PELAKITA.ID – Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami), yang biasa dilaksanakan anak-anak Pramuka, terasa berbeda di Sanggar Seni Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Kegiatan Persami di sanggar bakti yang berada di Dusun Paranrea, sekira 2 km dari Masjid Besar Limbung itu dipenuhi aktivitas seni budaya Makassar.
“Saya mengimpikan sanggar ini jadi wadah edukasi, literasi kebudayaan, dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Saya senang bila semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya,” terang Indar Jaya, pendiri Sanggar Seni Bakti Antara Nusantara.
Indar Jaya menyebut apa yang dilakukannya bersama sejumlah seniman dan penggerak kebudayaan sebagai agrobudaya.
Di sanggar yang didirikan pada 17 Juli 2025 itu, bergabung nama-nama yang punya rekam jejak kuat. Antara lain, Haeruddin Daeng Nassa, maestro Pasinrilik, Rahmat Soni Daeng Romo yang oleh anak-anak sanggar dijuluki the special one, Frans Yusuf, seniman dan pelatih tari tradisi, serta Muhammad Tahir M, seniman dan pembina UKM Seni Budaya “Talas” Unismuh, Makassar, serta beberapa nama lainnya.

Sanggar yang berada di Jalan Pramuka, Desa Maccini Baji itu, satu area dengan lokasi budi daya ikan nila, Insan Nusantara Gemilang, yang menyediakan ikan nila, bibit ikan, pakan ikan, azolla, dan ayam kampung. Makanya ada kolam bioflok dan tambak ikan nila.
Anak-anak yang ikut Persami, berasal dari jenjang pendidikan beragam, mulai SD, SMP, hingga SMA. Indar Jaya mengatakan, daripada mereka menghabiskan waktu hanya bermain HP, lebih baik mengisinya dengan aktivitas seni budaya.
“Terpenting itu, kita sama-sama menjaga kepercayaan yang diberikan orang tua. Itulah mengapa, mereka senang di sini. Bahkan ada yang dari desa tetangga, bukan hanya dari Maccini Baji,” tambah Indar Jaya.

Anak-anak memang terlihat tekun berlatih di bawah arahan Frans Yusuf. Mereka berlatih Tari Anging Mammiri, dengan gerakan yang sangat memperhatikan harmonisasinya. Menurut Frans Yusuf, penari yang baik perlu memperhatikan kesempurnaan gerak dan penghayatan lagunya.
“Anak-anak ini belajar dari nol. Mereka masih murni. Jadi bagus dibentuk. Apalagi dalam menari tari tradisi,” papar Frans Yusuf yang tak henti-henti mengingatkan pentingnya volume saat menari.
Pelatih tari yang sudah malang melintang di berbagai even itu mengibaratkan anak-anak yang belajar tari dari Youtube bagai anak-anak yang tak punya orang tua. Karena mereka hanya menari tanpa memahami makna filosifisnya.
Dia lalu mencontohkan, saat membawakan Tari Pattennung, salah satu tangan diangkat. Itu menggambarkan tangannya sedang mencari cahaya, untuk memasukkan benang ke lubang jarum. Sehingga mata si penari mesti melihat ke tangannya itu. Bukan malah ke penonton, atau mencari-cari di mana mamanya.
Untuk anak laki-laki, mereka bermain Tari Ganrang Bulo tetapi didahului dengan cerita I Tolok Daeng Magassing, yakni kisah kepahlawanan melawan VOC Belanda.
Pendidikan karakter ditanamkan melalui pembiasaan. Anak-anak peserta Persami ini makan bersama, setelah terlebih dahulu sholat Magrib berjamaah di halaman sanggar.
Persami berbasis seni budaya bertujuan untuk menanamkan cinta budaya lokal Makassar, mengembangkan kreativitas dan bakat anak, serta membentuk karakter mereka. Selain menjaga kelestarian budaya, mereka juga saling bersilaturahmi memperkuat persaudaraan.
Meski kehadiran Sanggar Seni Antara Nusantara baru berusia setahun, tetapi sanggar dengan moto “tumbuh bersama, bahagia berkarya” ini telah menggelar beberapa even.
Misalnya, dalam rangka Hari Anak Nasional, mereka mengadakan Festival Permainan Tradisional Tingkat SD dan SMP bertema “Main Gembira Anak Nusantara”, pada 23-28 Juli 2026.
Mereka juga membuka Sekolah Sinrilik Angkatan I, dengan semangat bahwa Sinrilik merupakan budaya luhur Gowa, harus lestari. Kegiatan yang diadakan pada 2 Mei 2026 ini, dihadiri langsung Bupati Gowa, Dr Sitti Husniah Talenrang, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, Sinatriyo Danuhadiningrat.









