Kawan dan Mentor yang Luwes

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

In Memoriam Sudirman Nasir, S.Ked., MWH., Ph.D

PELAKITA.ID – Pagi ini tidak seperti biasanya. Saya tidak langsung melirik HP. Nanti setelah semua “ritual” pagi selesai, baru kemudian buka HP. Membuka jendela medsos, scrolling WAG. Ternyata beberapa WAG bersahutan pesan duka cita dan doa untuk Sudirman HN.

Bagi saya, almarhum bukan sekadar aktivis, peneliti, penulis, dan penggiat sastra, tapi juga seorang mentor yang luwes. Bagi mereka yang pernah berinteraksi dengan almarhum tentu bisa menarik resonansi.

Mulai dari pemikirannya yang terbuka hingga pemihakannya pada masyarakat atas sebuah isu. Tidak hanya itu, dia sangat luwes atas pendapat atau sebuah cara pandang. Apalagi jika itu terkait dengan isu kesehatan masyarakat.

Perjumpaan awal saya dengan almarhum sekitar tahun 1996 pada momen diskusi. Ketika Kampus Unhas lagi ranum-ranumnya kelompok diskusi.

Almarhum saat itu menggawangi Lingkar Studi Metastase dan Masyarakat Sastra Tamalanrea. Kami juga kemudian dipertemukan di UKM Media (sekarang UKPM-UH) sebagai salah satu pendiri.

Kami lebih akrab memanggilnya Bung Sudirman HN.

Saya kemudian memanfaatkan pengalaman menulis dari almarhum.

Selama di Lintas Studi Metastase, almarhum aktif menulis di media nasional dan media lokal bersama almarhum Andi Baso.

Tulisan almarhum di Kompas saya kliping dan masih tersimpan sampai sekarang.

Kebersamaan berlanjut ketika momentum pemilu. Kami ajak untuk bergabung di KIPP Makassar sebagai presidium bersama Abdul Rahman Karim (sekarang berprofesi hakim) dan Arsyanti (sekarang berprofesi advokat di Kalimantan).

Ketika itu almarhum lagi aktif sebagai peneliti di LPM Unhas dan asisten dosen.

Dari almarhum juga saya berguru bagaimana pentingnya membangun gagasan yang berbasis data dalam sebuah proposal.  Soal ini beberapa kali menemui almarhum di rumahnya di Jl. Pettarani 3. Layaknya seorang mentor, tidak selesai di tingkat diskusi, tapi kadang minta dia untuk “mereview” dan memberikan comment.

Setelah itu dapat kabar kalau almarhum menjadi dosen FKM Unhas dan bolak-balik Australia–Indonesia untuk melanjutkan sekolah dan kegiatan penelitian.

Makanya suatu ketika saya rencana berkunjung ke Sydney, Australia, saya BBM (BlackBerry) almarhum untuk info cuaca dan perlengkapan yang harus dibawa.

Setelah itu kami tidak kontak-kontakan lagi. Belakangan sering dapati publikasi riset dan artikelnya di jurnal atau media yang fokus pada isu sosial kesehatan masyarakat.

Suatu ketika di tahun 2017, dia mengontak saya.

Dia minta dipertemukan dengan teman-teman di LBH. Beberapa petani Soppeng ditangkap dengan tuduhan merambah hutan. Alhasil, para petani itu kemudian divonis bebas oleh pengadilan.

Terakhir bertemu almarhum sekitar 3 tahun lalu. Kami berpapasan saat almarhum keluar dari Warkop Sija Holic Boulevard Panakkukang. Sambil jalan menuju parkiran, sambil bersalaman, dia berujar: “Kapan kita ngopi ya, Zis?”

Al-Fatihah untuk Bung Sudirman HN.

___


Abdul Azis, pengacara tinggal di Makassar