Di Titik Nadir, Ketika Surga Bahari Wakatobi Mulai Kehilangan Penyangganya

  • Whatsapp
Rubble, coral bleaching (image by Pelakita.ID)

Oleh Kamaruddin Azis
Founder The Maritime Posts

MARITIMEPOSTS.COM – Pagi baru saja merekah di Mola Raya ketika air laut mulai merambat ke bawah rumah-rumah panggung. Bagi wisatawan, pemandangan ini mungkin terlihat biasa.

Laut memang bagian dari kehidupan masyarakat Bajo yang sejak turun-temurun hidup berdampingan dengan ombak.

Bagi warga, ada sesuatu yang berubah.

Air pasang datang lebih tinggi daripada yang mereka ingat. Arus bergerak dengan pola yang sulit ditebak. Musim tak lagi hadir sesuai penanggalan yang diwariskan leluhur. Di laut, ikan-ikan yang dahulu mudah ditangkap kini seolah menjauh dari kampung halaman mereka.

“Dulu kami tahu kapan angin berubah, kapan laut aman untuk melaut. Sekarang sulit dipastikan,” tutur Abdul Manan, Presiden Bajo se-dunia asal Mola dalam dokumentasi lapangan penelitian yang dilakukan JICA dan The COMMIT Foundation.

Apa yang dirasakan Manan bukan sekadar kesan subjektif. Kajian yang dilakukan pada 2012-2013 tersebut menemukan berbagai perubahan ekologis yang mengindikasikan bahwa Wakatobi sedang menghadapi tekanan lingkungan yang serius.

Di wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat biodiversitas laut dunia ini, perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Laut yang Kehilangan Ritmenya

Selama berabad-abad, masyarakat Wakatobi hidup dengan membaca alam.

“Nama-nama angin seperti Timu, Salata, Bhetopariama, dan Wakampopo bukan sekadar istilah lokal. Ia adalah pengetahuan navigasi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” sebut Abdul Manan yang kala itu adalah juga Kepala Bappeda Wakatobi.

Dikatakan, melalui tanda-tanda alam tersebut, nelayan menentukan kapan harus melaut, petani menentukan musim tanam, dan masyarakat pesisir mempersiapkan diri menghadapi perubahan cuaca.

Kini, pengetahuan itu mulai kehilangan kepastiannya.

Penelitian The COMMIT Foundation mencatat bahwa arus laut mulai berubah sejak 2006 dan semakin tidak menentu setelah 2012. Warga juga melaporkan peningkatan tinggi muka air laut hingga sekitar 20 sentimeter saat surut dan mencapai 80 sentimeter saat pasang.

Perubahan itu diperparah oleh meningkatnya intensitas badai lokal yang dikenal sebagai Latogo.

“Badai sekarang terasa lebih kuat dibanding dulu,” ungkap Jumiadin, seorang warga pesisir Tomia yang ikut dalam riset.

Disebutkan Jumiadin, bagi komunitas yang tinggal hanya beberapa meter dari bibir pantai, perubahan tersebut bukan sekadar fenomena cuaca. Ia menjadi ancaman langsung terhadap rumah, dermaga, dan ruang hidup mereka.

Hutan yang Menyusut, Satwa yang Menghilang

Jika laut berubah dari depan rumah warga, perubahan lain terjadi diam-diam di daratan.

Kajian JICA dan COMMIT menemukan bahwa eksploitasi pohon telah berlangsung sejak sekitar tahun 1920-an. Selama puluhan tahun, kawasan hutan terus menyusut akibat pembukaan lahan untuk pemukiman, fasilitas umum, pertanian, dan perkebunan.

“Akibatnya, banyak spesies kehilangan habitatnya,” tegas Ruslan Situju, koordinator riset COMMIT asal Kota Kendari.

Ruslan menambahkan, masyarakat menyebut sejumlah satwa yang kini semakin jarang ditemukan, seperti Buritti, Bangau, Tekukur, dan Maa. Populasi burung-burung khas Wakatobi, termasuk beberapa jenis kakatua dan elang, juga dilaporkan terus menurun.

“Hilangnya satwa liar sering kali dipandang sebagai isu konservasi semata. Padahal bagi masyarakat pulau kecil, keberadaan satwa dan vegetasi merupakan bagian dari sistem ekologis yang menjaga keseimbangan sumber air, tanah, dan iklim mikro,” kata Ruslan.

“Ketika hutan menyusut, seluruh sistem penyangga kehidupan ikut melemah,” tegasnya.

Ikan Pergi Menjauh

Perubahan paling nyata mungkin dirasakan oleh nelayan seperti Hasanuddin di Desa Tampara, Pulau Kaledupa.

