Andi Prawika Utary | Patriarki dalam Hal-Hal Kecil yang Sering Kita Abaikan

  • Whatsapp
Ilustrasi momen di satu cafe (image by ChatGPT)
  • Jika kita perhatikan lebih lekat, hal kecil tersebut sebenarnya sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Misalnya sesederhana dalam memilih minuman di kedai kopi, seorang barista mungkin berkata kepada pelanggan perempuan yang memesan kopi, “Tapi kak, Americano itu kopi hitam.”

 

PELAKITA.ID – Beberapa pekan yang lalu, dalam kelas perkuliahan Teori Filsafat dan Gender, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA , dosen pengampu mata kuliah, menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana namun tertinggal menjadi pertanyaan-pertanyaan besar dalam otak.

Beliau menyampaikan bahwa patriarki tidak hadir begitu saja sebagai sesuatu yang kerap terlihat di masyarakat, melainkan dibentuk oleh sistem sosial yang panjang dan terus diamini dari generasi ke generasi.

Read More

Sistem ini diperkuat oleh berbagai institusi sosial, termasuk pendidikan, budaya, media, hingga pola asuh dalam keluarga.

Dari ruang keluarga yang paling kecil, nilai-nilai tersebut perlahan berkembang dalam masyarakat dan membentuk batas-batas tentang apa yang “boleh” dan “tidak boleh” dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki.

Batas-batas ini sering kali tidak tertulis, namun begitu kuat tertanam dalam lingkungan tempat kita bertumbuh.

Tanpa disadari, hal-hal ini menjadi semacam norma sosial yang mengatur perilaku hingga cara kita menilai orang lain.

Dalam konteks inilah patriarki bekerja secara pelan dan senyap melalui kebiasaan, candaan, dan asumsi sehari-hari yang tampaknya sepele.

Motif tersembunyi

Jika kita perhatikan lebih lekat, hal kecil tersebut sebenarnya sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya sesederhana dalam memilih minuman di kedai kopi, seorang barista mungkin berkata kepada pelanggan perempuan yang memesan kopi, “Tapi kak, americano itu kopi hitam.”

Kalimat ini mungkin terdengar seperti sekadar memastikan pesanan pelanggan. Namun dibaliknya tersimpan asumsi bahwa perempuan biasanya tidak menyukai kopi hitam yang pahit.

Pun, kita juga sering mendengar candaan ketika seorang laki-laki memesan minuman manis, “Hah? Es coklat? Edede, manis begitu, tidak cocok.”

Candaan semacam ini mungkin dimaksudkan sebagai gurauan ringan di antara teman. Namun jika ditelaah lebih dalam, ia menunjukkan bagaimana pilihan pesanan minum pun kerap dikaitkan dengan konstruksi maskulinitas dan feminitas.

Hal ini menjadi contoh kecil bagaimana setiap pandangan orang yang membagikan aktivitas harian sebagai kegiatan yang merujuk pada perempuan dan laki-laki.

Minuman pahit diasosiasikan dengan laki-laki yang dianggap kuat, sementara minuman manis dilekatkan pada perempuan yang dianggap lembut.

Padahal, pada kenyataannya, pilihan minuman hanyalah soal selera pribadi. Tidak ada hubungan biologis yang membuat kopi hitam lebih maskulin atau es coklat lebih feminin. Namun karena stereotip tersebut terus diulang dalam percakapan sehari-hari, lama-kelamaan ia terasa wajar dan bahkan tidak lagi dipertanyakan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk diskriminasi yang terang-terangan.

Ia juga hidup dalam bentuk stereotip kecil yang tampaknya tidak berbahaya, tetapi perlahan membentuk cara pandang kita terhadap gender.

Contoh lainnya dapat kita temukan dalam komentar-komentar spontan yang sering muncul di ruang publik.

Siapa yang tidak pernah mendengar kalimat seperti, “Pasti perempuan yang menyetir ini, makanya lama sekali parkir”?

