Jejak Sandi Pati Bahari dalam Denyut Poros Maritim Dunia

  • Whatsapp
Momen kebersamaan di Sandi Pati Bahari 1994 (dok: K. Azis)

Menembus Gelombang, Menegakkan Kedaulatan

Sandi Pati Bahari dirancang untuk menempa spirit kelautan mahasiswa. Di bawah pengawasan Marine Science Education Project (MSEP) Unhas, program ini menjadi wadah bagi calon pemimpin laut untuk mempelajari metode riset stok ikan.

Mereka menggunakan alat tangkap seperti longline (pancing rawe) dan trawl (pukat harimau).

PELAKITA.ID – Bayangkan Indonesia di tahun 1945, sebuah negara kepulauan yang secara paradoks “terputus” oleh lautnya sendiri. Kala itu, kedaulatan kita hanya diakui sejauh 3 mil dari garis pantai.

Di luar batas sempit itu, Laut Jawa, Laut Flores, hingga Laut Banda adalah “lubang-lubang” internasional—perairan bebas di mana kapal asing bisa melenggang tanpa permisi, memisahkan pulau-pulau kita seolah mereka bukan satu kesatuan.

Pertemuan reflektif saya dengan dua begawan maritim, Prof. Hasjim Djalal dan Prof. Achmar Mallawa di Kendari beberapa waktu lalu, membawa ingatan saya kembali pada narasi besar tentang bagaimana lubang-lubang itu ditambal, bukan hanya dengan tinta diplomat, melainkan dengan keringat generasi muda di atas gelombang.

Tulisan ini adalah sebuah penghormatan bagi perjalanan panjang tersebut.

Kita akan menelusuri bagaimana visi kedaulatan yang diperjuangkan di meja perundingan dunia bertemu dengan realitas penempaan fisik di tengah samudra.

Ini adalah kisah tentang bangkitnya kesadaran maritim yang sempat meredup pasca kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, yang kini berdenyut kembali melalui urat nadi generasi Sandi Pati Bahari.

Keajaiban Diplomasi: Menambal Celah di Tengah Samudra

Transformasi luas wilayah Indonesia adalah salah satu keajaiban diplomasi terbesar dalam sejarah modern.

Melalui tangan dingin Prof. Hasjim Djalal—seorang diplomat ulung yang pernah menjabat sebagai duta besar di berbagai negara—prinsip Negara Kepulauan (Archipelagic State) diperjuangkan hingga ke PBB.

Hasjim adalah pengawal setia Deklarasi Juanda, memastikan bahwa laut di antara pulau-pulau kita bukan lagi pemisah, melainkan pemersatu.

Berkat konsistensi perjuangan tersebut, batas laut teritorial kita bergeser menjadi 12 mil diukur dari garis pangkal pulau terluar. Hasilnya sungguh luar biasa:

“Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada tahun 1945 hanya memiliki laut seluas 2 juta kilometer persegi, kini telah membentang megah menjadi 5,8 juta kilometer persegi.”

Namun, sebagai sejarawan strategis, kita harus menyadari satu hal: wilayah tanpa kapabilitas adalah kerentanan.

Kedaulatan yang luas di atas peta akan menjadi sia-sia jika kita tidak memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola dan menjaganya. Inilah yang mendasari pentingnya investasi negara pada “brainware” maritim Indonesia.

Sandi Pati Bahari 1994: Kawah Candradimuka di Selat Makassar

Untuk mengisi ruang kedaulatan yang baru tersebut, pada tahun 1994, Pemerintah Indonesia melalui koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Sandi Pati Bahari.

Ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan bagian dari Marine Science Education Project (MSEP) yang didanai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).

Proyek strategis ini dipimpin oleh Prof. Achmar Mallawa, seorang pakar lulusan Montpellier dan Perpignan, Prancis, yang memahami betul bahwa standar kelautan kita saat itu masih tertinggal jauh.

Sandi Pati Bahari dirancang untuk menempa spirit kelautan mahasiswa. Di bawah pengawasan Marine Science Education Project (MSEP) Unhas, program ini menjadi wadah bagi calon pemimpin laut untuk mempelajari metode riset stok ikan.

Mereka menggunakan alat tangkap seperti longline (pancing rawe) dan trawl (pukat harimau).

Menariknya, penggunaan trawl dalam misi ini murni untuk kepentingan kajian stok hayati—sebuah pengecualian penting mengingat alat ini telah dilarang sejak tahun 1980 karena sifatnya yang destruktif bagi nelayan tradisional.

Strategi Enam Pilar: Urat Nadi Intelektual Nusantara

Dalam pandangan strategis, program ini tidak hanya melatih orang, tetapi melakukan “Strategic Deployment” atau penyebaran intelektual melalui enam perguruan tinggi dengan spesialisasi yang tajam.

