PELAKITA.ID – Di Cafe Pinisi, di atas kapal kayu pinisi yang menjelma jadi tempat nongkrong favorit, lagu Bruno Mars terasa hambar, angin malam bertiup dari tenggara buat gerah. Kabar yang dibagikan fung Acil 99 membuat semuanya terasa suram.
“Meninggal Kak Uccink,” ucap Acil, alumni Kelautan Unhas angkatan 99 saat penulis, Jusli dan Ardi Nur ngopi bareng malam ini.
Kak Uccink, atau Muchsin Situju memang sudah lama dikabarkan sakit, sudah berbulan-bulan. Tapi tetap saja kabar itu terasa menyesakkan.

Kak Uccink, dikenang sebagai guru selam andal asal Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas. Dia angkatan 1988 sementara penulis 89, terpaut beda hanya setahun.
Lantaran itu, terasa sangat dekat saat kuliah hingga selesai atau mengabdi di tempat kerja masing-masing.
Sulit rasanya merangkai kata untuk menggambarkan perasaan kami malam ini, Yusli, Acil, Ardi Nur terdiam saat dengar kabar.
Kami semua pernah atau tidak bisa dilepaskan dari sentuhan keterampilan menyelam atau minimal snorkeling dari Kak Uccink.
Tidak ada anak-anak Kelautan Unhas angkatan 1988 hingga 2010-an yang tidak kenal beliau.
Beliau telah menjadi bagian dari perjalanan saya dan beberapa Anak Kelautan, dalam ilmu kelautan, penyelaman, dan persahabatan selama lebih dari tiga dekade.

Bersama Kak Uccink
Kisah kami bermula pada 1995, ketika bersama-sama terlibat dalam proyek translokasi kima raksasa (giant clam). Ada Andi Jaya, Kun Praseno (alfatihah), Madonk Thamrin, Syafruddin, Rafain, Putu Widiastuti, hingga Kemal Massi.
Mereka ini sangat dekat dan menganggap Kak Uccink sebagai mentor, sebagai kakak, sebagai teman seprofesi Kelautan.
Dua tahun kemudian, pada 1997, Kak Uccink mengajari penulis menyelam dengan baik dan benar melalui pelatihan yang didanai oleh WWF Indonesia Program, latihannya di Pulau Barrang Lompo.
Di bawah bimbingannya, saya kemudian memperoleh sertifikat 1 Star CMAS, yang diteken oleh Mas Boen, dibantu oleh Kak Uccink. Dia adalah satu dari tiga alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas angkatan yang diwisuda pertama kali tahun 1993. Dia, Maxi T. Tjoadi dan Andi Iqbal Burhanuddin.
Dia penyelam yang kuat, baik, dan berpengalaman. Pernah ikut training di kedalaman Danau Matano tahun 90-an awal.
Bagi saya, pengalaman bersama Kak Uccink, bukan sekadar belajar menyelam, tetapi menjadi awal dari hubungan panjang saya dengan dunia bawah laut yang terus melekat hingga hari ini.
Perjalanan kami kemudian terus bersinggungan dalam berbagai kegiatan penting.


Pada 1998, kami bersama-sama terlibat dalam persiapan Coral Reef Rehabilitation Management Project, bersama Bang Ben Baharuddin Nur, Iwan di Bappeda Sulsel. Sama-sama ke Taka Bonerate dalam bulan yang tidak mudah. Ombak kencang dan lautan penuh buih. Kak Uccink beberapa kali mencandai saya, sebab saat itu saya dalam proses menunggu ijab kabul di Mei 1998.
Pada tahun-tahun berikutnya, Kak Uccink juga banyak mendukung kegiatan penyelaman kami, termasuk dengan meminjamkan dan menyediakan peralatan selam miliknya untuk berbagai sesi penyelaman di Kepulauan Spermonde sejak sekitar tahun 2000 dan sesudahnya.
Semua itu dilakukannya dengan tulus, tanpa banyak bicara.
Tentu saja, ada begitu banyak cerita lain yang tidak mungkin semuanya saya tuliskan di sini.
Kenangan kami terbentang sejak masa-masa di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, sejak akhir 1980-an, juga dalam berbagai aktivitas di POSSI Sulawesi Selatan.
Kami pernah melakukan beberapa perjalanan bersama, termasuk ke Taka Bonerate, Selayar, ketika laut kembali menjadi ruang yang mempertemukan pekerjaan, petualangan, dan persahabatan kami.
Kak Uccink adalah sosok yang baik, ramah, menyenangkan, dan penuh humor.
Ia punya cara tersendiri untuk membuat suasana menjadi lebih ringan, bahkan ketika kami sedang menghadapi pekerjaan lapangan yang tidak mudah. Keahlian dan pengalamannya sebagai penyelam tentu sangat berarti, tetapi yang paling akan saya kenang adalah kehangatan dirinya sebagai seorang sahabat.

“Komar, buka celanmu, ombak keras di depan,” katanya pada suatu momen krusial di antara Appatanah dan Pulau Rajuni, Taka Bonerate. Maksud, dia bersiap, situasi di lautan sedang gawat.
Banyak kenangan setelah itu. Bahkan setelah masa-masa awal kami bersama, jalan kami masih beberapa kali berpotongan. Saya beberapa kali bertemu beliau di Rektorat Universitas Hasanuddin, setelah mengetahui bahwa ia bekerja di Unhas sebagai tenaga administrasi.
Pada saat yang sama, ia tetap menjalani kecintaannya pada dunia penyelaman dengan menjadi instruktur dalam berbagai pelatihan selam dan memperkenalkan dunia bawah laut kepada generasi penyelam berikutnya.

Ketika menengok kembali perjalanan itu, saya menyadari betapa banyak bagian dari perjalanan hidup saya yang ternyata bersinggungan dengan Kak Uccink: penyelaman, ilmu kelautan, terumbu karang, pekerjaan lapangan, perjalanan, organisasi, percakapan, dan tentu saja begitu banyak tawa dan cerita.
Terima kasih, Kak Uccink. Terima kasih telah mengajari saya menyelam. Terima kasih atas persahabatan, kebaikan, kemurahan hati, dan begitu banyak kenangan yang kita lalui sejak 1995. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk keluarga dan semua orang yang mencintai dan mengenal beliau.

Selamat jalan, Kak Uccink, Muchsin Situju.
Cerita tentangmu akan tetap tinggal bersama kami. Dan sebagian dari dirimu akan selalu hidup di bawah birunya laut yang begitu engkau cintai.
___
Bulukumba, 31 Agustus 2026









