Hadirkan Gerai Khas Takalar di Bandara, Visi Daeng Manye dari Perspektif Ekonomi Modern dan Kepemimpinan Transformasional

  • Whatsapp
Daeng Manye,"Gerai Khas Takalar' akan hadir di bandara internasional Sultan Hasanuddin (ilustrasi Pelakita oleh AI)
  • Poteng, je’ne poteng, bipang, lammang, kaddo bulo, bayao torani dalam kemasan plastik, songkok guru dari Mangindara, tembikar Takalar, bolu gulung, informasi spot lokasi wisata seperti Pulau Sanrobengi, Tanakeke, Paria Lau, hingga hasil perikanan, dan berbagai produk UMKM Takalar memperoleh panggung baru yang sebelumnya tidak mereka miliki.
  • Gerai “Khas Takalar” bukan hanya soal menjual makanan tradisional atau produk UMKM. Ia merupakan simbol dari paradigma pembangunan yang lebih progresif: membawa daerah ke pasar, bukan sekadar menunggu pasar datang ke daerah.

PELAKITA.ID – Saat menunggu pesawat Batik Air tujuan Jakarta 12 Agustus 2026 lalu, saya merekam video Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman yang sedang mempromosikan Sensus Ekonomi untuk disukseskan, lalu nampak Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam menyatakan harapan sama.

Video itu diputar berulang-ulang, bisa sampai ribuan kali dalam sehari. Saya yang duduk di Gate 8 berpikir, inilah promosi yang sangat efektif karena menjadi atensi pengunjung bandara dan pasti akan jadi ‘top in mind‘ setelah itu.

Ilustrasi Pelakita oleh AI

Wajar jika banyak kepala daerah yang berharap melakukan hal yang sama.

Jika para pembaca amati selama beberapa tahun terakhir di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin saya berani bertaruh kalau nyaris tidak ada yang bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik, setidaknya membuat gerai khusus yang akan selalu dilihat orang.

Saya kira, bukan semata soal apakah mereka bisa membayar sewa ruang tetapi apakah ada konten yang akan menarik dan akan menjadi daya pikat untuk menjadi atensi publik.

Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, saat bersua sejumlah awak media, bahkan bos Google Indonesia menjawab harapan itu dengan menyebut ‘kami akan membuka gerai Pemda Takalar di Bandara Sultan Hasanuddin‘.

Dia menyampaikan itu beberapa saat sebelum penulis ke bandara.

“Wah luar biasa Pak Bupati,” timpal Upi Asmaradhana CEO Kabar Grup Indonesia.

“Bagus itu Pak Bupati,” balas Yos Kusuma dari Google Indonesia yang berkantor di Singapura.

Pujian juga datang dari Una Sain, bos Radar Selatan Fajar Group, serta Sumarjono bos Suara.com yang sempat menyalami Bupati Daeng Manye kala itu.

Daeng Manye (kanan) bertemu perwakilan Google Indonesia kantor Singapura, Yos Kusuma di Makassar (dok: Pelakita.ID)
Daeng Manye (kiri) bersama Kamaruddin Azis, Sunarti Sain dan Upi Asmaradhana (dok: Pelakita.ID)

Kreativitas pemimpin

Ketika Bupati Takalar, Daeng Manye, menggagas kehadiran Gerai “Khas Takalar” di Terminal Keberangkatan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sebagian orang mungkin melihatnya sekadar sebagai upaya memasarkan produk UMKM.

Jika dicermati lebih dalam, gagasan tersebut sesungguhnya merepresentasikan cara berpikir baru dalam pembangunan daerah.

Ini bukan hanya tentang membuka toko, melainkan membangun titik temu antara identitas lokal, mobilitas manusia, teknologi digital, dan pasar global yang bergerak semakin cepat.

Secara ontologis, gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa pembangunan daerah tidak lagi cukup dilakukan dari dalam batas-batas administratif kabupaten.

Dalam ekonomi modern, daerah tidak berkembang hanya karena memiliki sumber daya, tetapi karena mampu menghadirkan dirinya di ruang-ruang strategis tempat manusia, informasi, dan transaksi ekonomi bertemu.

Bandara adalah salah satu ruang tersebut. Setiap hari ribuan orang datang dan pergi melalui Sultan Hasanuddin, membawa pengalaman, preferensi konsumsi, jaringan sosial, dan potensi pasar. Dalam perspektif ini, bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi gerbang ekonomi yang menghubungkan Takalar dengan dunia luar.

Dari sisi epistemologi, pendekatan Daeng Manye menunjukkan pemahaman bahwa pengetahuan pembangunan tidak selalu harus berangkat dari proyek-proyek besar yang membutuhkan waktu panjang.

Sebaliknya, pembangunan dapat dimulai dari membaca peluang yang tersedia saat ini dan memanfaatkannya secara cepat serta terukur.

Inilah yang tampaknya menjadi semangat dari slogan Takalar Cepat. Pemerintah daerah tidak menunggu investor datang ke Takalar, tetapi membawa identitas Takalar mendekati konsumen.

Tidak menunggu wisatawan berkunjung ke sentra UMKM atau menunggu flyer dan studi banding pejabat membawa brosur wisata, tetapi menghadirkan produk UMKM di lokasi dengan lalu lintas manusia tertinggi di kawasan timur Indonesia.

Di sana, tujuh destinasi unggulan Takalar pasti akan hadir, berikut pernak pernak informasi akses, sarana prasarana tersedia dan mitra atau operator wisata yang akan menyambut di Takalar.

Dalam teori ekonomi regional, langkah ini sejalan dengan konsep market access theory, yaitu gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh kemampuan suatu wilayah mengakses pasar yang lebih luas.

