Argentina Bukan Sekadar Messi: Membaca Fanatisme Seorang Fans Asal Kota Kalong Soppeng

  • Whatsapp
Muhammad Ridha, fans Argentina asal Kota Kalong Watangsoppeng (image Pelakita oleh AI)

Hasil polling ini merupakan inisiatif Pelakita.ID untuk mengukur kadar kemurnian fans Argentina.

Salah satu responden yang menarik perhatian adalah Muhammad Ridha, seorang penggemar sepak bola asal Kota Kalong, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

PELAKITA.ID – Mengapa seseorang di Indonesia bisa begitu mencintai Tim Nasional Argentina? Apakah karena Lionel Messi, sejarah kejayaan Albiceleste, atau memang telah menjadikan Argentina sebagai bagian dari identitas sepak bolanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menarik untuk dijawab, mengingat Argentina merupakan salah satu tim nasional asing dengan basis pendukung terbesar di Indonesia.

Bahkan, komunitas penggemarnya terus berkembang dari generasi ke generasi, mulai dari era Diego Maradona, Gabriel Batistuta, Juan Román Riquelme, hingga Lionel Messi.

Namun, fanatisme sejati tidak cukup diukur dari seberapa sering mengenakan jersey biru-putih atau mengunggah selebrasi kemenangan di media sosial. Fanatisme justru terlihat ketika seorang pendukung dihadapkan pada pilihan-pilihan sederhana yang menguji loyalitasnya.

Pelakita.ID mencoba mengukur hal tersebut melalui lima pertanyaan yang disusun secara bertingkat, mulai dari sekadar menyukai Argentina hingga benar-benar menjadikan Albiceleste sebagai bagian dari identitas sepak bola.

Salah satu responden yang menarik perhatian adalah Muhammad Ridha, seorang penggemar sepak bola asal Kota Kalong, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Dari jawaban yang diberikan, tampak bahwa Ridha bukan sekadar penggemar Lionel Messi, melainkan seorang pendukung Argentina yang memiliki ikatan emosional kuat dengan tim berjuluk Albiceleste itu.

Ketika diberi pilihan antara menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia atau Argentina yang berlangsung pada waktu bersamaan, Ridha tanpa ragu memilih Argentina.

Jawaban ini mungkin memunculkan perdebatan di kalangan pencinta sepak bola nasional. Namun, dalam konteks survei tersebut, pilihan itu menunjukkan bahwa Argentina memang menjadi prioritas utamanya dalam menikmati sepak bola internasional.

Pilihan tersebut bukan berarti ia mengesampingkan kecintaannya terhadap Timnas Indonesia. Sebagaimana pendukung Liverpool rela begadang demi menyaksikan tim kesayangannya, atau penggemar Barcelona tak pernah melewatkan El Clásico, setiap pencinta sepak bola memiliki “rumah” yang menjadi pusat perhatian emosional mereka. Bagi Ridha, rumah itu adalah Argentina.

Ikatan emosional itu semakin terlihat ketika ia ditanya bagaimana perasaannya jika Argentina kalah di final Piala Dunia. Ridha memilih jawaban paling emosional: “Rasanya seperti tim sendiri yang kalah.”

Jawaban ini menunjukkan bahwa hubungan emosionalnya dengan Argentina telah melampaui sekadar menikmati pertandingan.

Dalam psikologi olahraga, fenomena seperti ini dikenal sebagai Basking in Reflected Glory (BIRG), yakni ketika seseorang mengaitkan identitas dirinya dengan keberhasilan sebuah tim. Sebaliknya, ketika tim tersebut kalah, ia ikut merasakan kesedihan yang mendalam seolah kekalahan itu dialami sendiri.

Dengan kata lain, Argentina bukan lagi sekadar tontonan, tetapi telah menjadi bagian dari pengalaman emosionalnya sebagai pecinta sepak bola.

