Disperindag Sulsel: Membangun Sulsel dari Kopi, Membangun Ekosistem Bisnis

  • Whatsapp
Yunita Ghalib, mewakili Dinas Perindang pada Bincang Ekonomi Daerah Sulsel, UMKM berbasis komoditas kopi (dok: Ilustrasi Pelakita.ID)
  • Salah satu isu penting yang mendapat perhatian adalah penjenamaan (branding) daerah. Selama ini, nama Toraja telah menjadi identitas utama kopi Sulawesi Selatan di pasar internasional.
  • Reputasi tersebut tentu menjadi aset yang sangat berharga. Namun, kondisi itu juga membuat kopi dari daerah lain sering kali tenggelam di bawah bayang-bayang Toraja. Padahal, Enrekang, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Gowa, dan sejumlah wilayah lainnya seperti Pujananting di Barru memiliki karakter rasa yang unik dan layak dikenal sebagai single origin tersendiri.

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Kopi bukan lagi sekadar komoditas perkebunan. Di tengah perubahan pasar global, kopi telah berkembang menjadi bagian dari industri kreatif, pariwisata, ekonomi digital, hingga investasi yang menjanjikan.

Sulawesi Selatan selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu lumbung kopi terbaik Indonesia. Nama Toraja telah menjadi ikon yang diakui dunia, sementara kopi dari berbagai daerah lain terus mengalir ke pasar domestik maupun internasional.

Di balik reputasi tersebut, tersimpan sebuah tantangan besar: bagaimana mengubah kopi dari sekadar komoditas menjadi sumber nilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, UMKM, dan perekonomian daerah.

Kesadaran inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan Bincang Ekonomi Daerah bertajuk “Kebijakan UMKM Berbasis Komoditas, Peluang Investasi Kopi serta Kolaborasi untuk Penguatan Ekonomi Daerah”, yang digelar dalam rangkaian Kelas Studi Pembangunan Unhas 2025 bersama Pelakita.ID atas dukungan Universitas Hasanuddin, DPP Garuda Astacita Nusantara dan Ikafe Unhas.

Forum yang berlangsung di Red Corner Cafe, Makassar, pada Jumat, 3 Juli 2026, menghadirkan tiga perspektif berbeda namun saling melengkapi.

Dari sisi pemerintah, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan, Yunita Ghalib yang mewakil Plt Kadis Wiwik E. Wijaya yang memaparkan arah kebijakan pengembangan UMKM berbasis komoditas serta strategi memperkuat daya saing produk Sulawesi Selatan di pasar nasional maupun internasional.

Dari kalangan akademisi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Mursalim Nohong, mengulas pentingnya membangun ekosistem bisnis kopi yang terintegrasi, mulai dari penguatan petani, hilirisasi industri, koperasi, hingga pengembangan coffee tourism sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Sementara itu, M. Faizal “Ical” R, praktisi bisnis kopi, berbagi pengalaman lapangan mengenai dinamika industri kopi, peluang investasi, tantangan pasar, serta strategi membangun merek dan nilai tambah agar kopi Sulawesi Selatan mampu bersaing di tingkat global.

Diskusi ini dimoderatori oleh Kamaruddin Azis, Koordinator Unhas Development Study Club – Class 2025, yang menginisiasi ruang dialog lintas sektor sebagai wadah bertemunya gagasan, pengalaman, dan solusi bagi pembangunan ekonomi daerah.

Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, mahasiswa, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap masa depan ekonomi Sulawesi Selatan.

Ilustrasi kegiatan

Paparan Dsperindag Sulsel

Di tengah semakin ketatnya persaingan global, penguatan UMKM berbasis komoditas, hilirisasi industri kopi, inovasi produk, digitalisasi pemasaran, serta sinergi antarpemangku kepentingan menjadi fondasi penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Masa depan kopi Sulawesi Selatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak biji kopi dipanen, tetapi oleh seberapa besar nilai yang mampu diciptakan untuk petani, UMKM, dan masyarakat.

Menurut Yunita atau biasa disapa Ayu Ghalib, dalam lima tahun terakhir, lanskap perdagangan kopi mengalami transformasi yang sangat cepat. Perubahan paling nyata terjadi pada perilaku konsumen, terutama di kalangan generasi muda.

Jika sebelumnya masyarakat membeli kopi sebagai minuman, kini konsumen membeli lebih dari itu. Mereka mencari kualitas rasa, keberlanjutan proses produksi (sustainability), identitas asal (origin), hingga kisah para petani yang menghasilkan kopi tersebut.

Perubahan preferensi tersebut menunjukkan bahwa kopi tidak lagi dipandang sebagai komoditas semata, melainkan bagian dari gaya hidup sekaligus pengalaman budaya. “Konsumen saat ini tidak hanya membeli coffee beans, tetapi juga membeli cerita.”

Fenomena tersebut menjadi peluang besar bagi Sulawesi Selatan yang memiliki keragaman daerah penghasil kopi dengan karakter rasa yang berbeda-beda.

Di sisi lain, Ayu Ghalib mengingatkan bahwa industri kopi Sulawesi Selatan masih menghadapi persoalan klasik.