Pembagian peran ini merupakan skenario cerdas untuk mengelola keberagaman ekosistem laut kita:

  • Universitas Hasanuddin (Unhas): Menjadi poros dukungan budidaya laut, sains kelautan murni (purely marine science), penginderaan jauh, dan teknologi kelautan yang melahirkan para Sarjana Teknik di bidangnya.
  • Institut Pertanian Bogor (IPB): Berfokus pada tata kelola laut, manajemen sumber daya, serta riset kelautan dalam perspektif manajemen yang luas di Dramaga.
  • Universitas Riau (Unri): Memegang mandat krusial dalam mitigasi pencemaran laut, mengingat posisinya yang bersinggungan langsung dengan industri minyak offshore.
  • Universitas Sam Ratulangi (Unsrat): Menitikberatkan pada keunggulan farmakologi laut dari perairan Sulawesi Utara.
  • Universitas Pattimura (Unpatti): Menjadi ujung tombak dalam pengembangan sektor perikanan tangkap di wilayah Timur.
  • Universitas Diponegoro (Undip): Membawa semangat integrasi nasional dari Kampung Tembalang, dengan spirit perjuangan yang selaras untuk memperkuat kesatuan maritim.

Realitas di Atas Madidihang: Dari Mabuk Laut hingga Sushi Tuna

Pengalaman manusiawi di atas Kapal Latih Madidihang pada Januari 1994 adalah ujian sebenarnya. Menghadapi gelombang musim barat di Selat Makassar bukan perkara mudah.

Banyak peserta yang harus “menyerah” sejenak di bilik tidur atau kamar kecil karena mual yang hebat. Namun, di situlah letak penempaannya: laut menguji siapa yang benar-benar mencintainya.

Di bawah bimbingan instruktur seperti Gomal Tampubolon dari STP Jakarta, para mahasiswa menyaksikan sendiri kekayaan hayati yang menyembul dari pukat riset.

Ada rasa bangga yang membuncah saat melihat tuna seberat 50-70 kg dinaikkan ke geladak, atau sekeranjang udang putih yang melimpah.

Solidaritas pun terbentuk di ruang makan kapal; dari mahasiswa Unri yang bercerita tentang Pekanbaru hingga kawan-kawan dari Ambon dan Manado yang berbagi tawa.

Kegetiran mabuk laut terbayar tunai dengan kenikmatan sushi tuna segar yang hanya ditemani irisan jeruk nipis, atau gurihnya udang putih bakar di waktu senja.

Momen-momen ini membangun “urat nadi perjuangan” yang sama—sebuah kesadaran bahwa mereka adalah pemilik masa depan samudra ini.

Diaspora Kelautan: Pilar Tersembunyi Poros Maritim Dunia

Setelah pelayaran fisik di Selat Makassar berakhir, para peserta melanjutkan pengembaraan geografis mereka. Perjalanan pulang menggunakan KM Kerinci melalui rute Bitung, Kwandang, Ternate, Ambon, hingga Bau-Bau menjadi “Odyssey” kecil yang memperlihatkan betapa luas dan indahnya Indonesia Timur.

Kini, tiga dekade kemudian, mahasiswa yang dulunya mual di Selat Makassar telah bertransformasi menjadi Diaspora Kelautan. Mereka adalah pilar tersembunyi di balik visi “Poros Maritim Dunia” dan “Nawa Cita”.

Kita bisa menemukan mereka sebagai pengambil kebijakan di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), analis di Kemenko Maritim, akademisi oseanografi, pengusaha perikanan, hingga pegiat literasi dan blogger. Mereka bukan lagi penonton, melainkan penggerak utama yang memastikan 5,8 juta kilometer persegi laut kita tidak kembali menjadi “lubang” tanpa tuan.

Masa Depan dan Refleksi Akhir

Warisan Sandi Pati Bahari adalah bukti bahwa kedaulatan tidak cukup hanya dipertahankan dengan diplomasi di atas kertas, tetapi harus didukung oleh kesiapan SDM yang mencintai laut dengan segala risikonya.

Saat ini, tantangan maritim kita berkembang mulai dari illegal fishing hingga perubahan iklim yang mengancam terumbu karang kita.

Sudahkah kita, sebagai pewaris bangsa pelaut, memberikan perhatian yang setimpal bagi masa depan maritim Indonesia? Ataukah kita kembali memunggungi laut dan melupakan bahwa di sanalah jati diri kita berada?

Mari kita teruskan semangat 1994 ini, demi memastikan bahwa kejayaan kita bukan hanya cerita masa lalu Sriwijaya, melainkan realitas masa depan anak cucu kita.

Jalesveva Jayamahe — Di Lautan Kita Jaya!