Fanatisme tersebut juga tercermin dari kesediaannya berkorban demi menyaksikan pertandingan. Ridha mengaku rela begadang meski keesokan harinya harus bekerja. Jawaban ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi jutaan penggemar sepak bola Indonesia, begadang adalah bentuk loyalitas yang nyata.

Selama Piala Dunia 2022, misalnya, tidak sedikit pendukung Argentina yang rela mengorbankan waktu istirahat demi menyaksikan perjuangan Messi dan kawan-kawan pada dini hari. Rutinitas sehari-hari seakan bisa ditunda sementara demi menyaksikan pertandingan yang hanya berlangsung 90 menit.

Bagian paling menarik justru muncul ketika Ridha ditanya apakah ia akan tetap mendukung Argentina setelah Lionel Messi pensiun.

Tanpa ragu ia menjawab, “Ya, karena saya mendukung negaranya.”

Jawaban ini menjadi pembeda yang cukup jelas antara penggemar Lionel Messi dan pendukung Timnas Argentina.

Tidak dapat dimungkiri bahwa jutaan orang mulai mengenal Argentina melalui sosok Messi. Sebelumnya, generasi lain jatuh cinta kepada Albiceleste berkat Diego Maradona. Namun sejarah sepak bola menunjukkan bahwa pemain hebat akan datang dan pergi. Yang tetap bertahan adalah identitas sebuah tim nasional.

Ridha tampaknya memahami hal itu. Baginya, Messi adalah legenda, tetapi Argentina jauh lebih besar daripada satu nama.

Komitmen tersebut semakin diperkuat oleh jawaban terakhirnya. Ia mengaku selalu mengikuti perkembangan Argentina, siapa pun pelatih maupun pemainnya.

Artinya, ia tidak hanya hadir setiap empat tahun saat Piala Dunia digelar. Ia juga mengikuti perjalanan Argentina di Copa América, Kualifikasi Piala Dunia, hingga proses regenerasi pemain dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penggemar seperti ini biasanya tidak hanya mengenal Lionel Messi, tetapi juga Emiliano Martínez, Cristian Romero, Alexis Mac Allister, Enzo Fernández, Julián Álvarez, hingga deretan pemain muda yang dipersiapkan menjadi penerus kejayaan Albiceleste.

Jika setiap jawaban diberi skor satu hingga empat poin, Ridha memperoleh 15 dari total 20 poin.

Nilai tersebut menempatkannya pada kategori “Argentina Loyalist”, yaitu pendukung dengan tingkat loyalitas tinggi yang tetap mengikuti perjalanan tim dalam berbagai situasi, meski belum sampai pada tingkat fanatisme ekstrem seperti rela bepergian ke luar negeri untuk menyaksikan setiap pertandingan secara langsung.

Profil seperti Muhammad Ridha kemungkinan mewakili ribuan bahkan jutaan pendukung Argentina di Indonesia.

Mereka tidak hanya mengagumi seorang pemain, tetapi juga menikmati sejarah panjang, filosofi permainan, karakter pantang menyerah, dan budaya sepak bola yang melekat pada Argentina.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola memang mampu melampaui batas geografis. Indonesia dan Argentina dipisahkan lebih dari 15 ribu kilometer, namun kecintaan terhadap Albiceleste berhasil menyatukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda dalam satu bahasa universal: sepak bola.

Fanatisme tidak diukur dari banyaknya koleksi jersey atau seberapa sering seseorang mengunggah foto Lionel Messi di media sosial.

Fanatisme sejati tercermin dari konsistensi: tetap mengikuti perjalanan tim ketika generasi berganti, tetap mendukung saat hasil pertandingan tidak sesuai harapan, dan tetap bangga mengenakan warna biru-putih meski sang megabintang telah pensiun.

Bagi Muhammad Ridha, fans asal Kota Kalong, Kabupaten Soppeng, Argentina bukan sekadar tim nasional favorit. Albiceleste telah menjadi bagian dari perjalanan emosionalnya sebagai pencinta sepak bola—sebuah loyalitas yang bertahan melampaui era para legenda.

__
Tim Redaksi