- Seorang anak belajar berbicara, mengenali aturan, memahami sopan santun, mengenal makanan, menjalankan ritual, memahami hubungan keluarga, dan membedakan sesuatu yang dianggap benar atau salah melalui proses kehidupan sosial di lingkungan tempat ia tumbuh.
- Kebudayaan tidak diwariskan melalui darah atau gen sebagaimana karakter biologis. Kebudayaan diwariskan melalui proses belajar, pengajaran, imitasi, komunikasi, pengalaman, dan interaksi sosial.
- Kebudayaan sebagai “that complex whole” yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Fundamental karena menempatkan kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian mendasar dari kehidupan setiap manusia.
PELAKITA.ID — Ketika berbicara tentang kebudayaan, kita sesungguhnya sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih luas daripada pakaian tradisional, makanan, musik, tarian, atau upacara adat.
Kebudayaan mencakup cara manusia berpikir, mempercayai sesuatu, berperilaku, membangun aturan, menciptakan pengetahuan, serta memberi makna terhadap kehidupan bersama.
Gagasan semacam inilah yang sejak abad ke-19 mulai dirumuskan secara sistematis oleh Edward Burnett Tylor, seorang antropolog Inggris yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh awal dalam pembentukan antropologi modern.
Melalui bukunya yang terkenal, Primitive Culture, yang diterbitkan pada 1871, Tylor menawarkan salah satu definisi kebudayaan yang paling berpengaruh dalam sejarah ilmu sosial.
Ia mendefinisikan kebudayaan sebagai “that complex whole” yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Definisi tersebut sederhana tetapi fundamental karena menempatkan kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian mendasar dari kehidupan setiap manusia.
Dalam pengertian Tylor, kebudayaan pada dasarnya adalah sesuatu yang dipelajari. Manusia tidak dilahirkan dengan seperangkat kebiasaan sosial yang sudah lengkap di dalam tubuhnya.
Seorang anak belajar berbicara, mengenali aturan, memahami sopan santun, mengenal makanan, menjalankan ritual, memahami hubungan keluarga, dan membedakan sesuatu yang dianggap benar atau salah melalui proses kehidupan sosial di lingkungan tempat ia tumbuh.
Karena itu, kebudayaan tidak diwariskan melalui darah atau gen sebagaimana karakter biologis. Kebudayaan diwariskan melalui proses belajar, pengajaran, imitasi, komunikasi, pengalaman, dan interaksi sosial.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal bukan karena pernah mendapatkan pelajaran formal di sekolah, melainkan karena sejak kecil mengamati orang tua, mengikuti kebiasaan keluarga, mendengar cerita, berinteraksi dengan tetangga, serta terlibat dalam kehidupan sehari-hari.
Kebudayaan sebagai Pembeda Manusia
Bagi Tylor, kebudayaan merupakan salah satu karakteristik penting yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Manusia tidak hanya memiliki naluri, tetapi juga membangun sistem pengetahuan, bahasa, kepercayaan, teknologi, hukum, ritual, dan tradisi yang terus berkembang lintas generasi.
Pengetahuan tersebut kemudian tersimpan dalam berbagai bentuk. Bahasa memungkinkan manusia mengkomunikasikan pengalaman, cerita menyimpan ingatan kolektif, agama memberikan kerangka makna, teknologi memperluas kemampuan manusia mengubah lingkungan, sementara norma sosial mengatur hubungan antaranggota masyarakat.
Setiap manusia dengan demikian lahir ke dalam suatu lingkungan kebudayaan tertentu. Ia kemudian belajar menjadi anggota masyarakat melalui proses panjang yang sering kali berlangsung tanpa disadari. Apa yang dianggap sopan, tabu, sakral, normal, aneh, benar, atau salah sering kali merupakan hasil dari kebudayaan yang telah dipelajari sejak masa kanak-kanak.
Di sinilah pemikiran Tylor menjadi penting. Ia membantu menggeser cara pandang tentang perilaku manusia dari penjelasan yang semata-mata biologis menuju pemahaman bahwa lingkungan sosial dan kebudayaan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan manusia.
Gagasan tentang Evolusi Kebudayaan
Salah satu gagasan utama Tylor adalah cultural evolution atau evolusi kebudayaan. Ia berpendapat bahwa masyarakat manusia berkembang dari bentuk yang sederhana menuju bentuk yang semakin kompleks. Pada masa itu, pemikiran semacam ini dianggap sebagai usaha ilmiah untuk menjelaskan perubahan masyarakat manusia sepanjang sejarah.