Banyak produk lokal gagal berkembang bukan karena kualitasnya rendah, tetapi karena keterbatasan akses terhadap konsumen.

Gerai di bandara berfungsi sebagai jembatan yang memperpendek jarak antara produsen lokal dan pasar nasional bahkan internasional.

Poteng, je’ne poteng, bipang, lammang, kaddo bulo, songkok guru, tembikar Takalar, bolu gulung, bayao torani dalam kemasan plastik, spot lokasi wisata seperti Pulau Sanrobengi, Tanakeke, Paria Lau, hingga hasil perikanan, dan berbagai produk UMKM Takalar memperoleh panggung baru yang sebelumnya tidak mereka miliki.

Dalam perspektif pemasaran modern, inisiatif ini juga mencerminkan penerapan konsep place branding.

Simon Anholt, salah satu pemikir terkemuka dalam kajian identitas wilayah, menjelaskan bahwa daerah yang berhasil bukan hanya menjual produk, tetapi juga menjual cerita, reputasi, dan pengalaman.

Ketika gerai tersebut dirancang dengan pintu masuk berbentuk Gerbang Takalar, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya toko oleh-oleh.

Yang sedang dibangun adalah pengalaman visual dan emosional tentang Takalar. Setiap pembeli yang masuk akan memperoleh kesan bahwa Takalar memiliki identitas budaya yang kuat dan layak diingat.

Lebih jauh lagi, konsep pembayaran non-tunai dan integrasi dengan layanan pengiriman menunjukkan bahwa gagasan ini tidak berhenti pada romantisme produk lokal.

Daeng Manye tampaknya memahami bahwa konsumen modern membeli berdasarkan kemudahan (convenience economy). Dalam ekonomi digital, pelanggan tidak hanya mempertimbangkan kualitas produk, tetapi juga kecepatan transaksi, kemudahan pembayaran, dan efisiensi pengiriman.

Ketika pembeli dapat memesan produk dan langsung mengirimkannya ke alamat tujuan tanpa menambah bagasi penerbangan, hambatan konsumsi menjadi jauh lebih kecil.

Nilai produk meningkat karena pengalaman membeli menjadi lebih praktis.

Dalam teori rantai nilai (value chain), inisiatif ini juga menarik karena memperluas nilai tambah produk lokal. Selama ini UMKM sering berhenti pada aktivitas produksi.

Padahal keuntungan terbesar dalam banyak industri justru berada pada distribusi, pemasaran, pengemasan, dan pengalaman pelanggan.

Dengan menghadirkan outlet di bandara, Pemerintah Kabupaten Takalar sedang membantu pelaku usaha memasuki mata rantai yang selama ini sulit mereka akses.

Produk lokal tidak lagi sekadar diproduksi dan dijual di pasar tradisional, tetapi masuk ke ekosistem ekonomi yang lebih modern dan bernilai tinggi.

Dari perspektif pembangunan daerah, gerai ini dapat dipahami sebagai bentuk investasi sosial-ekonomi yang relatif kecil namun memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar.

Ketika permintaan terhadap produk meningkat, maka produksi akan meningkat. Ketika produksi meningkat, kebutuhan bahan baku bertambah. Ketika bahan baku bertambah, petani, nelayan, pengolah pangan, jasa logistik, hingga sektor kemasan ikut bergerak. Dengan kata lain, satu gerai berpotensi menggerakkan banyak mata rantai ekonomi di Takalar.

Pemimpin adaptif dan melek teknologi

Gagasan ini juga memperlihatkan karakter kepemimpinan yang adaptif terhadap momentum.

Dalam literatur manajemen strategis, pemimpin yang efektif bukanlah mereka yang hanya menyusun rencana besar, tetapi mereka yang mampu mengidentifikasi peluang strategis dan mengeksekusinya lebih cepat dibandingkan pihak lain, mengeksekusi dengan memanfaatkan jejaring dan sumber daya tersedia.

Bisa jadi sewa tempat itu di atas rerata tetapi bukankah semua itu konsekuensi dari ingin membangun daerah? Penulis membayangkan tricle down effect bagi pelaku UMKM jika Daeng Manye memang membuktinya janjinya membuka gerai di bandara.

Pembaca sekalian, begitulah, Bandara Sultan Hasanuddin adalah pusat mobilitas terbesar di Sulawesi Selatan.

Menempatkan produk Takalar di sana berarti menempatkan identitas daerah pada titik dengan tingkat eksposur tertinggi. Ini adalah strategi yang sederhana, tetapi sangat logis.

Gerai “Khas Takalar” bukan hanya soal menjual makanan tradisional atau produk UMKM. Ia merupakan simbol dari paradigma pembangunan yang lebih progresif: membawa daerah ke pasar, bukan sekadar menunggu pasar datang ke daerah.

Ia mencerminkan keyakinan bahwa identitas lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikemas secara kreatif, didukung teknologi digital, dan ditempatkan pada lokasi yang tepat.

Dalam konteks itulah gagasan Daeng Manye layak dipandang sebagai inovasi pembangunan daerah yang relevan dengan semangat ekonomi abad ke-21.

Sebuah upaya menghubungkan tradisi dengan teknologi, produk lokal dengan pasar global, serta kebanggaan budaya dengan peluang ekonomi.

Jika berhasil dijalankan secara konsisten, gerai ini dapat menjadi contoh bagaimana sebuah daerah membangun masa depannya bukan melalui proyek yang rumit, melainkan melalui kemampuan membaca peluang dan bergerak cepat memanfaatkannya.

Nibodoi kana caritayya, kudukungi nakke, yang perlu dilakukan sekarang, para pemilik UMKM dan pengelola lokasi wisata untuk segera bebenah dan bersiap menjemput impian bersama Daeng Manye.

____
Tamarunang 23 Agustus 2026

Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID