Potensi perikanan tangkap juga didukung oleh keberadaan pulau-pulau di kecamatan lainnya. Kecamatan Barru memiliki dua pulau, sedangkan Tanete Rilau, Soppeng Riaja, dan Balusu masing-masing memiliki satu pulau. Keberadaan pulau-pulau tersebut memperluas daerah penangkapan ikan sekaligus meningkatkan produktivitas sektor perikanan laut Kabupaten Barru.
PELAKITA.ID — Sebagai salah satu daerah pesisir strategis di pantai barat Sulawesi Selatan, Kabupaten Barru memiliki modal geografis yang kuat untuk mengembangkan sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya.
Posisi yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar menjadikan wilayah ini sebagai koridor ekonomi maritim yang berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2025.
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025, luas wilayah Kabupaten Barru mencapai 1.201,32 kilometer persegi yang terbagi ke dalam tujuh kecamatan dengan total 55 desa dan kelurahan.
Struktur wilayah yang memadukan kawasan pesisir, dataran rendah, perbukitan, hingga kepulauan menciptakan karakteristik yang mendukung pengembangan berbagai subsektor perikanan secara berkelanjutan.
Dominasi Wilayah Pesisir sebagai Basis Ekonomi Kelautan
Analisis kewilayahan menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perikanan laut terkonsentrasi di lima kecamatan pesisir, yakni Tanete Rilau, Soppeng Riaja, Mallusetasi, Barru, dan Balusu.
Di antara seluruh kecamatan tersebut, Tanete Rilau menjadi kawasan pesisir paling dominan dengan sembilan desa dan kelurahan yang berbatasan langsung dengan laut.
Posisi ini menjadikan Tanete Rilau sebagai wilayah yang memiliki akses paling luas terhadap sumber daya kelautan sekaligus kawasan potensial untuk pengembangan tambak dan budidaya pesisir.
Sementara itu, Kecamatan Soppeng Riaja dan Mallusetasi masing-masing memiliki enam desa pesisir, sedangkan Kecamatan Barru memiliki empat desa pesisir dan Balusu tiga desa pesisir.
Berbeda dengan lima kecamatan tersebut, Tanete Riaja dan Pujananting merupakan wilayah yang seluruh desanya berada di kawasan daratan. Kondisi ini membentuk pola pembangunan yang unik karena kedua kecamatan memiliki orientasi ekonomi yang berbeda dari kawasan pesisir.
Fenomena ini terlihat jelas pada pasangan kecamatan bertetangga, Tanete Rilau dan Tanete Riaja. Jika Tanete Rilau berkembang sebagai sentra aktivitas kelautan dan tambak, maka Tanete Riaja memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor perikanan air tawar yang berbasis sumber daya daratan.
Kombinasi tersebut menciptakan peluang sinergi antara produksi perikanan laut dan perikanan darat dalam satu kawasan ekonomi yang saling melengkapi.
Mallusetasi, Pusat Perikanan Tangkap dan Kepulauan
Dalam sektor perikanan tangkap, kekuatan utama Kabupaten Barru terletak pada keberadaan pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah perairannya. Tercatat terdapat sepuluh pulau yang menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Barru.
Dari jumlah tersebut, Kecamatan Mallusetasi menjadi kawasan dengan potensi terbesar karena memiliki lima pulau atau separuh dari total pulau yang ada di kabupaten ini.
Keunggulan geografis tersebut menjadikan Mallusetasi sebagai basis penting aktivitas penangkapan ikan dan pengelolaan sumber daya laut.
Selain faktor geografis, Mallusetasi juga memiliki akar sejarah maritim yang kuat sebagai wilayah bekas kerajaan yang berkembang di kawasan pesisir utara Barru.
Dengan jarak sekitar 35 kilometer dari ibu kota kabupaten, Mallusetasi berkembang sebagai pusat ekonomi maritim yang relatif mandiri dan berfungsi sebagai hub perikanan bagi wilayah utara.
Potensi perikanan tangkap juga didukung oleh keberadaan pulau-pulau di kecamatan lainnya.
Kecamatan Barru memiliki dua pulau, sedangkan Tanete Rilau, Soppeng Riaja, dan Balusu masing-masing memiliki satu pulau. Keberadaan pulau-pulau tersebut memperluas daerah penangkapan ikan sekaligus meningkatkan produktivitas sektor perikanan laut Kabupaten Barru.
