentang keindahan Laut Flores dan kawasan Taka Bonerate di perbatasan antara Selayar dan Flores.

Segera teringat obrolan kami kemarin, saat beliau sempat bercerita bahwa dirinya sudah pernah berada di Selayar semenjak tahun 1995.

Kata-kata itu langsung membuka lembaran kenangan yang lama tersimpan di benakku.

Segera terbayang kembali kejadian tahun 2009, tepat di masa kepemimpinan Bapak Syahrul Yasin Limpo selaku Gubernur Sulawesi Selatan, pemerintah provinsi secara resmi menggagas, merancang, dan menyelenggarakan Ekspedisi Taka Bonerate yang besar dan bersejarah itu, berlangsung tanggal 26–29 November 2009.

Keberangkatan kami dilakukan dengan menumpang KRI Makassar 590, kapal perang milik TNI Angkatan Laut yang menjadi sarana utama membawa seluruh rombongan, berangkat dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar menuju perairan Selayar.

Dalam perjalanan bersejarah itu, turut hadir dan memimpin langsung: Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Wakil Gubernur Agus Arifin Nu’mang, Bupati Kepulauan Selayar saat itu, serta sejumlah pejabat tinggi provinsi dan kabupaten.

Termasuk Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, kepala dinas terkait lainnya, para peneliti, awak media, dan ratusan peserta dari berbagai kalangan.

Kegiatan ini diselenggarakan atas dasar kesadaran mendalam bahwa kawasan ini memiliki kekayaan alam luar biasa sebagai salah satu atol terbesar dan terindah di dunia.

Namun kala itu masih belum dikenal luas, belum terpetakan sepenuhnya, dan belum mendapatkan perhatian serta pengelolaan yang layak.

Tujuannya sangat jelas: memetakan seluruh potensi alam, budaya, dan pariwisata; memperkenalkan keindahannya ke tingkat nasional dan internasional; serta menetapkan langkah dasar perlindungan dan pengembangan agar aset berharga ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan tetap lestari.

Inilah langkah terbesar dan paling awal yang pernah dilakukan pemerintah provinsi, menjadi titik tolak harapan bagi kami warga Selayar.

Sebagai anak asli tanah ini, rasa bangga dan antusiasme meluap-luap tak terbendung, dan aku pun beruntung bisa turut serta dalam rombongan perjalanan bersejarah tersebut.

Masih teringat jelas perjalanan panjang yang kami tempuh.

Berangkat dari Makassar, kapal membelah luasnya samudra yang beriak, menuju Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar.

Dari sana, perjalanan belum berakhir.

Kami masih harus berlayar berjam-jam lamanya, menyusuri perairan biru jernih yang luas, hingga akhirnya tiba di Taka Bonerate.

Berjam-jam berada di atas lautan, melewati pulau-pulau kecil yang berserakan bagai permata, menyaksikan langsung kekayaan alam luar biasa yang dikaruniakan Tuhan untuk kampung halamanku.

Karena rasa penasaran yang makin mendalam, aku pun segera membuka Google dan mencari segala hal tentang keindahan Taka Bonerate.

Aku mencari kapan kawasan ini pertama kali ditemukan dan diakui dunia, siapa saja yang sudah meneliti, buku-buku yang menulis tatanan kehidupan masyarakat di sana, hingga apa saja program yang sudah dan sedang dilakukan pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk pariwisata di wilayah ini.

Hasil penelusuran itu membuka wawasan yang lebih luas.

Ternyata kawasan Taka Bonerate pertama kali ditemukan dan dicatat secara ilmiah pada tahun 1840.

Setelah melalui berbagai kajian dan pengakuan internasional, kawasan ini secara resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia pada tahun 2017.

Ini menjadi bukti sahih bahwa nilai keindahan, keunikan, dan kelestariannya telah diakui dunia, jauh sebelum kita berbicara soal pembangunan pariwisata.

Ternyata juga sudah banyak peneliti yang datang sejak puluhan tahun lalu, mencatat segala kekayaan alam dan budaya ini.

Ada peneliti asal Belanda bernama D.J.S. Kriebel yang menulis tentang pulau ini sejak tahun 1920.

Juga ada Harald Beyer Broch, peneliti asal Norwegia yang bertahun-tahun mengamati dan menulis buku serta tulisan ilmiah sekitar tahun 1985 hingga 1987, menguraikan cara hidup, adat istiadat, dan cara masyarakat memanfaatkan laut di sini.

Di Indonesia sendiri, para peneliti dari LIPI dan universitas juga banyak menulis, salah satunya karya tentang masyarakat dan sumber daya alam terbit sekitar tahun 2014–2019 yang menggambarkan hubungan erat warga dengan laut dan aturan adat mereka.

