Potensi dan Agenda Pembangunan Kelautan dan Perikanan Barru, Asa Baru dari Kampung Nelayan Merah Putih

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID
  • Selain perikanan tangkap, Barru juga menunjukkan perkembangan yang kuat pada sektor budidaya. Udang vaname menjadi komoditas unggulan dengan produksi mencapai 4.377 ton pada tahun 2024. Budidaya rumput laut menghasilkan 1.198 ton dan memiliki prospek yang terus meningkat seiring tingginya permintaan pasar.
  • Dukungan sarana pembenihan menjadi salah satu faktor utama keberhasilan sektor ini. Kecamatan Balusu memiliki 35 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dan satu hatchery, sementara Kecamatan Mallusetasi memiliki 29 UPR dan delapan hatchery, jumlah terbanyak di Kabupaten Barru.

PELAKITA.ID – Di sepanjang pesisir barat Sulawesi Selatan, Kabupaten Barru menyimpan potensi kelautan dan perikanan yang menjadi salah satu fondasi penting perekonomian daerah.

Dalam perspektif kepemimpinan Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, dan Wakil Bupati Barru, Abustan A. Bintang, potensi kelautan dan perikanan bukan sekadar sektor ekonomi tradisional, melainkan salah satu mesin utama pertumbuhan daerah di masa depan.

“Besarnya produksi perikanan tangkap, berkembangnya budidaya udang vaname dan rumput laut, serta hadirnya infrastruktur strategis seperti Kampung Nelayan Merah Putih menjadi modal penting untuk mengakselerasi kesejahteraan masyarakat pesisir,” sebut Andi Ina saat bertemu Pelakita.ID, pada 12 Juni 2026 di kediaman Bupati Barru.

Disebutkan Andi Ina, Pemerintah Kabupaten Barru memandang bahwa laut harus menjadi ruang produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong lahirnya pelaku usaha baru berbasis ekonomi maritim.

Karena itu, jelas Ina, visi pembangunan yang diusung tidak berhenti pada peningkatan volume produksi semata, tetapi diarahkan pada penguatan rantai nilai perikanan dari hulu hingga hilir.

Ilustrasi oleh Pelakita.ID/Notebook LM

“Kehadiran fasilitas pembenihan, pabrik es, cold storage, industri pengolahan, hingga Kampung Nelayan Merah Putih di Tanete Rilau diharapkan menjadi fondasi bagi transformasi sektor perikanan Barru yang lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan,” responnya saat ditanya posisi KNMP di Barru.

Andi Ina menilai, dengan sinergi antara pemerintah, nelayan, pembudidaya, pelaku usaha, dan masyarakat pesisir, Barru memiliki peluang besar untuk menjelma sebagai salah satu pusat ekonomi biru unggulan di Sulawesi Selatan, di mana kemajuan daerah tumbuh seiring meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Kata data dan agenda pembangunan kelautan dan perikanan

Dengan lebih dari separuh desa dan kelurahannya berada di kawasan pesisir, Barru tidak hanya mengandalkan laut sebagai sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga sebagai ruang strategis untuk membangun ekonomi biru yang berkelanjutan.

Data Barru Regency in Figures 2026 menunjukkan bahwa sekitar 50,91 persen desa dan kelurahan di Barru berada di tepi laut.

Kondisi geografis tersebut menjadi modal utama bagi berkembangnya sektor perikanan tangkap maupun budidaya yang selama ini menopang kehidupan ribuan keluarga nelayan.

Artikel ini disusun untuk menghubungkan kondisi geografis dan sosial ekonomi di Barru dan sejumlah agenda pembangunan pesisir dan laut di bawah agenda pembangunan nasional seperti Kampung Nelayan Merah Putih.

Pada tahun 2024, produksi perikanan laut Kabupaten Barru mencapai 20.413,80 ton.

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Tanete Rilau menjadi kontributor terbesar dengan produksi mencapai 7.271,80 ton. Posisi kedua ditempati Kecamatan Mallusetasi dengan produksi 5.627,30 ton.

Besarnya aktivitas perikanan di Tanete Rilau menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pusat ekonomi pesisir yang paling dinamis di Barru. Komoditas utama seperti ikan pelagis seperti cakalang, kembung hingga teri menjadi sumber pendapatan penting bagi nelayan setempat.

Sementara itu, dari sisi armada penangkapan, Kecamatan Mallusetasi memiliki jumlah armada terbesar dengan 727 unit kapal dan perahu, yang didominasi perahu motor tempel.

Kekuatan armada ini memperlihatkan kapasitas produksi yang terus berkembang di sepanjang pesisir Barru.

