PELAKITA.ID – Di tengah dominasi komoditas tambang dalam struktur ekspor Sulawesi Selatan, sektor perikanan tetap menunjukkan perannya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Salah satu komoditas yang paling menonjol adalah udang, yang bersama kelompok komoditas ikan menjadi sumber devisa penting sekaligus penopang kesejahteraan masyarakat pesisir.
Data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa komoditas “Ikan dan Udang” terus mengalami pertumbuhan positif, baik dari sisi volume maupun nilai ekspor. Kondisi ini menegaskan bahwa sektor perikanan Sulawesi Selatan tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai perdagangan global.
Nilai Ekspor Terus Bertumbuh
Pada tahun 2023, volume ekspor kelompok komoditas ikan dan udang mencapai 16,67 juta kilogram dengan nilai ekspor sebesar US$138,35 juta. Setahun kemudian, kinerja tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan.
Pada tahun 2024, volume ekspor naik menjadi 18,25 juta kilogram atau tumbuh sekitar 9,5 persen. Sementara itu, nilai ekspor meningkat menjadi US$141,12 juta.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa permintaan pasar internasional terhadap produk perikanan Sulawesi Selatan masih terjaga meskipun ekonomi global menghadapi berbagai tantangan.
Pertumbuhan tersebut juga mencerminkan kemampuan pelaku usaha perikanan dalam menjaga kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memenuhi standar ekspor yang semakin ketat di berbagai negara tujuan.
Dalam struktur ekspor Sulawesi Selatan tahun 2024, kelompok komoditas ikan dan udang menempati posisi yang sangat strategis. Berdasarkan nilai FOB (Free on Board), komoditas ini menjadi penyumbang devisa terbesar ketiga setelah nikel dan besi baja.
Nilai ekspor nikel tercatat mencapai US$950,38 juta, disusul besi dan baja sebesar US$439,85 juta. Di posisi ketiga, ikan dan udang menyumbang US$141,12 juta.
Menariknya, nilai tersebut melampaui sejumlah komoditas unggulan yang selama ini dikenal sebagai identitas ekspor Sulawesi Selatan, seperti rumput laut yang bernilai US$136,42 juta dan kakao sebesar US$98,75 juta.
Fakta ini menunjukkan bahwa sektor perikanan memiliki posisi yang semakin penting dalam diversifikasi ekonomi daerah, terutama sebagai sumber devisa non-tambang yang relatif stabil.
Penggerak Ekonomi Perikanan
Keberhasilan ekspor udang tidak dapat dipisahkan dari besarnya aktivitas perikanan budidaya dan tangkap di Sulawesi Selatan. Komoditas ini merupakan hasil hilirisasi dari ekosistem ekonomi pesisir yang melibatkan petambak, nelayan, pengolah hasil perikanan, hingga sektor logistik.
Secara makro, lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan dengan kontribusi mencapai 21,84 persen pada tahun 2024.
Di dalamnya, subsektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 7,75 persen terhadap total PDRB provinsi. Nilai tambah bruto yang dihasilkan subsektor ini mencapai sekitar Rp53,93 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perikanan bukan sekadar sektor produksi primer, melainkan salah satu fondasi ekonomi daerah yang menciptakan lapangan kerja dan mendorong perputaran ekonomi di kawasan pesisir.
Keunggulan ekspor udang Sulawesi Selatan ditopang oleh kawasan-kawasan tambak yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Kabupaten-kabupaten seperti Bone, Pinrang, Pangkajene dan Kepulauan, Barru, serta sejumlah wilayah pesisir lainnya dikenal sebagai sentra budidaya udang dan bandeng yang memasok kebutuhan industri pengolahan maupun pasar ekspor.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan budidaya udang vaname yang lebih intensif juga mendorong peningkatan produktivitas tambak dan memperkuat daya saing produk Sulawesi Selatan di pasar internasional.
Dengan dukungan teknologi budidaya yang semakin baik, pengelolaan kualitas air, serta penerapan standar keberlanjutan, sektor ini memiliki peluang besar untuk terus berkembang.
Infrastruktur Pelabuhan Mendukung Daya Saing
Pertumbuhan ekspor udang juga didukung oleh keberadaan infrastruktur logistik yang relatif kuat. Sekitar 50 persen aktivitas ekspor Sulawesi Selatan dilayani melalui Pelabuhan Sukarno Hatta Makassar yang menjadi gerbang utama perdagangan internasional provinsi.
Selain itu, pelabuhan di Parepare dan Palopo juga berperan dalam melayani arus komoditas hasil laut dari wilayah hinterland masing-masing. Keberadaan jaringan pelabuhan ini membantu mempercepat distribusi produk perikanan menuju pasar ekspor sekaligus menekan biaya logistik.
Dalam perdagangan global yang semakin kompetitif, efisiensi logistik menjadi faktor penting yang menentukan daya saing suatu komoditas.
Peningkatan volume ekspor sepanjang 2024 menunjukkan bahwa sektor udang Sulawesi Selatan memiliki daya tahan yang kuat terhadap dinamika pasar global.
Permintaan internasional terhadap produk udang tetap tinggi karena komoditas ini menjadi salah satu sumber protein yang paling banyak diperdagangkan di dunia.
Ke depan, tantangan utama terletak pada peningkatan produktivitas tambak, penguatan standar mutu, keberlanjutan lingkungan, serta pengembangan industri pengolahan bernilai tambah tinggi.
Apabila tantangan tersebut dapat dikelola dengan baik, Sulawesi Selatan berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi dan ekspor udang terbesar di Indonesia.
Menjaga Mesin Ekonomi Pesisir
Di balik angka ekspor yang mencapai lebih dari US$141 juta, terdapat ribuan nelayan, petambak, pekerja pengolahan hasil laut, dan pelaku usaha logistik yang menggantungkan kehidupannya pada sektor ini.
Karena itu, ekspor udang tidak hanya berbicara tentang devisa, tetapi juga tentang keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.
Dengan pertumbuhan yang terus berlanjut, dukungan infrastruktur yang memadai, dan potensi sumber daya yang besar, udang akan tetap menjadi salah satu komoditas strategis Sulawesi Selatan—bukan hanya sebagai produk ekspor unggulan, tetapi juga sebagai penggerak utama ekonomi biru yang berkelanjutan.