Sebagai anak daerah yang dikenal luas sebagai Daeng Gusdur, aktivis difabel yang lahir dan tumbuh besar di Selayar, aku merasa terpanggil untuk menulis ini.

Sepanjang perjalanan hidup dan perjuanganku memperjuangkan hak dan kesetaraan, aku selalu melihat bahwa kemajuan dan kesejahteraan tidak bisa terpisah dari bagaimana kita menghargai dan menjaga apa yang dimiliki oleh tanah kelahiran kita.

Selayar bukan hanya tempat tinggal, tetapi identitas, warisan, dan masa depan kami semua, termasuk bagi teman-teman difabel yang juga berhak menikmati keindahan dan manfaat dari wilayah yang luar biasa ini.

Tulisan ini aku tuangkan sebagai wujud cinta, keprihatinan, dan harapan agar apa yang ada di sini tetap terjaga, berkembang, dan memberi manfaat seluas-luasnya.

Mengenai upaya pengembangan, aku juga menemukan beberapa rencana dan program yang digulirkan pemerintah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sempat merencanakan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bira-Taka Bonerate yang bertujuan mengembangkan pariwisata dan investasi, serta menjadikan kawasan ini destinasi unggulan internasional.

Ada juga rencana pengadaan pesawat amfibi atau seaplane untuk memudahkan akses wisatawan langsung ke kawasan ini, bahkan menghubungkannya hingga ke Labuan Bajo.

Selain itu, ada upaya pembenahan jalan-jalan utama seperti ruas Tanabau–Ngapaloka–Patumbukang sepanjang 10,45 kilometer guna melancarkan perjalanan dari daratan menuju pelabuhan keberangkatan ke pulau-pulau.

Tak ketinggalan, rute penerbangan Makassar–Selayar sempat dihidupkan kembali dengan dukungan subsidi agar lebih mudah dijangkau.

Di tingkat kabupaten, pernah diadakan Festival Cagar Biosfer Taka Bonerate sebagai langkah mengenalkan sekaligus mengajak menjaga warisan alam ini.

Namun, saat aku telusuri lebih dalam dan membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada di depan mata, hati ini kembali berat.

Segala rencana besar itu masih sebatas wacana, proyek yang belum tuntas, atau baru sekadar dimulai.

Hingga hari ini, belum ada hasil nyata yang benar-benar terasa dampaknya di lapangan.

Belum ada perubahan besar yang menjamin keindahan ini terjaga dan berkembang.

Padahal ekspedisi tahun 2009 itu sudah memberikan data lengkap dan arah yang jelas, namun sayang sekali tindak lanjutnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Lebih menyedihkan lagi, di tengah keindahan yang masih tersisa ini, kenyataan pahit tetap menghampiri.

Masih ada beberapa oknum nelayan yang demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari masih menggunakan cara-cara yang merusak alam.

Mereka melakukan penangkapan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, yang perlahan namun pasti menggerus dan merusak terumbu karang serta ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan mereka sendiri.

Belum lagi masalah besar yang kini semakin terasa nyata: abrasi pantai yang melanda hampir seluruh wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kepulauan Selayar.

Air laut perlahan-lahan menggerus daratan, mengikis bibir pantai, dan mengancam tempat tinggal warga serta kelestarian pulau-pulau itu sendiri.

Hingga kini, upaya penanggulangan dan perlindungan daratan dari ancaman abrasi ini pun belum terlihat langkah nyata dan seriusnya.

Aku pun tak bisa tidak membandingkan kondisi ini dengan daerah lain di Sulawesi Selatan.

Mengapa pengembangan dan perhatian terhadap pariwisata di Kabupaten Selayar terasa sangat jauh berbeda, bahkan tertinggal jauh, jika dibandingkan dengan kawasan Bira di Kabupaten Bulukumba atau Tana Toraja?

Di sana, perhatian, perencanaan, dan keseriusan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat sangat jelas terlihat.

Fasilitas lengkap, akses mudah, promosi gencar, dan pengelolaan yang terstruktur menjadikannya tujuan wisata utama yang dikenal dunia.

Sementara di Selayar, meski memiliki keindahan yang tak kalah hebat, justru seolah terabaikan.

Di mana letak keseriusan dan peran nyata dari Pemerintah Kabupaten Selayar, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, maupun Pemerintah Pusat untuk mengangkat dan menjaga wilayah ini?

Mengapa potensi sebesar ini belum mendapatkan porsi yang sama besarnya dalam pembangunan pariwisata kita?

Dari pencarian itu, aku makin paham: Laut Flores dan Taka Bonerate Selayar adalah dua wajah keindahan dalam satu perbatasan yang sama.

Di hamparan luas Laut Flores, di perbatasan antara Selayar dan Nusa Tenggara, terhampar dua keajaiban alam yang seolah diciptakan Tuhan dengan penuh kesempurnaan.

