Muharram, Asyura, dan Hijrah Kesadaran

  • Whatsapp
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Puncak spiritual Muharram berada pada 10 Muharram, Hari Asyura. Dalam berbagai riwayat, tanggal tersebut menjadi saksi pertolongan Allah kepada para nabi.

Nabi Adam AS diterima taubatnya, Nabi Nuh AS berlabuh setelah banjir besar, Nabi Ibrahim AS selamat dari api, Nabi Yusuf AS keluar dari penjara, dan Nabi Musa AS terbebas dari kejaran Fir’aun.

Namun Asyura juga mengingatkan dunia pada Karbala, tempat Sayyidina Husain bin Ali gugur demi mempertahankan kebenaran. Jika para nabi mengajarkan harapan, Husain mengajarkan keberanian.

Jika kisah-kisah keselamatan mengajarkan pertolongan Tuhan, Karbala mengajarkan harga yang harus dibayar untuk menjaga martabat.

Seluruh kisah itu menyampaikan satu pesan yang sama: keselamatan lahir setelah kesabaran.

Muharram bukan sekadar awal tahun dalam kalender Hijriah. Dalam bahasa Arab, Muharram berarti yang dimuliakan. Ia termasuk salah satu dari empat asyhurul hurum, bulan-bulan suci yang mengingatkan manusia agar tidak menzalimi dirinya dengan kelalaian, keserakahan, dan lupa kepada Tuhan.

Penanggalan Hijriah yang ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW ataupun kemenangan besar umat Islam, melainkan dari peristiwa hijrah. Seolah sejarah ingin mengajarkan bahwa kemajuan peradaban selalu berawal dari keberanian untuk berubah.

Di tengah dunia modern saat ini,  Muharram datang mengajak manusia melakukan muhasabah: menghitung bukan berapa usia yang bertambah, melainkan berapa makna yang telah ditanam.

Sebab waktu yang berlalu tanpa kesadaran hanyalah angka, sedangkan waktu yang diisi refleksi akan menjadi hikmah.

Asyura menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Laut Merah mungkin tidak lagi terbelah di hadapan kita, tetapi manusia modern tetap berhadapan dengan “laut-laut” kesulitan berupa kecemasan, ketidakpastian ekonomi, krisis moral, dan kegelisahan batin. Api Namrud mungkin telah padam, tetapi api kesombongan, kebencian, dan ambisi masih membakar banyak jiwa.

Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku sendiri.” Barangkali itulah makna terdalam Muharram: hijrah terbesar bukanlah perpindahan tempat, melainkan perpindahan kesadaran.

Karena itu, puasa Asyura, sedekah, zikir, dan doa bukan sekadar ritual tahunan. Semua itu adalah latihan untuk membersihkan hati, menundukkan ego, dan memperkuat kepedulian kepada sesama.

Muharram mengajarkan bahwa peradaban tidak dibangun hanya oleh teknologi dan kekuasaan, tetapi oleh manusia-manusia yang mampu berdamai dengan dirinya dan dekat dengan Tuhannya.

Ketika malam Asyura tiba, dengarkanlah bisikan sejarah. Dari bahtera Nuh, dari api Ibrahim, dari kesabaran Yusuf, dari keberanian Husain, semua menyampaikan pesan yang sama: jangan putus asa terhadap rahmat Allah, dan jangan pernah lelah memperjuangkan kebenaran.

Sebab pada akhirnya, hijrah sejati adalah perjalanan tanpa akhir dari diri yang lama menuju diri yang lebih bercahaya.
_____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.