Tylor membayangkan perkembangan tersebut seperti sebuah tangga.
Pada tingkat bawah terdapat masyarakat yang dianggapnya masih “primitif”, sedangkan pada tingkat lebih tinggi terdapat masyarakat yang dianggap telah mencapai bentuk “beradab”. Dalam konteks pemikiran abad ke-19, masyarakat Eropa pada masa Tylor sering ditempatkan sebagai representasi tahap paling maju dari perkembangan tersebut.
Pandangan ini kemudian menjadi salah satu bagian paling problematis dari teori Tylor. Cara menempatkan masyarakat dalam hierarki berdasarkan ukuran “primitif” dan “beradab” sangat dipengaruhi konteks kolonial abad ke-19 ketika kekuatan Eropa menguasai banyak wilayah di dunia dan mengembangkan keyakinan tentang superioritas peradaban Eropa.
Antropologi modern kemudian meninggalkan model hierarkis tersebut. Kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai tangga yang mengharuskan semua masyarakat bergerak menuju satu bentuk kehidupan yang dianggap paling maju. Masyarakat memiliki sejarah, pengalaman, lingkungan, sistem nilai, dan jalur perkembangan yang berbeda-beda.
Namun, penting dicatat bahwa gagasan Tylor tetap memiliki arti historis. Ia mendorong masyarakat pada zamannya untuk melihat kebudayaan manusia sebagai sesuatu yang dapat dipelajari secara sistematis, bukan sekadar sesuatu yang dinilai berdasarkan standar moral atau kebiasaan masyarakat sendiri.
Animisme dan Perkembangan Agama
Salah satu perhatian besar Tylor adalah agama. Ia berusaha memahami bagaimana kepercayaan religius berkembang dalam sejarah manusia dan memperkenalkan konsep animisme sebagai salah satu bentuk awal kepercayaan.
Animisme, dalam pengertian Tylor, adalah keyakinan bahwa terdapat roh atau kekuatan spiritual yang berhubungan dengan berbagai unsur alam, seperti manusia, hewan, tumbuhan, sungai, angin, atau benda-benda tertentu. Dalam pandangannya, manusia awal berusaha menjelaskan pengalaman seperti mimpi, kematian, penyakit, dan fenomena alam melalui gagasan mengenai roh.
Tylor kemudian melihat perkembangan kepercayaan tersebut sebagai bagian dari proses menuju sistem keagamaan yang lebih kompleks. Ia menghubungkan animisme dengan perkembangan bentuk-bentuk kepercayaan berikutnya, termasuk politeisme atau kepercayaan terhadap banyak dewa, hingga monoteisme atau kepercayaan terhadap satu Tuhan.
Model tersebut kini tidak lagi diterima secara sederhana oleh antropologi modern. Agama dan sistem kepercayaan jauh lebih kompleks daripada sekadar rangkaian tahap evolusi yang linear. Namun, perhatian Tylor terhadap kepercayaan manusia memberikan kontribusi penting bagi perkembangan kajian antropologi agama.
“Survivals”: Jejak Masa Lalu dalam Kehidupan Modern
Konsep lain yang menarik dari Tylor adalah survivals, yaitu kebiasaan, praktik, atau keyakinan yang tetap bertahan dalam suatu masyarakat meskipun fungsi atau makna awalnya telah berubah atau bahkan dilupakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melakukan sesuatu karena “memang begitulah caranya”, tanpa lagi mempertanyakan dari mana kebiasaan tersebut berasal. Tylor melihat fenomena semacam ini sebagai jejak masa lalu yang masih bertahan di tengah kehidupan modern.
Kebiasaan mengetuk kayu untuk keberuntungan atau mengucapkan “bless you” ketika seseorang bersin sering digunakan sebagai contoh sederhana untuk menjelaskan gagasan tersebut. Terlepas dari apakah asal-usul setiap contoh dapat dibuktikan secara historis, konsep survivals menunjukkan sebuah pertanyaan penting: mengapa manusia tetap mempertahankan kebiasaan tertentu bahkan ketika alasan awalnya sudah tidak lagi dipahami?
Dalam perspektif ini, kebudayaan menyerupai lapisan sejarah. Sebagian praktik yang dilakukan masyarakat hari ini merupakan hasil dari proses panjang yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tidak semuanya masih memiliki fungsi asli, tetapi keberadaannya menunjukkan bagaimana masa lalu dapat terus hidup di dalam perilaku masa kini.
