Bahtiar ‘Batti’ Manadjeng dan Peta Jalan Perubahan untuk Luwu Utara

  • Whatsapp
Bahtiar Manadjeng (dok: Istimewa)

DPRD Makassar

Jika irigasi terbangun, luas lahan padi irigasi Luwu Utara tidak hanya menjadi 27 ribu hektar saja tetapi akan berdampak pada penambahan luas lahan dari pemanfaatan puluhan ribu hektar lahan tidur. 

Bahtiar ‘Batti’ Manadjeng

Read More

PELAKITA.ID – Bahtiar Manadjeng, salah satu praktisi dan pengusaha sektor pertanian sejak 19 tahun terakhir ini membagikan gambaran peta jalan perubahan untuk Luwu Utara.

Batti, begitu sapaan akrabnya telah banyak bekerja di Kawasan Timur Indonesia dan ikut mendorong sektor pertanian agar dapat memberikan dampak kesejahteraan kepada para pelakunya, terutama para petani.

Alumni Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin ini meyakini sektor Pertanian meliputi Pangan, Hortikultura dan Perkebunan dapat memberikan kehidupan yang layak bagi petani.

Menurutnya, keyakinan ini hanya bisa terwujud jika negara – pemerintah daerah hadir bersama petani di desa dan punya peta jalan perubahan sesuai basis sumber daya tersedia.

Bahtiar Manadjeng bersama petani jagung di Luwu Raya (dok: Istimewa)

Pemuda yang lahir dan bertumbuh hingga dewasa di wilayah pesisir Luwu Utara ini, akhir-akhir ini disebut sebagai salah satu figur pemimpin Luwu Utara yang potensial, gagasan yang cemerlang yang ingin menjadikan Luwu Utara terdepan di 5 komoditi utama pertaniannya.

5 Komoditi Unggulan Luwu Utara, Peta Jalan Kemajuan

“Visi Luwu Utara Sejahtera Mandiri melalui pembangunan sektor pertanian hanya bisa terwujud melalui kepemimpinan kuat di daerah,” kata alumni SMUN 1 Masamba ini kepada Pelakita.ID, Jumat, 12/4/2024.

“5 komoditi unggulan tersebut yakni Padi, Jagung, Kakao, Kelapa Sawit dan Durian, komoditi ini harus mendapat skala prioritas dalam pembangunan daerah,” ucap anggota Presidium MW Kahmi Sulsel periode 2022-2027 ini.

Dia menambahkan, pemerintah daerah sejauh ini belum mempunyai Road Map pembangunan ekonomi daerah sektor pertanian secara utuh, menyeluruh dan jangka panjang, setidaknya 25 tahun ke depan.

Dampaknya, menurutnya, hingga saat ini sektor pertanian belum bisa memberikan kemajuan bagi Luwu Utara.

Dikatakan, ada beberapa problem utama untuk memajukan sektor Pertanian belum ditangani dengan baik oleh Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat.

“Sungai sumber kesejahteraan, bukan sumber bencana dan kemiskinan,” sebutnya.

Bahtiar menyebut, Kabupaten Luwu Utara sebagai “Kabupaten Sungai”, kenapa tidak, wilayah Luwu Utara setidaknya dialiri oleh 7 aliran sungai dengan kategori sungai sedang hingga besar.

“Sungai-sungai melintasi daerah ini dari kawasan pegunungan hingga ke pesisir Teluk Bone belum mampu dekelola, air melimpah tapi belum bisa dikelola,” ujarnya.

Malah, kata dia, saat ini sungai-sungai tersebut, terutama Sungai Masamba dan Sungai Rongkong masih menjadi sumber bencana dan kemiskinan.

Bahtiar Manadjeng, menjelajah dunia mencari inspirasi untuk Luwu Utara (dok: Istimewa)

“Setiap tahun, ribuan hektar lahan pertanian dan ribuan pemukiman warga terendam dan terdampak luapan air dari dua sungai tersebut, apalagi curah hujan di daerah yang disebut wanua mappatuo naewai alena ini cukup tinggi tiap tahunnya,” tambahnya.

