NFC Goes to School, DFW-Indonesia Bekali Taruna PKP Jembrana tentang Risiko Kerja Perikanan

  • Whatsapp

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran taruna mengenai risiko kerja di atas kapal perikanan, pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan terhadap pekerja perikanan.

PELAKITA.ID –  DFW Indonesia kembali melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pengenalan Risiko Kerja dan Perlindungan Pekerja Perikanan bagi Taruna Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Jembrana, Bali.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program NFC Goes to School, sebuah inisiatif edukasi yang menyasar siswa SMK Kelautan dan Perikanan serta taruna perguruan tinggi vokasi kelautan dan perikanan sebagai calon pekerja sektor perikanan di masa depan.

Sebelumnya, program NFC Goes to School telah dilaksanakan di berbagai SMK Kelautan dan Perikanan di Jawa Tengah dan Bitung, Sulawesi Utara, di antaranya SMK IRMA Perikanan, SMK Negeri 3 Tegal, SMK Baruna Petarukan, SMK SUPM Al Ma’arif, SMK SUPM Yamipura, SUPM Negeri Tegal, SMK Negeri 1 Gebang, SMK Wira Bahari, SMK Negeri 1 Mundu, serta Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung.

Setelah mendapatkan respons positif dari peserta didik dan tenaga pendidik, kegiatan serupa kembali dilaksanakan di Poltek KP Jembrana untuk memperluas pemahaman generasi muda mengenai dunia kerja di sektor perikanan.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran taruna mengenai risiko kerja di atas kapal perikanan, pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan terhadap pekerja perikanan.

Selain itu, kegiatan ini juga memberikan penguatan kapasitas dan kesiapan taruna sebelum melaksanakan Praktik Kerja Laut (PKL), agar mereka mampu memahami kondisi kerja, mengenali potensi risiko, serta mengetahui hak dan kewajiban sebagai pekerja perikanan.

Dengan bekal tersebut, para taruna diharapkan dapat menjalani praktik kerja laut dengan lebih siap, aman, percaya diri, serta mampu melindungi diri dan hak-haknya di dunia kerja perikanan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur II Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Dr. Mohsan Abrori, S.Pi., M.Si., mewakili Direktur Poltek KP Jembrana.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini yang dinilai sangat relevan sebagai pembekalan bagi taruna sebelum memasuki dunia kerja maupun PKL.

“Taruna perlu memahami tidak hanya aspek teknis pekerjaan di sektor perikanan, tetapi juga hak-hak mereka sebagai pekerja. Pengetahuan ini menjadi bekal penting agar mereka dapat bekerja secara aman, profesional, dan terlindungi. Terlebih bagi taruna yang akan melaksanakan Praktik Kerja Laut, pemahaman mengenai risiko kerja, keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan pekerja perikanan sangat diperlukan,” ujarnya.

Beliau juga berharap kegiatan edukasi seperti ini dapat terus berlanjut.

“Kami berharap kerja sama dan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak taruna dan taruni yang memperoleh pemahaman komprehensif mengenai dunia kerja perikanan,” tambahnya.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Laode Hardiani, Senior Program Officer DFW-Indonesia.

Ia menegaskan bahwa edukasi sejak dini merupakan langkah penting dalam menciptakan pekerja perikanan yang sadar akan hak dan kewajibannya.

“Melalui program NFC Goes to School, DFW-Indonesia ingin memastikan generasi muda memiliki pemahaman mengenai risiko kerja, keselamatan, serta perlindungan bagi pekerja perikanan. Dengan demikian, mereka dapat terhindar dari praktik yang merugikan dan berpotensi melanggar hak asasi manusia,” jelasnya.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran taruna mengenai risiko kerja di atas kapal perikanan, pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan terhadap pekerja perikanan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai risiko kerja di sektor perikanan, hak-hak pekerja, keselamatan dan kesehatan kerja, serta upaya pencegahan perdagangan orang dan kerja paksa di kapal perikanan.

Sesi berlangsung interaktif melalui diskusi dan tanya jawab.

Selain itu, taruna juga mendapatkan pengenalan National Fisher Center (NFC) oleh Arif selaku Koordinator NFC Indonesia.

Ia menjelaskan peran NFC sebagai pusat layanan bagi pekerja perikanan, termasuk informasi, pendampingan, pengaduan, serta akses terhadap mekanisme perlindungan awak kapal perikanan Indonesia.

Dari unsur Kesyahbandaran PPN Pengambengan, Ali Wardana menyampaikan bahwa taruna harus memiliki mental yang kuat dalam menghadapi dunia kerja di laut.

“Taruna yang merupakan calon perwira kapal harus memiliki jiwa dan mental yang kuat. Pemahaman terhadap aturan dan keselamatan kerja sangat penting sebagai bekal di atas kapal,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pihak kampus dengan syahbandar dalam penempatan taruna PKL untuk memastikan prosedur berjalan sesuai ketentuan.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan berbagi pengalaman oleh Guntur Prabowo, seorang Awak Kapal Perikanan (AKP) yang pernah mengalami pelanggaran hak-hak pekerja perikanan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program NFC Goes to School, sebuah inisiatif edukasi yang menyasar siswa SMK Kelautan dan Perikanan serta taruna perguruan tinggi vokasi kelautan dan perikanan sebagai calon pekerja sektor perikanan di masa depan.

Saat ini ia aktif memperjuangkan hak pekerja melalui Forum Solidaritas Pekerja Perikanan Nusantara (FSP2B) di Benoa.

Dalam testimoninya, Guntur menceritakan kondisi kerja yang pernah ia alami, termasuk berbagai pelanggaran hak yang terjadi di atas kapal perikanan. Ia juga menjelaskan peran DFW-Indonesia dan NFC dalam memberikan pendampingan hingga proses penyelesaian kasusnya.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata kepada para taruna mengenai tantangan kerja di sektor perikanan serta pentingnya memahami hak dan langkah perlindungan diri di laut.

Melalui kegiatan ini, DFW-Indonesia berharap taruna Poltek KP Jembrana dapat menjadi generasi pekerja perikanan yang profesional, berintegritas, memahami hak-haknya, serta berkontribusi dalam mewujudkan sektor perikanan yang berkelanjutan, aman, dan bebas dari praktik eksploitasi.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 taruna Jurusan Perikanan Tangkap tingkat 1, 2, dan 3, serta dosen dan petugas Kesyahbandaran PPN Pengambengan.