Rusdi Talha | Sarkasme Sebagai Strategi ‘Public Speaking’ dan Murkanya Idrus Marham

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

Orang-orang seperti ini hidup dalam cangkang tebal dan menolak menyadari kalau dunia di sekitarnya sudah berubah dan generasi milenial, gen z hingga generasi alpha tidak lagi mengagumkan nilai sosial yang dianut generasi old yang dengan feodalisme.

PELAKITA.ID –  Pernyataan berapi-api Idrus Marham menanggapi pilihan diksi bermuatan sarkastis yang dilontarkan Tiyo Ardianto terhadap kinerja presiden Prabowo, justru menunjukkan kualitas Tiyo sebagai public speaker handal.

Kenapa? Jadi begini. Sekalipun disampaikan dengan cara menohok dan terkesan mengolok-olok, sejatinya sarkasme merupakan seni beretorika yang untuk mengoperasikannya membutuhkan tingkat kecerdasan tertentu.

Sulit membayangkan seseorang dengan penguasaan bahasa di level gramatikal bisa merumuskan diksi dengan cita rasa yang pas dan kontekstual.

Di negara yang memuja demokrasi liberal, memaki pemerintah apalagi sekedar menggunakan kalimat sarkastis menyerang kepala negara merupakan hal lazim.

Persoalannya, dalam masyarakat yang mengklaim menganut nilai-nilai kesopanan, sarkasme dipandang sebagai sikap tak bermoral hingga dirumuskan sebagai delik perundungan serta penghinaan karena menyerang harga diri dan martabat orang lain.

Lantas, pertanyaan yang sering diajukan dalam konteks kritik terhadap kebijakan publik, sejauh mana sarkasme bisa diterima sebagai lelucon politik untuk mendorong kesadaran publik tanpa menyeret penuturnya ke ranah hukum?

Bagi Idrus, pilihan diksi Tyo, bermuatan sarkastis yang memelesetkan nama presiden Prabowo Subianto menjadi, “Prabodoh Subiantolol” untuk nama kucingnya dalam kisah fiksi dipandang bertentangan dengan nilai kearifan tradisional yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia.

Akibatnya, banyak pihak menilai pilihan diksi Tiyo itu bukan saja menabrak etika sopan santun tapi sudah menyerempet delik penistaan karena pernyataan Tiyo termasuk serangan terbuka terhadap harga diri dan martabat Prabowo Subianto.

Sementara, bagi pendukung kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam konteks kritik terhadap perilaku kekuasaan, pilihan diksi Tiyo tidak bisa dibaca secara terpisah dengan konteks kritiknya selama ini terhadap program MBG serta program lainnya yang faktanya memang bermasalah.

Orang-orang seperti Idrus ini hidup dengan mengurung diri dalam cangkang tebal dan menolak menyadari kalau dunia di sekitarnya sudah berubah jauh.

Sementara berbagai riset menunjukkan generasi milenial, Gen Z hingga generasi Alpha tidak lagi mengagung-agungkan nilai lama yang yang berusaha terus dilanggengkan oleh generasi zaman old demi mempertahankan otoritas mereka.

Idrus dan generasi zaman old lainnya, birokrat, pengusaha, politisi, tokoh masyarakat hingga tokoh agama relatif tidak punya banyak waktu membaca hingga tak sempat memahami apa yang disebut Anthony Giddens sebagai reflexivity  (refleksivitas).

Bagi Giddens, refleksivitas adalah kemampuan individu dan institusi untuk terus mengevaluasi serta merevisi tindakan atau identitas mereka berdasarkan informasi baru termasuk menyangkut tradisi dan nilai-nilai lama.

Tentu itu berbeda dengan generasi old yang terus berusaha mempertahankan nilai-nilai lama demi status quo, sebaliknya generasi now terus mengadopsi nilai-nilai baru yang terbuka dan demokratis dengan menjadi bagian dari masyarakat global.

Dengan sikap tebal muka generasi zaman old yang umumnya miskin wacana akibat minim literasi namun penuh percaya diri terus menuntut generasi zaman now berperilaku sopan dan manut pada nilai yang mereka yakimi sambil dengan sadar mengangkangi sendiri nilai yang mereka anggap luhur dan agung itu.

__
Rusdi Talha, pengacara dan alumni FH Unhas

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab yang bersangkutan