Dia menilai, mestinya di kawasan Daerah Aliran Sungai dua sungai tersebut telah dibangun bendungan dan PLTA dikawasan hulu untuk kebutuhan irigasi dan energi.

“Air di-manage alirannya dari hulu ke hilir, air tidak boleh mengalir semaunya,” kata dia.

“Jika air mengalir semaunya, akan membawa kerusakan semaunya pula, dan listrik dari PLTA dijual ke PLN sebagai PAD untuk keperluan pembangunan daerah lanjutnya,” harapnya.

Jika Bendungan – Irigasi Pertanian dan PLTA di dua sungai tersebut dibangun, maka dia meyakini akan membawa dampak yang sangat baik dalam mengentaskan kemiskinan di Luwu Utara. Luwu Utara tidak akan lagi masuk 5 besar Kabupaten termiskin di Sulsel.

Menuju Kakao Kelas Dunia

Salah satu komoditi Perkebunan unggulan Luwu Utara adalah Kakao.

Luwu Utara pernah memiliki luas lahan kakao setidaknya 40 ribu hektar periode tahun 90 hingga awal tahun 2000 an, namun sejak 10 tahun terakhir, perkebunan Kakao terus mengalami penurunan luas lahan akibat alih fungsi lahan ke komoditi lain.

“Diperkirakan luas lahan kakao produktif Luwu Utara saat ini tidak lagi mencapai 10 ribu hektar,” ungkapnya.

Dijelaskan, hal ini terjadi karena usia tanaman kakao pada umumnya sudah tua.

“Telah berumur di atas 25 tahun, tingginya serangan hama dan penyakit yang berdampak pada penurunan produktivitas mencapai 500 Kg/Ha/Tahun, di sisi yang lain harga komoditi di level petani hanya kisaran Rp. 35 ribu per kilogram biji kering yang membuat petani tidak bersemangat lagi merawat tanaman mereka,” paparnya.

Batti menyebut ada angin segar meliputi petani kakao saat ini, dimana harga komoditi ini melejit tinggi sejak 4 bulan terakhir yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, yakni Rp. 150 ribu per kilogram biji kering.

“Kondisi ini mestinya dijadikan momentum oleh Pemda untuk mendorong agar petani kembali menanam dan memelihara kembali kakao mereka,” kata dia.

Bersama warga Luwu Utara membangun potensi perkebunan (dok: Istimewa)

“Pemerintah harusnya memberi stimulus bantuan bibit gratis dan membangun kerja kolaboratif bersama para pelaku usaha kakao  dengan melibatkan para pelaku industri kakao untuk terlibat di pendampingan petani,” tambahnya.

“Saatnya Pemda dan Pihak Swasta memiliki Cocoa Learning Center (CLC) yang menjadi pusat pembelajaran budidaya kakao, PT Mars adalah salah satu mitra yang harus dilibatkan dalam CLC tersebut,” lanjutnya.

Hal lain yang disinggung Batti adalah bagaimana memudahkan dan mendorong pelaku usaha untuk membangun industri pengolahan dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi di Luwu Utara.

Menurut mantan Presiden BEM Fakultas Pertanian Unhas ini, jika Pemda berhasil mengembalikan 50 persen luas lahan kakao Luwu Utara (dulu pernah mencapai 40 ribu hektar, maka potensi menghasilkan biji kakao bisa mencapai 30 ribu ton hingga 40 ribu ton per tahun.

“Itu jika produktivitas bisa dimaksimalkan mencapai 1,5 hingga 2 ton/hektar dengan luas lahan 20 ribu Ha,” terangnya.

Waktunya Petani Padi Luwu Utara Tersenyum

Elaborasi tentang peta jalan pembanguanan Luwu Utara oleh Batti berlanjut. Dia mengungkapkan, luas lahan padi non-irigasi Luwu Utara tergolong luas.