Budidaya Menjadi Pilar Pertumbuhan Baru

Selain perikanan tangkap, Barru juga menunjukkan perkembangan yang kuat pada sektor budidaya. Udang vaname menjadi komoditas unggulan dengan produksi mencapai 4.377 ton pada tahun 2024.

Di sisi lain, budidaya rumput laut menghasilkan 1.198 ton dan memiliki prospek yang terus meningkat seiring tingginya permintaan pasar.

Dukungan sarana pembenihan menjadi salah satu faktor utama keberhasilan sektor ini. Kecamatan Balusu memiliki 35 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dan satu hatchery, sementara Kecamatan Mallusetasi memiliki 29 UPR dan delapan hatchery, jumlah terbanyak di Kabupaten Barru.

Keberadaan fasilitas tersebut menempatkan Balusu dan Mallusetasi sebagai pusat pengembangan budidaya yang strategis untuk mendukung ketersediaan benih dan meningkatkan produktivitas usaha perikanan.

Infrastruktur yang Menghubungkan Laut dan Pasar

Ekosistem perikanan Barru juga diperkuat oleh berbagai fasilitas pendukung. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) tersebar di Kecamatan Tanete Rilau, Barru, Soppeng Riaja, dan Balusu.

Fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) tersedia di Kecamatan Barru dan Mallusetasi, sementara pabrik es beroperasi di Balusu dan Mallusetasi untuk menjaga mutu hasil tangkapan nelayan.

Di sektor hilir, terdapat 12 unit industri penggaraman dan pengeringan ikan yang menyerap puluhan tenaga kerja, serta industri pengolahan surimi yang memberikan nilai tambah terhadap hasil laut lokal.

Kampung Nelayan Merah Putih: Investasi untuk Masa Depan Pesisir

Di tengah besarnya potensi tersebut, pemerintah pusat dan daerah mulai membangun fondasi baru bagi transformasi kawasan pesisir melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Lokasi KNMP Barru berada di Lingkungan Matene, Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau—wilayah yang secara statistik merupakan sentra produksi perikanan tangkap terbesar di kabupaten ini. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan.

Tanete Rilau telah lama menjadi salah satu pusat aktivitas nelayan di Barru sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kawasan perikanan terpadu.

Program yang didukung anggaran sekitar Rp22 miliar ini dirancang bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi pesisir yang terintegrasi.

Berbagai fasilitas yang direncanakan meliputi sentra pendaratan ikan, pabrik es, shelter cool box, bengkel nelayan, docking kapal, sentra kuliner, balai pertemuan, serta fasilitas pendukung lainnya.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu memutus mata rantai berbagai persoalan klasik yang dihadapi nelayan, mulai dari keterbatasan penyimpanan hasil tangkapan, rendahnya nilai tambah produk, hingga akses pemasaran yang belum optimal.

Menuju Sentra Ekonomi Biru Sulawesi Selatan

Jika melihat peta perikanan Barru saat ini, terlihat adanya pembagian peran yang semakin jelas. Tanete Rilau menjadi pusat produksi perikanan tangkap, sementara Mallusetasi dan Balusu berkembang sebagai sentra budidaya dan pengolahan hasil perikanan.

Mewakili Bupati Barru, Wakil Bupati Barru Dr. Ir. Abustan, M.Si., menghadiri kegiatan Sosialisasi dan Penyerahan Lokasi Pekerjaan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2025 Tahap II, yang berlangsung di Matene, Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau, Sabtu (27/12/2025).

Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Matene menjadi mata rantai yang menghubungkan seluruh potensi tersebut.

Program ini berpotensi menjadikan Tanete Rilau bukan hanya sebagai lokasi pendaratan ikan terbesar di Barru, tetapi juga sebagai pusat pengolahan, distribusi, dan pengembangan ekonomi pesisir modern.

Dengan sumber daya laut yang melimpah, dukungan infrastruktur yang terus berkembang, serta hadirnya investasi strategis seperti KNMP, Barru memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai salah satu pusat ekonomi biru unggulan di Sulawesi Selatan.

Laut tidak lagi sekadar menjadi sumber tangkapan, tetapi juga menjadi jalan menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan transformasi ekonomi daerah yang lebih berkelanjutan.

“Barru Maju Bersama” bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan arah besar yang ingin diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten Barru di bawah kepemimpinan Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Bupati Abustan A. Bintang.

Visi ini menegaskan komitmen untuk membangun daerah secara inklusif termasuk kelautan dan perikanan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan pemerintah sebagai mitra pembangunan.

Semangat “bersama” menjadi fondasi dalam menghadirkan perubahan yang merata, sehingga setiap warga Barru dapat merasakan manfaat pembangunan tanpa terkecuali.