Oleh Aisya Sofianita (Mahasiswa FKM Universitas Hasanuddin_
PELAKITA.ID – Di tengah tuntutan zaman yang serba cepat dan kompetitif, pertanyaan paling mendasar yang sering kali justru terlewatkan adalah: siapa aku sebenarnya?
Bagi saya, pertanyaan ini bukan sekadar refleksi personal, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam memahami arah hidup, termasuk dalam melihat potensi sebagai seorang wirausahawan.
Saya lahir dan tumbuh di Makassar, dalam keluarga sederhana yang kaya akan nilai.
Dari orang tua, saya belajar bahwa hidup tidak hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang sikap—kejujuran, tanggung jawab, serta kebiasaan kecil seperti menghargai orang lain.
Nilai-nilai inilah yang diam-diam membentuk cara saya memandang dunia, termasuk dalam menyikapi tantangan dan peluang.
Perjalanan hidup saya tidak selalu berjalan lurus. Sejak kecil, saya terbiasa didorong untuk berprestasi dan sempat merasakan berada di posisi teratas di kelas.
Saya juga pernah mengalami penurunan, yang kemudian menyadarkan bahwa mempertahankan sesuatu sering kali lebih sulit daripada meraihnya.
Dari pengalaman sederhana hingga kegagalan kecil, saya belajar bahwa setiap orang memiliki prosesnya masing-masing—dan proses itu tidak bisa dipercepat.
Memasuki masa remaja, saya mulai mengenal dunia di luar akademik. Fotografi, videografi, hingga debat menjadi ruang eksplorasi yang membuka wawasan bahwa belajar tidak hanya terjadi di dalam kelas.
Pada fase yang sama, saya juga berhadapan dengan diri sendiri—menutup diri, merasa kurang percaya diri, hingga perlahan belajar untuk bangkit.
Lingkungan pertemanan yang suportif menjadi salah satu faktor penting yang membantu saya tumbuh lebih berani dan terbuka.
Kini, sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat, saya menyadari bahwa dunia perkuliahan membawa dinamika yang jauh lebih kompleks.
Tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang kemandirian dan cara beradaptasi dengan berbagai karakter manusia.
Realitas tidak selalu berjalan ideal; ada kompetisi yang tidak sehat dan batasan-batasan yang kadang tidak terlihat. Dari situ, saya belajar untuk tetap memegang nilai yang diyakini tanpa kehilangan arah.
Lalu, di mana posisi saya dalam dunia kewirausahaan?
Menjadi wirausahawan bagi saya bukan sekadar membangun usaha dan menghasilkan keuntungan. Lebih dari itu, ia berkaitan dengan karakter—keberanian mengambil risiko, ketangguhan menghadapi ketidakpastian, serta kemampuan membaca peluang di tengah keterbatasan.
Dalam konteks ini, semangat kemaritiman terasa relevan sebagai metafora: keberanian untuk berlayar meski arah angin tidak selalu pasti.
Potensi diri saya terlihat dalam hal-hal yang mungkin sederhana: ketertarikan pada estetika, kemampuan dalam fotografi dan desain, serta kepekaan dalam memadukan sesuatu menjadi lebih menarik.
Minat pada bidang makanan, minuman, dan fashion membuka kemungkinan untuk mengembangkan usaha di masa depan.
Di era digital, kemampuan tersebut bukan sekadar hobi, melainkan modal penting dalam membangun identitas dan branding.
Saya juga menyadari adanya kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Rasa ragu untuk memulai, ketakutan akan kegagalan, serta kecenderungan bertahan di zona nyaman masih sering muncul.
Pengalaman mengikuti program wirausaha dengan ide kopi non-kafein yang belum berhasil lolos menjadi titik refleksi penting.
Kegagalan tersebut sempat menimbulkan keraguan, tetapi juga memberikan pelajaran bahwa mencoba merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses.
Pemahaman tersebut mengubah cara pandang saya terhadap diri sendiri. Wirausaha tidak menuntut kesempurnaan sejak awal, melainkan kesiapan untuk belajar, mencoba, dan memperbaiki diri secara berkelanjutan. Kesadaran ini perlahan membangun keberanian untuk melihat peluang dengan cara yang lebih terbuka.
Untuk saat ini, saya memilih tidak terburu-buru terjun sepenuhnya ke dunia usaha. Fokus utama diarahkan pada penguatan fondasi melalui pengalaman kerja dan kestabilan finansial.
Keinginan untuk memiliki usaha tetap menjadi bagian dari rencana jangka panjang, sebagai ruang untuk berkembang, bereksperimen, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Pada akhirnya, saya adalah seseorang yang masih berada dalam proses—proses mengenal diri, memahami potensi, dan membangun keberanian.
Menjadi wirausahawan bukan hanya tentang apa yang dimiliki hari ini, tetapi tentang sejauh mana seseorang mau belajar dan bertumbuh. Di situlah awal perjalanan itu menemukan maknanya.
___
Editor Denun















