Oleh: Kamaruddin ’Denun’ Azis
PELAKITA.ID – Enam tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah media independen.
Apalagi media yang lahir bukan dari modal besar, bukan pula dari ruang redaksi yang megah, melainkan dari sebuah keyakinan sederhana bahwa laut, pesisir, pulau-pulau kecil, lingkungan, dan masyarakat yang hidup di sekitarnya layak mendapatkan ruang pemberitaan yang lebih adil.
Malam ini seseorang yang mengaku jurnalis KataData.Co.ID mengontak dan bertanya perihal postingan di Pelakita.ID berkaitan suku Bajo di Pulau Rote yang penulis tulis bertahun silam. Dia tertarik mencari tahu perihal itu.
Yang penulis ingin bilang, Pelakita telah berhasil menjadi rujukan. Itu saja.
Jadi begini.
Tepat pada 27 Juli 2020, ketika dunia sedang dilanda pandemi COVID-19, Pelakita.ID memulai langkah pertamanya. Saat sebagian orang memilih bertahan, kami justru memilih memulai.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, pembatasan sosial, dan masa depan yang serba abu-abu, lahirlah sebuah portal berita yang mengusung semangat jurnalisme maritim.
Banyak yang bertanya saat itu, apakah media baru masih punya tempat di tengah gempuran media sosial, perubahan perilaku pembaca, dan krisis industri pers?
Jawabannya tidak pernah kami cari dalam bentuk teori. Kami menjawabnya dengan kerja. Hari demi hari. Berita demi berita. Liputan demi liputan.
Hari ini, menjelang usia enam tahun, Pelakita.ID telah memproduksi lebih dari 8.000 konten. Angka itu mungkin tampak biasa bagi media besar, tetapi bagi kami yang bertumbuh dengan tim kecil, sumber daya yang terbatas, dan semangat gotong royong, itu adalah pencapaian yang sangat berarti.
Sesungguhnya, enam tahun ini mengajarkan satu hal paling penting: fokus. Fokus bukan berarti hanya melihat satu arah, tetapi memilih untuk tidak mudah tergoda oleh banyak hal yang menjauhkan kita dari tujuan.
Fokus adalah kemampuan untuk terus percaya bahwa isu kemaritiman, perikanan, lingkungan, pangan, pembangunan daerah, ekonomi biru, dan masyarakat pesisir akan selalu relevan bagi masa depan Indonesia.
Fokus pula yang membuat kami tetap menulis ketika algoritma media sosial berubah. Tetap meliput ketika perhatian publik berpindah. Tetap menyuarakan mereka yang sering kali tidak memiliki panggung. Namun fokus saja tidak cukup.
Yang membuat Pelakita.ID bertahan adalah kesungguhan.
Kesungguhan untuk terus belajar. Kesungguhan menjaga integritas. Kesungguhan merawat jejaring. Kesungguhan membangun kepercayaan. Karena sesungguhnya, media bukan hanya soal berita. Media adalah soal kepercayaan.
Selama enam tahun ini, kami tidak pernah berjalan sendirian.
Kami beruntung dipertemukan dengan begitu banyak sahabat yang percaya bahwa kerja-kerja kecil pun dapat memberikan manfaat besar apabila dilakukan secara konsisten.
Terima kasih kepada keluarga besar Alumni Kelautan Universitas Hasanuddin yang sejak awal terus memberi semangat agar Pelakita.ID tetap menjadi ruang berbagi gagasan dan pengetahuan.
Terima kasih kepada DFW Indonesia mitra lama, teman diskusi yang terus menyemangati, kepada sahabat-sahabat di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pangan, dan Kementerian Kehutanan yang selama ini menjadi mitra diskusi sekaligus sumber inspirasi dalam berbagai isu pembangunan.
Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada M. Zulficar Mochtar – sehatki selalu kanda, Mohammad Abdi, Syahril A. Raup, Cahyadi Rasyid di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Irawan Asaad di Kementerian Kehutanan, serta banyak sahabat lain yang tidak mungkin disebut satu per satu.
Terima kasih kepada keluarga besar The COMMIT Foundation, Blue Forest, YKL Indonesia, LEMSA, Nypah, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), serta jejaring ISKINDO dan ISPIKANI yang terus menghadirkan energi positif dalam kerja-kerja kolaborasi.
Terima kasih kepada keluarga besar PP IKA Unhas – hai Tetta Tiro, IKA Unhas Wilayah Sulawesi Selatan – Pak DP dkk, serta seluruh alumni Universitas Hasanuddin di mana pun berada. Terima kasih kepada IKAFE Unhas, IKATEK, ISLA Unhas, hingga IKA Unhas Gowa yang terus membuka ruang sinergi antara dunia akademik, profesi, dan media.