Kalimat tersebut sering diucapkan setengah bercanda, namun sebenarnya memuat asumsi bahwa perempuan kurang kompeten dalam mengemudi dibandingkan laki-laki.

Begitu pula dengan candaan yang sering muncul dalam tongkrongan, seperti, “Kucing kalau dikasih ikan asin mana bisa nolak, bro.”

Dalam metafora tersebut, laki-laki dianalogikan sebagai kucing yang tidak mampu menahan diri, sementara perempuan diposisikan sebagai “ikan asin” yang menjadi objek.

Candaan seperti ini bukan hanya memandang perempuan sebagai objek, tetapi juga secara tidak langsung menormalisasi perilaku laki-laki yang dianggap tidak mampu mengendalikan diri.

Yang menarik dan sekaligus mengkhawatirkan, adalah kenyataan bahwa stigma-stigma tersebut tidak selalu dilakukan oleh satu kelompok tertentu saja.

Sering kali kita sendiri, baik perempuan maupun laki-laki, ikut melanggengkan melalui komentardan candaan yang tampaknya sepele.

Tanpa disadari, kita menjadi bagian dari konstruksi sosial yang terus mempertahankan stereotip gender.

Perspektif gender

Dalam perspektif gender, fenomena ini menunjukkan bahwa ketimpangan tidak hanya terbentuk melalui struktur besar seperti kebijakan atau institusi, tetapi juga melalui praktik sosial sehari-hari.

Hal-hal kecil yang terus diulang dapat membentuk cara berpikir tentang peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat.

Padahal jika kita melihatnya secara lebih rasional, tidak ada suatu hal yang mutlak dimiliki oleh satu gender saja.

Laki-laki bisa menyukai warna pink tanpa kehilangan identitasnya sebagai laki-laki, ia juga berhak mengekspresikan emosi dan menangis tanpa harus dianggap lemah.

Sebaliknya, perempuan bisa memanjat pohon, berpetualang, atau menekuni bidang yang selama ini dianggap maskulin.

Kebebasan untuk menjadi diri sendiri seharusnya menjadi hak setiap individu, bukan sesuatu yang dibatasi oleh stereotip sosial.

Ketika seseorang memilih sesuatu yang berbeda dari ekspektasi gender yang berlaku, seharusnya itu dilihat sebagai ekspresi personal, bukan sebagai penyimpangan dari norma.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius, perspektif ini sebenarnya memiliki landasan yang kuat.

Perlu refleksi diri

Dalam ajaran Islam, misalnya, manusia tidak dinilai berdasarkan jenis kelamin, status sosial, ataupun latar belakang budaya.

Ukuran kemuliaan manusia di hadapan Tuhan adalah ketakwaan dan amal saleh. Hal ini menegaskan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia laki-laki atau perempuan, melainkan oleh kualitas moral dan perbuatannya.

Dengan kata lain, agama pun tidak memberikan kita alasan untuk merendahkan atau membatasi seseorang hanya karena identitas gendernya.

Karena itu, penting bagi kita untuk mulai merefleksikan kembali kebiasaan-kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah candaan yang kita ucapkan masih mengandung stereotip gender? Apakah komentar spontan yang kita lontarkan tanpa sadar memperkuat stigma terhadap kelompok tertentu?

Kesadaran kritis semacam ini merupakan langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan setara.

Perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kita bisa memulainya dari dari cara kita berbicara, bercanda, dan memandang orang lain.

Jika kita mampu mengurangi stereotip dalam hal-hal kecil, maka secara perlahan kita juga ikut melemahkan struktur patriarki yang selama ini dianggap normal.

Pada akhirnya, masyarakat yang setara bukanlah masyarakat yang menghapus perbedaan antara laki-laki dan perempuan, melainkan masyarakat yang memberi ruang bagi setiap individu untuk berkembang tanpa dibatasi oleh label-label yang tidak perlu.

__
Penulis: Andi Prawika Utary,
-Mahasiswa S2 Gender dan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Unhas.
-Ex co-team The Floating School


Editor Denun

Related posts