Topografi Menentukan Strategi Budidaya
Karakteristik topografi Barru menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya terdiri atas dataran rendah pesisir. Data elevasi memperlihatkan sekitar 49,39 persen wilayah berada pada ketinggian antara 101 hingga 500 meter di atas permukaan laut.
Kondisi tersebut mendorong perlunya strategi budidaya yang berbeda sesuai karakteristik wilayah.
Untuk budidaya air payau dan tambak, kawasan dataran rendah pesisir menjadi lokasi paling ideal. Dalam hal ini, Tanete Rilau kembali tampil sebagai wilayah unggulan dengan sepuluh desa yang berada pada kawasan dataran.
Potensi ini menjadikan Tanete Rilau sebagai sentra utama pengembangan komoditas unggulan seperti udang vaname dan ikan bandeng.
Kecamatan Barru dengan enam desa dataran serta Soppeng Riaja dengan lima desa dataran juga memiliki peluang besar untuk memperluas produksi budidaya tambak berbasis pesisir.
Sementara itu, kawasan perbukitan dan pegunungan membuka peluang besar bagi pengembangan budidaya air tawar.
Kecamatan Pujananting menjadi contoh paling menonjol karena seluruh tujuh desanya berada di wilayah lereng dan puncak tanpa satu pun desa yang tergolong dataran rendah.
Karakteristik tersebut menjadikan Pujananting sangat potensial untuk pengembangan kolam air tawar berbasis sistem gravitasi, kolam terpal, maupun budidaya ikan konsumsi yang memanfaatkan sumber air pegunungan. Potensi serupa juga dimiliki Kecamatan Tanete Riaja yang memiliki enam desa pada kawasan lereng dan puncak.
Dengan demikian, topografi Barru sebenarnya menawarkan peluang diversifikasi usaha perikanan yang cukup lengkap, mulai dari tambak pesisir hingga budidaya air tawar di wilayah pegunungan.
Infrastruktur Menjadi Penopang Utama
Potensi sumber daya perikanan tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Karena itu, keberadaan fasilitas pendaratan ikan dan sarana logistik menjadi faktor penting dalam rantai ekonomi perikanan Barru.
Salah satu infrastruktur utama adalah Pelabuhan Garongkong di Kecamatan Barru yang berfungsi sebagai pusat logistik dan distribusi hasil perikanan.
Pelabuhan ini tidak hanya mendukung aktivitas nelayan lokal tetapi juga memperkuat konektivitas perdagangan hasil laut dengan wilayah lain di Sulawesi Selatan.
Di bagian utara kabupaten, fasilitas pendaratan ikan di Palanro, Kecamatan Mallusetasi, memegang peranan penting dalam melayani aktivitas perikanan tangkap, terutama hasil tangkapan dari pulau-pulau yang berada di wilayah tersebut.
Kehadiran dua pusat aktivitas perikanan ini menunjukkan strategi pemerintah daerah dalam menciptakan keseimbangan pembangunan antara kawasan pusat pemerintahan dan wilayah pesisir yang lebih jauh dari ibu kota kabupaten.
Dua Kutub Utama Perikanan Barru
Dari keseluruhan analisis kewilayahan, terlihat bahwa masa depan ekonomi perikanan Kabupaten Barru pada tahun 2025 bertumpu pada dua kutub utama yang saling melengkapi.
Kecamatan Tanete Rilau tampil sebagai kawasan budidaya pesisir paling strategis berkat kombinasi sembilan desa pesisir dan sepuluh desa dataran rendah yang sangat mendukung pengembangan tambak udang dan bandeng.
Di sisi lain, Kecamatan Mallusetasi tetap menjadi pusat perikanan tangkap yang sulit tergantikan. Keunggulan jumlah pulau, posisi geografis, serta tradisi maritim yang kuat menjadikan kecamatan ini sebagai pilar utama produksi perikanan laut Kabupaten Barru.
Dengan memadukan kekuatan budidaya pesisir di Tanete Rilau dan dominasi perikanan tangkap di Mallusetasi, Kabupaten Barru memiliki fondasi yang kokoh untuk memperkuat sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu motor penggerak pembangunan ekonomi daerah pada tahun 2025 dan tahun-tahun mendatang.









