Doktor Maman: Antara Kesombongan dan Keputusasaan, Kisah Tentang Nilai Sejati Manusia

  • Whatsapp
Dr Abdul Rahman Nur, akademisi Universitas Andi Djemma Palopo (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Kesombongan sering lahir ketika manusia merasa memiliki jabatan, kekayaan, kekuasaan, dan pujian.

Padahal, semua yang dimiliki pada hakikatnya hanyalah titipan sementara. Hari ini seseorang bisa dipuji, esok ia bisa dilupakan. Hari ini ia berkuasa, esok ia dapat tergantikan.

Tidak ada manusia yang benar-benar besar di hadapan waktu, sebab tanah yang sama akan menerima semua tubuh tanpa membedakan siapa yang pernah kaya dan siapa yang pernah miskin.

Manusia yang terjebak dalam kesombongan kerap lupa bahwa yang membuatnya mampu berdiri bukan semata-mata kekuatan dirinya sendiri.

Ada doa orang tua yang mengiringi, ada pertolongan orang lain yang tak terlihat, ada kesempatan yang tidak dimiliki semua orang, dan ada kehendak Tuhan yang dapat mengubah keadaan hanya dalam sekejap.

Karena itu, tidak pantas seseorang merendahkan orang lain hanya karena hari ini ia berada di atas. Gunung yang paling tinggi pun tetap dihantam hujan dan angin tanpa henti.

Namun di sisi lain, keputusasaan juga sering menjadi beban yang menghancurkan manusia ketika ia merasa tidak memiliki apa-apa lagi. Seolah hidup telah berakhir hanya karena kehilangan uang, jabatan, atau pengakuan.

Padahal, nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh isi dompetnya. Banyak orang yang hidup sederhana, namun justru memiliki kemuliaan yang lebih tinggi dibanding mereka yang bergelimang harta tetapi kehilangan hati dan kemanusiaan.

Karena itu, janganlah sombong saat memiliki, sebab segala sesuatu bisa pergi tanpa peringatan.

Jangan pula putus asa saat kehilangan, sebab hidup selalu membuka ruang untuk bangkit kembali. Langit tidak selalu cerah, dan kehidupan tidak pernah berjalan lurus tanpa ujian.

Pada akhirnya, yang membuat manusia mulia bukanlah apa yang ia miliki, tetapi bagaimana ia memperlakukan hidup—ketika diberi dan ketika diuji.

Sebab orang yang kuat bukan hanya mereka yang mampu berdiri di puncak, tetapi juga mereka yang tetap rendah hati saat berada di atas, dan tetap tegar saat berada di bawah.

Foto koleksi Doktor Maman

Apa yang saya tulis di atas adalah nasihat Ketua KKLR SulSel dan Taruna Arzam

Penulis: Abdul ‘Doktor Manan’ Rahman Nur