Pada tahun 2024, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan dengan porsi mencapai 21,84 persen.
PELAKITA.ID – Sektor pertanian padi tetap menjadi tulang punggung perekonomian Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025, total luas panen padi pada tahun 2024 mencapai 951.308,60 hektar dengan produksi sebesar 4.818.429,39 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka tersebut menegaskan posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra produksi beras terbesar di Indonesia sekaligus penopang penting ketahanan pangan nasional.
Dengan produksi beras sekitar 2,76 juta ton per tahun, provinsi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestiknya, tetapi juga menjadi pemasok utama beras bagi berbagai daerah lain melalui distribusi nasional.
Dalam peta produksi padi Sulawesi Selatan, Kabupaten Bone tetap mempertahankan posisinya sebagai penghasil padi terbesar dengan produksi mencapai 754.644,66 ton GKG dari luas panen 157.901,31 hektar. Posisi berikutnya ditempati oleh Kabupaten Wajo dengan produksi 587.729,75 ton, disusul Kabupaten Pinrang sebesar 563.546,72 ton.
Tiga daerah tersebut membentuk poros utama lumbung pangan Sulawesi Selatan dan menjadi penyangga strategis pasokan beras nasional.
Di bawahnya, Kabupaten Sidenreng Rappang menghasilkan 447.855,62 ton, sementara Kabupaten Luwu menyumbang 280.392,73 ton.
Kelompok daerah dengan produksi di atas 200 ribu ton juga mencakup Kabupaten Soppeng, Kabupaten Gowa, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Bulukumba.
Sementara itu, daerah seperti Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Takalar, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan tetap menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap total produksi provinsi.

Produktivitas Tinggi Menjadi Kekuatan Utama
Selain luas areal yang besar, kekuatan pertanian padi Sulawesi Selatan juga ditopang oleh tingkat produktivitas yang relatif tinggi. Pada tahun 2024, produktivitas rata-rata provinsi mencapai 50,65 kuintal per hektar.
Menariknya, Kabupaten Pinrang mencatat produktivitas tertinggi dengan 61,07 kuintal per hektar, jauh di atas rata-rata provinsi.
Capaian ini menunjukkan keberhasilan penerapan teknologi budidaya, pengelolaan irigasi, penggunaan benih unggul, serta praktik pertanian yang lebih efisien.
Produktivitas yang tinggi menjadi faktor penting karena memungkinkan peningkatan produksi tanpa harus membuka lahan baru dalam skala besar.
Kinerja subsektor tanaman pangan sepanjang 2024 menunjukkan bahwa sektor ini masih memiliki prospek yang sangat menjanjikan.
Pertumbuhan ekonomi subsektor tanaman pangan tercatat sebesar 2,63 persen berdasarkan harga konstan 2010.
Di sisi lain, kesejahteraan petani juga menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman pangan mencapai 117,87.
Angka yang berada di atas 100 menandakan bahwa pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang mereka keluarkan untuk produksi dan konsumsi rumah tangga.
Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa usaha tani padi masih menjadi aktivitas ekonomi yang layak dan berpotensi terus berkembang apabila didukung oleh kebijakan yang tepat.
Kontribusi Besar terhadap Perekonomian Daerah
Peran padi tidak hanya terlihat dari sisi produksi pangan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap perekonomian daerah.
Pada tahun 2024, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan dengan porsi mencapai 21,84 persen.
Khusus kategori tanaman pangan, nilai tambah yang dihasilkan mencapai Rp48,06 triliun berdasarkan harga berlaku.
Angka ini menunjukkan bahwa komoditas padi bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga penggerak utama aktivitas ekonomi pedesaan, perdagangan hasil pertanian, industri penggilingan, hingga distribusi logistik.
Dominasi produksi dari Bone, Wajo, Pinrang, dan sejumlah sentra padi lainnya memperlihatkan bahwa Sulawesi Selatan masih memegang peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Dengan luas panen yang besar, produktivitas yang terus meningkat, serta kontribusi ekonomi yang signifikan, sektor padi tetap menjadi fondasi penting pembangunan daerah.
Ke depan, tantangan berupa perubahan iklim, efisiensi penggunaan air, regenerasi petani, dan modernisasi pertanian akan menjadi faktor penentu. Namun dengan modal produksi hampir 4,82 juta ton GKG dan dukungan kawasan sentra yang kuat, Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat baik untuk terus menjadi salah satu pusat produksi beras terpenting di Indonesia.









