Kopi Sulawesi Selatan 2024: Dominasi Segitiga Emas Toraja-Enrekang dan Tantangan Daerah Pengembangan Baru

  • Whatsapp
Kopi Arabika di Barru

Jika digabungkan, ketiga daerah tersebut menghasilkan sekitar 18.861 ton kopi atau lebih dari 61 persen total produksi kopi Sulawesi Selatan.

PELAKITA.ID – Sulawesi Selatan terus menegaskan posisinya sebagai salah satu lumbung kopi nasional. Data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa pada tahun 2024 produksi kopi rakyat di provinsi ini mencapai 30.475 ton dengan luas areal perkebunan mencapai 77.827 hektar.

Di balik angka tersebut, terdapat ketimpangan sekaligus peluang besar yang menggambarkan wajah industri kopi Sulawesi Selatan saat ini.

Enrekang Masih Menjadi Raja Kopi Sulsel

Kabupaten Enrekang menempati posisi teratas sebagai produsen kopi terbesar di Sulawesi Selatan dengan produksi mencapai 8.522 ton dari areal seluas 19.151 hektar. Angka ini setara dengan hampir 28 persen total produksi kopi provinsi.

Di bawah Enrekang, Kabupaten Toraja Utara menghasilkan 5.754 ton kopi dari lahan seluas 10.861 hektar, sementara Tana Toraja memproduksi 4.585 ton dari areal 14.069 hektar.

Tiga daerah ini membentuk apa yang dapat disebut sebagai “segitiga emas kopi Sulawesi Selatan” yang selama puluhan tahun menjadi pusat produksi sekaligus identitas kopi Sulawesi Selatan di pasar nasional maupun internasional.

Jika digabungkan, ketiga daerah tersebut menghasilkan sekitar 18.861 ton kopi atau lebih dari 61 persen total produksi kopi Sulawesi Selatan.

Dominasi ini menunjukkan bahwa kawasan pegunungan dengan ketinggian dan iklim yang sesuai masih menjadi faktor utama keberhasilan budidaya kopi di provinsi ini.

Pinrang dan Sinjai Menjadi Kekuatan Menengah

Di luar kawasan Toraja dan Enrekang, Kabupaten Pinrang muncul sebagai produsen kopi terbesar berikutnya dengan produksi 1.966 ton. Posisi ini disusul Sinjai dengan 1.860 ton dan Gowa dengan 1.826 ton.

Menariknya, luas areal kopi Gowa mencapai 6.251 hektar, lebih besar dibandingkan Sinjai yang hanya memiliki 3.271 hektar. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan produktivitas yang dapat menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan perkebunan kopi di masing-masing daerah.

Sementara itu, Bantaeng, Luwu Utara, dan Luwu juga menunjukkan kontribusi yang cukup signifikan dengan produksi di atas 1.300 ton per tahun.

Kopi Rakyat Menjadi Tulang Punggung

Salah satu fakta penting dari sektor kopi Sulawesi Selatan adalah dominasi perkebunan rakyat. Sebanyak 112.919 keluarga petani menggantungkan penghidupannya pada komoditas ini.

Artinya, kopi bukan sekadar produk ekspor atau komoditas perkebunan, tetapi juga menjadi sumber ekonomi bagi puluhan ribu rumah tangga di wilayah pedesaan.

Peran sosial ekonomi kopi menjadi semakin penting ketika sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sulawesi Selatan.

Rata-rata pendapatan pekerja di sektor tersebut tercatat sekitar Rp2,01 juta per bulan pada tahun 2024, sehingga peningkatan produktivitas dan nilai tambah kopi berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Peran Perkebunan Swasta Arabika

Selain perkebunan rakyat, Sulawesi Selatan juga memiliki kontribusi dari sektor perkebunan besar swasta, khususnya pada komoditas kopi arabika.

Tercatat terdapat sembilan perusahaan perkebunan swasta yang beroperasi di Kabupaten Tana Toraja.

Pada tahun 2024, total produksi kopi arabika dari perkebunan swasta mencapai 918,69 ton dengan luas areal 6.344,05 hektar.

Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut memperkuat posisi Tana Toraja sebagai salah satu pusat produksi kopi arabika premium Indonesia yang telah dikenal di pasar internasional.

Barru dan Daerah Berkembang: Peluang yang Masih Terbuka

Di bagian lain Sulawesi Selatan, sejumlah daerah masih berada pada tahap awal pengembangan kopi. Kabupaten Barru misalnya, memiliki luas areal kopi 736 hektar namun baru menghasilkan 27 ton kopi pada tahun 2024.

Produksi yang relatif kecil ini menempatkan Barru pada peringkat ke-16 di tingkat provinsi. Tahun 2025, luasan lahan kopi di Barru disebut naik dua kali lipat terutama di wilayah Pujananting hingga Tanete Riaja, karena program intensif dukungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten.

Meski demikian, angka tersebut tidak selalu mencerminkan rendahnya potensi. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kawasan pegunungan Barru mulai menunjukkan perkembangan budidaya kopi yang cukup menjanjikan. Di Desa Gattareng Pujananting ada petani yang bisa menghasilkan 2 ton  dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Banyak lahan yang sebelumnya hanya ditanami sebagai tanaman pekarangan atau tanaman sampingan kini mulai dikelola secara lebih serius sebagai komoditas ekonomi.

Fenomena serupa juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Maros, Soppeng, Pangkajene dan Kepulauan, serta Luwu Timur yang masih memiliki ruang luas untuk meningkatkan produktivitas maupun kualitas hasil panen.

Masa Depan Kopi Sulawesi Selatan

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa industri kopi Sulawesi Selatan masih sangat bergantung pada sentra-sentra tradisional seperti Enrekang dan kawasan Toraja.

Munculnya daerah-daerah pengembangan baru membuka peluang untuk memperluas basis produksi sekaligus meningkatkan pemerataan ekonomi berbasis perkebunan.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga memperbaiki produktivitas lahan, kualitas pascapanen, hilirisasi produk, serta memperkuat akses pasar.

Dengan lebih dari 112 ribu keluarga petani yang terlibat, keberhasilan sektor kopi akan menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan ekonomi pedesaan Sulawesi Selatan.

Jika dikelola secara berkelanjutan, kopi tidak hanya menjadi komoditas perkebunan, tetapi juga dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal, identitas daerah, serta sumber kesejahteraan bagi generasi petani masa depan.

Redaksi