Penghargaan yang tinggi juga kami sampaikan kepada Rektor Universitas Hasanuddin Prof JJ beserta seluruh jajaran yang selalu supportif, Dekan dan sivitas Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Kealumnian.
Juga Humas Universitas Hasanuddin, yang selama ini senantiasa memberikan dukungan terhadap berbagai inisiatif literasi dan komunikasi publik. Juga kepada kolega di kelas S3 Studi Pembangunan Unhas Kelas 2025 yang selalu menginspirasi.
Kami juga berterima kasih kepada konsultan media kami, Asta Tadda dan tim, yang selama ini memberikan perspektif strategis agar Pelakita.ID terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Kepada para sahabat seperjalanan—Om Boer di DPP Garuda Astacita Nusantara, Om Suaib di IKAFE Unhas, Ashar Karateng di The COMMIT Foundation, Rustam Rewa di Tolitoli, M. Arief Sutte di Palu, hingga Sunarwan Asuhadi di Wakatobi—terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Dr. Adnan Purichta Ichsan yang selalu baik ke Pelakita.ID, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari – terima kasih telponnya kemarin.
Terkhusus Bupati Wajo Andi Rosman yang selalu memberi update kabar dari Wajo, Bupati Takalar M. Firdaus Daeng Manye yang aktif membalas WA penulis, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Rudianto Lallo selaku Anggota DPR RI Dapil Sulawesi Selatan I.

Kepada kanda, Azhar Arsyad selaku Ketua DPW PKB Sulawesi Selatan, serta Datok Jufri Rahman, atas dukungan dan komunikasi yang terjalin dengan baik selama ini.
Terima kasih atas sejumlah wejangan konstruktif Kongsiku Upi Asmardhana CEO KGI dan konsultan media terpandang Anno Parallangi, kapan ngopi kita?
Yang paling penting, terima kasih kepada tim kecil yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan: M. Rizki Latjindung, Muhammad Syukri, Irvan, Aisya Sofia, Opet dan kolega, serta seluruh jejaring Pelakita.ID di berbagai daerah.
Terima kasih pula kepada para penulis yang dengan sukarela membagikan pengetahuan dan pemikirannya melalui Pelakita.ID—Rusdin Tompo, Mustamin Raga, Muliadi Saleh, Rusman Madjulekka, Prof Andi Adri Arief, Jumardi Lanta, Fadiah Machmud, hingga Dr Sudirman Nasir serta banyak nama lain yang mungkin belum sempat disebutkan, tetapi jejak kontribusinya akan selalu menjadi bagian dari sejarah kami.
Spesial thanks untuk Karaeng Naba, Prof Sukri Palutturi di FKM yang selalu menawarkan kerjasama pemberitaan. Kepada Dr Rijal Idrus di Pusat Studi Perubahan Iklim hingga brother Dr Ilham Alimuddin di Pusat Studi Kebencanaan Unhas. Ngopi deh!
Enam tahun ini mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya modal. Ia ditentukan oleh ketekunan, konsistensi, dan kesediaan untuk terus melayani.
Pelakita.ID mungkin hanyalah setitik cahaya di tengah luasnya lanskap media Indonesia. Namun kami percaya, cahaya sekecil apa pun tetap memiliki arti apabila terus dijaga agar tidak padam.
Ke depan, tantangannya tentu akan semakin besar.
Dunia media berubah sangat cepat. Teknologi berkembang luar biasa. Kecerdasan buatan hadir mengubah cara orang memproduksi dan mengonsumsi informasi.
Satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen untuk menghadirkan jurnalisme yang jujur, independen, berpihak pada kepentingan publik, serta memberi ruang bagi suara-suara yang sering kali terpinggirkan.
Terima kasih kepada semua yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Semoga kerja sama, persahabatan, dan kolaborasi yang telah terbangun dapat terus tumbuh menjadi kekuatan bersama dalam menghadirkan informasi yang mencerahkan dan membangun.
Perjalanan ini belum selesai. Bahkan, mungkin baru saja dimulai.
Setiap bicara jurnalisme, saya selalu ingat mentor nan baik hati Lily Yulianti Farid. Alfatihah, guru.
Darinya kami belajar menulis, belajar memaknai bahwa fakta, peristiwa, harus dilihat dari berbagi sudut pandang. Pilihlah yang mewakil kacamata orang biasa. Itu pilar gerak Pelakita.ID hingga saat ini.
6 Tahun Pelakita.ID, keep the spirit high!
__
Denun di Tamarunang