“Data BPS mencatat dari total luas lahan padi Luwu Utara kurang lebih 27 ribu hektar, sekitar 13 ribu hektar lahan non-irigasi alias sawah tadah hujan,” kata dia.

“Produktivitas sawah non-irigasi tentu jauh lebih rendah dibanding sawah irigasi. Jika saja gagasan besar pembangunan 2 bendungan – irigasi pertanian di Luwu Utara bisa diwujudkan maka produksi padi Luwu Utara akan sejajar dengan produsen padi Sulsel lainnya seperti Sidrap dan Pinrang,” terangnya.

Dia menambahkan, jika irigasi terbangun, luas lahan padi irigasi Luwu Utara tidak hanya menjadi 27 ribu hektar saja tetapi akan berdampak pada penambahan luas lahan dari pemanfaatan puluhan ribu hektar lahan tidur.

“Lahan rawah dan lahan-lahan kurang produktif akan berubah menjadi lahan-lahan pertanian padi yang produktif, irigasi adalah kebutuhan dasar dalam budidaya padi,” sebutnya.

Tak hanya itu, dia menyebut, nembangun industri padi Luwu Utara yang modern menjadi tekadnya.

Sosok yang saat ini menjabat Pimpinan PT Syngenta Seed Indonesia wilayah Sulawesi dan Kalimantan ini, menegaskan pembangunan komoditi pangan utama ini harus terpadu dari hulu ke hilir.

Jagung, salah satu komoditi unggulan di Luwu Utara (dok: Istimewa)

“Di hulu, jaminan ketersediaan benih unggul, pupuk yang terjangkau hingga alsintan yang modern,” ucapnya.

“Di sektor budidaya, SDM petani harus ditingkatkan, penerapan GAP atau Good Agriculture Practise budidaya padi wajib diterapkan, di hilir mekanisasi mesin-mesin pertanian pasca panen serta mendorong pembangunan industri pengolahan beras di Luwu Utara,” ujarnya.

“Bukan hanya mesin paddy to rice tapi sudah waktunya Luwu Utara memiliki industri Rice to Rice – industri pengemasan beras, sehingga gabah dan beras produksi padi Tana Luwu tidak lagi dikirim ke wilayah Sidrap dan Pinrang,” tegasnya.

Jika saja gagasan-gagasan besar ini bisa diwujudkan, maka tentu harapan “Luwu Utara Kepingan Surga” akan terwujud.

“Masyarakat bisa menikmati limpahan Sumber Daya Alam yang akan menjadikan Luwu Utara dan Masyarakatnya hidup Sejahtera Mandiri,” kuncinya.

____

Profil Bahtiar Manadjeng

Alamat :
Komp Graha Singgasana Blok A No 5 Batangase Maros
Desa Waetuo, Kecamatan Malangke Barat Kabupaten Luwu Utara.

Pendidikan :
SDN 165 Amassangan Malangke Barat (1986-1991)
SMPN 1 Malangke Barat (1991-1994)
SMUN 1 Luwu Utara (1994-1997)
Universitas Hasanuddin, S1 Fak Pertanian Juruan Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman (1997-2004)

Pengalaman Organisasi :
IPMIL Kom Malangke
PP PEMILAR
Sekertaris Umum BEM Fak Pertanian dan Kehutanan Unhas (1998-1999)
Ketua Umum BEM Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unhas (1999-2000)
Kabid PTKP HMI Cabang Makassar Timur (2001-2002)
Ketua Umum Pemuda Tani HKTI Sulsel (2011-2015)
Sekertaris Umum PISPI (Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia) BPW Sulsel (2019-2024)

Pengalaman Kerja :
Farmer Support Team (FST) PT Syngenta Indonesia (2006-2011) area Sulawesi
Pimpinan PT Syngenta Indonesia (2011-2018) area Sulawesi
Pimpinan PT Syngenta Seed Indonesia (2018-sekarang) area Sulawesi & Kalimantan.

 

Redaksi
Editor: K. Azis

Related posts