Membaca Pemikiran Hamid Paddu untuk Sulawesi Selatan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Kesenjangan antara dunia pengetahuan dan dunia kebijakan inilah yang melahirkan apa yang dapat disebut sebagai missing link pembangunan Sulawesi Selatan.

Oleh: Kamaruddin Azis, anggota CIDES ICMI Sulawesi Selatan

PELAKITA.ID – Sulawesi Selatan sesungguhnya tidak pernah kekurangan orang pintar. Di berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintahan, dunia usaha, hingga organisasi profesi, kita menemukan begitu banyak doktor, profesor, peneliti, dan profesional yang memiliki kapasitas intelektual di atas rata-rata.

Bahkan, diaspora Sulawesi Selatan tersebar di berbagai pusat pengambilan keputusan nasional dan internasional.

Di tengah kelimpahan sumber daya manusia tersebut, pertanyaan mendasar masih terus menggema: mengapa kemajuan daerah ini belum bergerak secepat potensi yang dimilikinya?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Prof. Dr. H. Abd. Hamid Paddu, ekonom dan intelektual yang kini dipercaya memimpin Dewan Pakar MKPD CIDES ICMI Sulawesi Selatan.

Dalam satu rilis yang dibagikan alena beliau Ahmad Sulaiman Kambie di Tribun Timur, Hamid Paddu mengingatkan bahwa sejarah pembangunan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya orang pintar.

Sejarah, menurutnya, ditentukan oleh kemampuan mengorganisasi pengetahuan menjadi kebijakan. Di sinilah letak persoalan mendasar yang selama ini dihadapi banyak daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Pengetahuan tumbuh subur di kampus dan ruang-ruang akademik, tetapi sering kali gagal menjelma menjadi keputusan publik yang mampu mengubah kehidupan masyarakat.

Pandangan Hamid Paddu sesungguhnya merupakan kritik terhadap model pembangunan yang terlalu bertumpu pada proyek dan anggaran, tetapi kurang memberi ruang bagi riset dan pemikiran strategis.

Akibatnya, banyak kebijakan lahir secara reaktif, mengikuti siklus politik jangka pendek, tanpa didukung basis pengetahuan yang kuat.

Para ahli berjalan di jalurnya masing-masing, sementara para pengambil keputusan kerap bekerja tanpa dukungan analisis yang memadai.

Kesenjangan antara dunia pengetahuan dan dunia kebijakan inilah yang melahirkan apa yang dapat disebut sebagai missing link pembangunan Sulawesi Selatan.

Dalam konteks tersebut, Hamid Paddu mengajukan sebuah gagasan yang sederhana tetapi mendasar: daerah harus memiliki “mesin gagasan”.

Sebagaimana industri membutuhkan pabrik untuk menghasilkan barang, pembangunan membutuhkan institusi yang secara konsisten memproduksi ide, kajian, dan rekomendasi kebijakan.

Di negara-negara maju, fungsi tersebut dijalankan oleh lembaga think tank yang bekerja menghubungkan data, penelitian, dan kebutuhan pengambilan keputusan.

Mereka tidak membangun jalan, pelabuhan, atau bendungan secara langsung, tetapi mereka memastikan pembangunan infrastruktur tersebut memberikan dampak ekonomi dan sosial yang optimal.

Bagi Sulawesi Selatan, kebutuhan akan think tank menjadi semakin mendesak. Daerah ini memiliki begitu banyak potensi yang belum sepenuhnya terkelola secara strategis.

Hilirisasi nikel, pengembangan industri kakao, optimalisasi rumput laut, modernisasi sektor perikanan, hingga penguatan posisi Makassar sebagai hub logistik Indonesia Timur membutuhkan lebih dari sekadar investasi fisik.

Semua itu memerlukan peta jalan yang disusun berdasarkan data, riset, dan proyeksi masa depan. Tanpa itu, potensi hanya akan menjadi daftar panjang peluang yang tidak pernah benar-benar diwujudkan.

Pemikiran Hamid Paddu juga mengandung peringatan penting mengenai perubahan lanskap ekonomi global. Pada masa lalu, kekayaan daerah diukur dari banyaknya sumber daya alam yang dimiliki. Namun hari ini, dunia bergerak ke arah ekonomi berbasis pengetahuan.

Dalam ekonomi modern, ide dan inovasi menjadi sumber daya yang jauh lebih bernilai dibandingkan komoditas mentah. Nikel bisa habis, gas bisa menurun, dan hasil tambang lainnya memiliki batas.

Sebaliknya, pengetahuan adalah satu-satunya sumber daya yang terus bertumbuh ketika digunakan dan dibagikan. Daerah yang mampu mengelola kecerdasan kolektifnya akan memiliki peluang lebih besar untuk melakukan lompatan pembangunan dibandingkan daerah yang hanya mengandalkan kekayaan alam.

Di sinilah relevansi kehadiran MKPD CIDES ICMI Sulawesi Selatan. Lembaga ini dapat menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, profesional, birokrat, dan pelaku usaha untuk merumuskan arah pembangunan daerah secara lebih terukur.

Kehadirannya bukan sekadar menambah organisasi baru, melainkan menjadi upaya membangun tradisi intelektual yang selama ini belum berkembang secara optimal dalam proses pembangunan daerah.

Melalui lembaga semacam ini, gagasan tidak berhenti sebagai diskusi seminar atau publikasi ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat digunakan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Sulsel sebagai produsen gagasan

Lebih jauh lagi, pemikiran Hamid Paddu mengajak Sulawesi Selatan untuk berani memosisikan diri bukan hanya sebagai pasar atau penerima kebijakan dari pusat, melainkan sebagai produsen gagasan.

Makassar memiliki peluang untuk berkembang menjadi simpul intelektual Indonesia Timur, tempat lahirnya berbagai pemikiran strategis mengenai ekonomi maritim, pangan, energi, pendidikan, dan pembangunan wilayah.

Jika selama ini Makassar dikenal sebagai gerbang perdagangan dan logistik, maka pada masa depan kota ini dapat menjadi pusat produksi pengetahuan yang pengaruhnya melampaui batas-batas regional.

Pada akhirnya, masa depan Sulawesi Selatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya APBD, jumlah proyek yang dibangun, atau tingginya investasi yang masuk.

Masa depan daerah ini sangat bergantung pada kualitas gagasan yang menjadi fondasi setiap keputusan pembangunan.

Sebab anggaran tanpa ide hanya akan melahirkan proyek, sementara ide yang kuat mampu melahirkan peradaban.

Itulah pesan utama yang dapat dibaca dari pemikiran Hamid Paddu: bahwa kemajuan daerah bukan pertama-tama soal sumber daya yang dimiliki, melainkan kemampuan mengelola pengetahuan menjadi kekuatan kolektif yang mengubah masa depan.

Sulawesi Selatan memiliki modal itu. Ia memiliki talenta, tradisi intelektual, dan sumber daya ekonomi yang melimpah. Tantangannya kini adalah bagaimana semua potensi tersebut disatukan dalam sebuah mesin gagasan yang bekerja secara sistematis. Sebab di era ekonomi pengetahuan, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya paling banyak, melainkan oleh siapa yang memiliki ide terbaik untuk mengelolanya.