Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Di negeri maritim, suara laut sering kali justru terdengar lirih. Ombak berulang kali memecah pantai, tetapi kisah para nelayan, masyarakat pesisir, pulau-pulau kecil, dan perjuangan menjaga lingkungan acap tenggelam di bawah riuhnya arus informasi yang berpusat di kota.
Padahal, dari lautlah Indonesia dilahirkan, dibesarkan, dan akan menentukan masa depannya.
Di tengah kenyataan itulah, hampir enam tahun silam, lahir sebuah media yang tidak dibangun dengan kemewahan modal, tetapi dengan kemewahan cita-cita.
Pelakita.ID hadir membawa keyakinan sederhana, namun mendasar bahwa laut, pesisir, lingkungan, pangan, dan manusia yang hidup berdampingan dengannya layak memperoleh ruang yang adil dalam pemberitaan.
Media ini lahir pada saat dunia sedang dilanda pandemi COVID-19. Ketika banyak orang memilih bertahan di tengah ketidakpastian, Pelakita.ID justru memilih memulai.
Keputusan itu bukan semata keberanian, melainkan sebuah ikhtiar yang berangkat dari kesadaran bahwa pada masa paling gelap sekalipun, masyarakat tetap membutuhkan informasi yang jujur, mencerahkan, dan berpihak kepada kepentingan publik.
Hampir enam tahun kemudian, lebih dari delapan ribu karya jurnalistik telah dipublikasikan.
Bagi media besar, angka itu mungkin tampak biasa. Namun bagi sebuah media independen yang bertumbuh bersama tim kecil, sumber daya terbatas, dan semangat gotong royong, pencapaian itu adalah penanda ketekunan yang tidak pernah berhenti.
Yang membuat Pelakita.ID bertahan bukan semata kemampuan mengikuti perkembangan teknologi. Yang membuatnya tetap hidup adalah fokus.
Fokus untuk terus berbicara tentang kemaritiman, perikanan, lingkungan, ekonomi biru, pembangunan daerah, dan masyarakat pesisir ketika banyak media lebih memilih mengejar isu-isu yang sedang menjadi arus utama.
Fokus itu kemudian melahirkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada popularitas: kepercayaan. Ketika seorang jurnalis dari media nasional menghubungi Pelakita.ID untuk mencari arsip tulisan bertahun-tahun lalu mengenai masyarakat Bajo di Pulau Rote, sesungguhnya yang sedang dicari bukan sekadar berita lama.
Yang sedang dicari adalah kredibilitas. Sebuah media mulai menemukan martabatnya ketika arsipnya menjadi rujukan, ketika tulisannya dipercaya, dan ketika jejak intelektualnya menjadi bagian dari percakapan publik.
Di balik perjalanan panjang itu, berdiri seorang penjaga api. Dialah Kamaruddin Azis, yang akrab disapa Denun atau Daeng Nuntung. Ia bukan sekadar pendiri Pelakita.ID.
Ia adalah sang penjaga obor semangat dan penjaga harapan.
Alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas, angkatan 1989 ini, atau setahun di bawah penulis, memahami bahwa mendirikan media jauh lebih mudah daripada merawatnya.
Sebab media tidak hanya membutuhkan biaya operasional, tetapi juga keberanian moral, konsistensi, dan kesabaran yang panjang. Ia memilih jalan sunyi: membangun kepercayaan sedikit demi sedikit, memperluas jejaring tanpa kehilangan independensi, serta menjaga agar Pelakita.ID tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat, bukan kepada kepentingan sesaat.
Obor yang dijaganya bukanlah obor ambisi pribadi. Ia adalah nyala idealisme.
Nyala yang terus mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar pekerjaan mencari berita, melainkan kerja peradaban untuk menghadirkan pengetahuan, membangun kesadaran, dan memperjuangkan suara mereka yang sering kali tidak memiliki panggung.
Dia pun memahami bahwa obor tidak akan menyala sendirian.
Di sepanjang perjalanan Pelakita.ID, hadir begitu banyak tangan yang ikut menjaga nyalanya.
Para akademisi, peneliti, aktivis lingkungan, birokrat, komunitas, organisasi profesi, mitra pembangunan, pemerintah daerah, para alumni Universitas Hasanuddin, para penulis, hingga tim kecil di ruang redaksi menjadi bagian dari mozaik yang membuat media ini terus bertumbuh.
Di antara para penulis yang mengisi ruang-ruang intelektual Pelakita.ID, lahir pula gagasan-gagasan yang memperkaya diskursus publik.
Media ini bukan sekadar tempat memuat berita, tetapi juga ruang bertemunya ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan refleksi kebangsaan.
Di situlah Pelakita.ID menemukan identitasnya sebagai media yang tidak hanya mengabarkan peristiwa, tetapi juga menghidupkan makna.
Perjalanan ini juga mengingatkan pada pesan seorang mentor jurnalisme, Lily Yulianti Farid, yang mengajarkan bahwa setiap fakta harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tetapi keberpihakan seorang jurnalis semestinya selalu kepada manusia biasa.
Nasihat sederhana itu ternyata menjadi fondasi yang kokoh. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah media bukanlah seberapa keras ia berbicara, melainkan seberapa banyak suara yang berhasil ia dengarkan.
Kini, ketika dunia memasuki era kecerdasan buatan dan algoritma semakin menentukan arah perhatian publik, tantangan jurnalisme semakin kompleks.
Mesin mampu menyusun kata, bahkan menghasilkan ribuan kalimat dalam hitungan detik. Namun mesin tidak memiliki empati. Ia tidak mengenal nurani.
Ia tidak memahami air mata seorang nelayan yang kehilangan ruang tangkap, atau kegelisahan masyarakat pulau kecil yang perlahan menyaksikan abrasi menggerus kampung halamannya.
Karena itu, masa depan media tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat menghasilkan informasi, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga integritas, memelihara kepercayaan, dan menghadirkan kemanusiaan di setiap berita yang diterbitkan.
Enam tahun Pelakita.ID sesungguhnya bukan sekadar penanda usia. Ia adalah monumen kecil tentang arti konsistensi. Tentang kesungguhan yang tidak lelah. Tentang keyakinan bahwa cahaya sekecil apa pun akan tetap menerangi selama ada yang bersedia menjaganya agar tidak padam.
Indonesia membutuhkan lebih banyak media yang memilih menjadi mercusuar daripada sekadar menjadi pengeras suara. Media yang tidak hanya mengejar klik, tetapi memanen kepercayaan.
Media yang tidak sekadar mengikuti arus, tetapi berani menjadi penunjuk arah. Penulis menyebutnya sebagai Jurnalisme Ombak, tidak pernah diam, terus bergerak menemukan destinasinya.
Selamat menuju enam tahun Pelakita.ID.
Teruslah menjaga suara pesisir. Teruslah menyalakan obor harapan.
Kepada Kamaruddin Azis—Denun, Daeng Nuntung—teruslah menjadi penjaga nyala itu.
Selama obor idealisme masih menyala, selalu ada harapan bahwa jurnalisme akan tetap menjadi cahaya yang menuntun bangsa menuju masa depan yang lebih adil, lebih beradab, dan lebih manusiawi.
____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.