Air Laut Flores berwarna biru pekat bergradasi hijau muda, sebening kaca hingga dasar laut terlihat jelas dari permukaan.

Arus laut yang mengalir membawa nutrisi berlimpah, menjadikan perairan ini sangat subur dan penuh kehidupan.

Dinding bawah laut yang curam, gugusan karang raksasa, hingga padang lamun yang luas menjadi tempat tinggal ribuan jenis ikan berwarna-warni, penyu, pari, hingga kawanan lumba-lumba yang sering terlihat berenang bebas.

Keindahannya liar, alami, dan sangat murni.

Belum banyak tersentuh, menyimpan rahasia alam yang masih utuh.

Dan di ujung selatan Sulawesi, di perbatasan Selayar dan Flores, terletak Taman Nasional Taka Bonerate, atol terbesar ketiga di dunia dan yang terluas di Asia Tenggara.

Namanya berarti “pulau karang di atas pasir”, gambaran tepat dari bentuknya: gugusan pulau-pulau kecil berpasir putih dikelilingi laguna biru jernih dan terumbu karang raksasa yang melingkar seluas lebih dari 530.000 hektare.

Di bawah permukaannya ada dunia lain: 242 jenis karang, 526 jenis ikan hias, serta berbagai hewan laut langka seperti penyu sisik, hiu karang, dan ikan napoleon yang berenang bebas di antara dinding karang yang megah.

Kejernihan airnya bisa mencapai 30 meter, seolah membiarkan kita melihat langsung ke dalam surga bawah laut ini.

Pertanyaan besar kini terus menghantui benak kami, putra daerah.

Apakah Selayar dan keindahan Taka Bonerate ini akan tetap bertahan dan lestari di tengah ancaman kerusakan dan abrasi ini?

Atau beberapa puluh tahun ke depan, semua keajaiban ini hanya akan menjadi cerita masa lalu, tinggal kenangan yang kami kisahkan kepada anak cucu karena belum terjaga dan terkelola dengan baik?

Tempat yang begitu megah, taman wisata bahari berkelas dunia yang setara bahkan melebihi tempat-tempat terkenal di luar negeri ini, hingga saat ini rasanya belum mendapatkan perhatian dan pengelolaan yang sepenuhnya layak.

Belum mendapatkan keseriusan yang sama seperti daerah lain.

Padahal potensinya begitu besar.

Jika dikelola, dijaga, dilindungi, dipromosikan, dan dikembangkan dengan sungguh-sungguh hingga selesai dan berjalan, maka Taka Bonerate dan keindahan Laut Flores ini bisa menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan.

Tempat ini juga dapat menjadi tujuan wisata bertaraf internasional yang mampu membawa dampak ekonomi luar biasa bagi masyarakat setempat dan daerah secara keseluruhan, serta membuka akses dan peluang bagi semua kalangan tanpa terkecuali.

Namun sampai saat ini, keindahan yang mempesona itu masih terbaring sunyi, menanti langkah nyata yang sungguh-sungguh untuk mengangkat dan menjaganya.

Sore ini, di sela-sela menunggu waktu berbuka, harapan dan doa terus terucap dalam hati.

Semoga kelak, pesona Selayar, keagungan Taka Bonerate, dan keelokan Laut Flores benar-benar mendapatkan sorotan, perlindungan, dan perhatian yang selayaknya.

Semoga ada langkah nyata, tegas, dan berkelanjutan untuk menghentikan kerusakan, menanggulangi abrasi, dan menjaga warisan ini agar tetap ada.

Semoga juga keseriusan pemerintah, mulai dari kabupaten hingga pusat, hadir sama besarnya seperti yang dirasakan daerah lain sehingga Selayar tidak lagi tertinggal.

Agar bukan hanya kami, putra daerah, atau mereka yang sudah datang sejak puluhan tahun lalu yang mengenal keindahan tempat itu, melainkan seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia bisa datang, melihat, dan menikmati keajaiban ciptaan Tuhan yang ada di ujung selatan Sulawesi ini — bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk masa depan nanti.

#PuasaArafah #KenanganSelayar #EkspedisiTakabonerate2009 #KRI_Makassar590 #SyahrulYasinLimpo #AgusArifinNumang #KeindahanLautFlores #TakaBonerateSelayar #SurgaBawahLaut #WarisanDunia #PariwisataDunia #PotensiDaerah #AncamanKerusakan #AbrasiPantai #PerlindunganLingkungan #PenelitiDanBuku #ProgramPemerintah #PerbandinganDaerah #HarapanPutraDaerah #IndonesiaBagianTimur #MenungguBukaPuasa #PerhatianPemerintah #Jejak1993 #MenantiMasaDepan