Kebudayaan Tidak Berada dalam Darah
Salah satu kontribusi terbesar Tylor adalah penekanannya bahwa perbedaan perilaku manusia tidak dapat begitu saja dijelaskan melalui ras atau faktor biologis. Manusia menjadi berbeda karena mereka tumbuh dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda.
Seorang anak yang lahir di satu tempat akan mempelajari bahasa, norma, makanan, nilai, simbol, dan kebiasaan masyarakat tempat ia dibesarkan. Jika ia tumbuh dalam lingkungan sosial yang berbeda, ia dapat mempelajari sistem kebudayaan yang berbeda pula.
Pandangan ini kemudian menjadi fondasi penting bagi antropologi dan ilmu sosial karena membantu menjelaskan bahwa perilaku manusia memiliki dimensi sosial dan historis yang kuat. Apa yang dianggap normal dalam satu masyarakat belum tentu dianggap normal dalam masyarakat lain.
Makanya, memahami kebudayaan membutuhkan kemampuan untuk melihat manusia dari dalam konteks kehidupannya sendiri. Perbedaan tidak selalu berarti penyimpangan, keterbelakangan, atau kesalahan. Perbedaan sering kali menunjukkan bahwa manusia membangun cara yang beragam untuk menjawab persoalan kehidupan.
Kebudayaan yang Fleksibel sekaligus Mengikat
Pemikiran Tylor juga membawa kita pada satu paradoks penting. Kebudayaan dapat berubah, tetapi pada saat yang sama kebudayaan memiliki kekuatan untuk mempertahankan pola kehidupan tertentu.
Teknologi baru dapat mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, belajar, dan membangun hubungan sosial. Media digital dapat memperkenalkan nilai dan kebiasaan baru dalam waktu sangat cepat. Namun, pada saat yang sama, masyarakat tetap mempertahankan tradisi, bahasa, simbol, ritual, dan nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Kebudayaan karena itu bersifat fleksibel sekaligus mengikat. Ia dapat beradaptasi terhadap perubahan zaman, tetapi juga menyediakan rasa identitas, keteraturan, solidaritas, dan makna bersama bagi anggota masyarakat.
Dalam kehidupan modern yang semakin terhubung, pemahaman tersebut menjadi semakin relevan. Pertemuan berbagai kebudayaan berlangsung setiap hari melalui migrasi, perdagangan, pendidikan, pariwisata, media sosial, dan teknologi digital. Perbedaan budaya bukan lagi sesuatu yang hanya kita temui ketika bepergian ke tempat yang jauh, tetapi hadir di ruang kehidupan sehari-hari.
Mengapa Tylor Masih Penting?
Lebih dari satu abad setelah Primitive Culture diterbitkan, sebagian teori Tylor memang telah dikritik dan ditinggalkan. Pandangan evolusionisnya yang menempatkan kebudayaan dalam hierarki dari “primitif” menuju “beradab” tidak lagi menjadi kerangka utama antropologi modern.
Namun, pertanyaan yang ia ajukan tetap hidup. Bagaimana manusia memperoleh kebudayaan? Bagaimana pengetahuan diwariskan? Mengapa masyarakat memiliki kepercayaan dan kebiasaan yang berbeda? Bagaimana tradisi bertahan? Dan bagaimana kebudayaan memengaruhi cara manusia memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Tylor tetap penting dalam sejarah ilmu sosial. Ia membantu membuka jalan bagi cara berpikir bahwa manusia harus dipahami bukan hanya melalui tubuh biologisnya, tetapi juga melalui bahasa, sejarah, lingkungan sosial, simbol, nilai, kepercayaan, dan kebudayaan yang membentuk kehidupannya.
Pada akhirnya, gagasan paling bertahan lama dari Tylor bukanlah tangga evolusi kebudayaannya, melainkan pemahaman bahwa kebudayaan merupakan bagian mendasar dari kehidupan manusia. Manusia belajar menjadi manusia melalui masyarakat, dan masyarakat membentuk dirinya melalui kebudayaan yang diwariskan, dinegosiasikan, diubah, dan diciptakan kembali dari generasi ke generasi.
Memahami kebudayaan berarti belajar memahami manusia tanpa terburu-buru menghakimi perbedaannya. Setiap masyarakat memiliki sejarah, logika, pengalaman, dan cara sendiri dalam memberi makna terhadap dunia.
Karena itu, mempelajari kebudayaan bukan sekadar mempelajari adat atau tradisi, melainkan membaca bagaimana manusia membangun kehidupan bersama, menciptakan makna, mempertahankan identitas, dan menghadapi perubahan zaman.