Mayoritas hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk green beans atau biji kopi mentah. Akibatnya, proses pengolahan yang menghasilkan nilai tambah justru lebih banyak dilakukan di luar daerah. Margin keuntungan terbesar dinikmati oleh pelaku industri hilir, sementara daerah penghasil hanya memperoleh manfaat dari sisi produksi.

Situasi ini dikenal sebagai commodity trap, yaitu kondisi ketika suatu daerah menjadi pemasok bahan baku tanpa menikmati keuntungan terbesar dari rantai nilai industri.

Karena itu, paradigma perdagangan kopi harus berubah. Fokus pembangunan tidak lagi semata meningkatkan volume produksi, melainkan memperbesar nilai tambah melalui hilirisasi dan inovasi produk.

Menurut Ayu Ghalib, peluang terbesar industri kopi Sulawesi Selatan terletak pada pengembangan produk bernilai tambah.

UMKM tidak cukup hanya menjual biji kopi mentah atau kopi bubuk konvensional. Mereka perlu mengembangkan berbagai produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar modern, seperti roasted beans, drip bag coffee, kopi siap minum (ready-to-drink), hingga berbagai produk kreatif berbasis kopi.

Potensi pengembangannya bahkan melampaui sektor pangan. Kopi dapat diolah menjadi hampers premium, suvenir, produk kecantikan, aromaterapi, hingga karya seni yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Semakin panjang rantai pengolahan dilakukan di Sulawesi Selatan, semakin besar pula nilai ekonomi yang tinggal di daerah.

Saatnya Tidak Hanya Mengandalkan Nama Toraja

Salah satu isu penting yang mendapat perhatian adalah penjenamaan (branding) daerah.

Selama ini, nama Toraja telah menjadi identitas utama kopi Sulawesi Selatan di pasar internasional.

Reputasi tersebut tentu menjadi aset yang sangat berharga. Namun, kondisi itu juga membuat kopi dari daerah lain sering kali tenggelam di bawah bayang-bayang Toraja. Padahal, Enrekang, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Gowa, dan sejumlah wilayah lainnya memiliki karakter rasa yang unik dan layak dikenal sebagai single origin tersendiri.

Karena itu, Disperindag, ujar Ayu, terus mendorong pembangunan origin-based branding yang lebih inklusif agar setiap daerah memperoleh ruang untuk membangun identitasnya sendiri.

Semakin banyak asal kopi (origin) yang dikenal dunia, semakin kuat posisi Sulawesi Selatan sebagai penghasil kopi spesialti dengan keragaman cita rasa.

Membangun Ekosistem Kopi Sulawesi Selatan

Ayu Ghalib menegaskan bahwa transformasi industri kopi tidak dapat dilakukan secara parsial.

Perdagangan kopi modern tidak lagi cukup mempertemukan penjual dan pembeli.

“Yang dibutuhkan adalah sebuah ekosistem yang menghubungkan petani, UMKM, industri pengolahan, eksportir, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, pemerintah, hingga pasar global dalam satu rantai nilai yang saling memperkuat,” kata Ayu.

Kolaborasi menjadi kata kunci. Ekosistem tersebut harus dibangun melalui standardisasi mutu, promosi terpadu, penguatan akses pasar, digitalisasi perdagangan, serta peningkatan kapasitas pelaku UMKM agar mampu memenuhi standar nasional maupun internasional.

Agenda Strategis ke Depan

Untuk mempercepat transformasi tersebut, Disperindag Sulawesi Selatan mengusulkan sejumlah agenda strategis.

Dalam jangka pendek, pemerintah perlu melakukan pemetaan UMKM potensial, memperluas forum business matching, memperkuat promosi, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha.

Sementara itu, agenda jangka menengah mencakup pembentukan pusat promosi kopi Sulawesi Selatan, program pendampingan ekspor (export coaching), penguatan sertifikasi mutu dan keamanan pangan, serta peningkatan kapasitas UMKM dalam pemasaran digital dan pengembangan kemasan produk.

Berbagai fasilitas yang telah disiapkan pemerintah—mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga subsidi kemasan melalui UPT Makanan dan Minuman—diharapkan menjadi stimulus agar UMKM kopi mampu naik kelas.

Pembaca sekalian, di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat, masa depan kopi Sulawesi Selatan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya kopi yang dipanen ataupun diekspor.

Keberhasilan akan diukur dari kemampuan menciptakan nilai tambah, memperkuat identitas daerah, membangun merek yang kuat, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Ketika secangkir kopi mampu menghadirkan cita rasa, cerita, budaya, dan identitas asal secara bersamaan, maka kopi tidak lagi hanya menjadi komoditas perdagangan. Ia menjelma menjadi representasi kekayaan Sulawesi Selatan sekaligus instrumen pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Transformasi itulah yang kini sedang diperjuangkan: mengubah setiap biji kopi yang dipanen bukan hanya menjadi produk yang dijual, tetapi menjadi nilai yang mengangkat martabat petani, memperkuat UMKM, dan membawa nama Sulawesi Selatan semakin harum di panggung dunia.

Redaksi