“Di berbagai desa pesisir, warga mengaku hasil tangkapan terus menurun dibandingkan masa lalu. Beberapa jenis ikan konsumsi utama seperti katamba, kakap, taruda, lompa, dan opuru kini lebih banyak ditemukan di perairan yang jauh dari pantai,” sebut Hasanuddin kepada Kamaruddin Azis, sekretaris COMMIT yang juga analis riset tersebut.

“Dulu cukup di sekitar kampung. Sekarang harus pergi jauh ke tengah laut,” tambah Hasanuddin.

Perubahan ini memaksa nelayan mengeluarkan biaya lebih besar untuk bahan bakar, memperpanjang waktu melaut, dan meningkatkan risiko keselamatan.

Di tengah menurunnya hasil tangkapan, muncul fenomena yang membingungkan masyarakat.

“Pada tahun 2012, warga di Wangi-Wangi, Kaledupa, dan Tomia melaporkan kemunculan massal ikan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Masyarakat menyebutnya sebagai “Pogo Baru”. Kemunculan spesies baru tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kondisi perairan dan suhu laut yang memengaruhi distribusi organisme laut,” tambah Abdul Manan.

Bagi para ilmuwan, pengambil kebijakan seperti Abdul Manan, fenomena seperti ini sering menjadi indikator bahwa ekosistem sedang mengalami pergeseran.

Ketika Air Tawar Menjadi Barang Mahal

Ironi terbesar Wakatobi mungkin terletak pada persoalan air. Di tengah hamparan laut yang mengelilingi pulau-pulaunya, masyarakat justru semakin kesulitan mendapatkan air bersih.

“Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sumur warga mulai terasa payau akibat intrusi air laut. Pada saat yang sama, debit sejumlah mata air dan gua sumber air mengalami penurunan,” ungkap Saoruddin Ludi, asal Kaledupa.

“Air sumur sekarang sudah berbeda. Rasanya mulai asin,” ungkapnya.

Perubahan tersebut berdampak langsung pada pengeluaran keluarga. Sebagian warga terpaksa membeli air bersih. Sebagian lainnya harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan sumber air yang layak konsumsi.

Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kondisi ini menjadi tekanan ekonomi yang tidak kecil.

Meski menghadapi berbagai tekanan, masyarakat Wakatobi tidak menyerah.

Mereka beradaptasi.

“Nelayan mulai memodifikasi alat tangkap agar mampu menjangkau perairan yang lebih jauh. Petani menyesuaikan kembali sistem tanam Heresoi yang selama ini menjadi bagian dari pengetahuan lokal mereka,” ucap Hasanuddin saat bertemu Jumardi Lanta, Kamaruddin Azis dan Ms. Noguchi dari JICA-CDCCS di Pulau Kaledupa.

Sebagian warga bahkan mengambil keputusan yang lebih drastis: meninggalkan kampung halaman.

“Sejak awal tahun 2000-an, migrasi keluar daerah menjadi fenomena yang semakin umum. Taliabo, Ternate, Maluku, hingga Papua menjadi tujuan baru bagi warga yang mencari peluang ekonomi,” ungkap Hasanuddin.

Perubahan ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Ketika laut berubah, ekonomi ikut berubah.

“Ketika air menjadi langka, struktur sosial ikut bergeser. Ketika hasil tangkapan menurun, generasi muda mulai mencari masa depan di tempat lain,” keluh Hasanuddin.

Sebuah Peringatan dari Pulau-Pulau Kecil

Wakatobi selama ini dikenal dunia sebagai rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya di planet ini. Namun di balik citra sebagai destinasi wisata kelas dunia, pulau-pulau kecil ini sedang mengirimkan pesan yang sangat jelas.

Mereka berada di garis depan krisis iklim.

Kajian JICA dan The COMMIT Foundation memperlihatkan bahwa perubahan yang terjadi bukan hanya persoalan kenaikan suhu atau naiknya muka laut. Perubahan tersebut telah menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat, mulai dari sumber air, hasil tangkapan ikan, keberadaan hutan, hingga pola migrasi penduduk.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah perubahan itu sedang terjadi.

Masyarakat Wakatobi sudah merasakannya.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah perhatian, kebijakan, dan investasi untuk adaptasi akan datang cukup cepat sebelum perubahan tersebut melampaui kemampuan masyarakat untuk bertahan.

Karena jika Wakatobi—yang selama ini dikenal sebagai jantung biodiversitas laut dunia—sedang berjuang mempertahankan keseimbangannya, maka apa yang terjadi di sini sesungguhnya adalah cermin masa depan bagi ribuan pulau kecil lainnya di Indonesia.

___
Penulis Kamaruddin Azis, founder The Maritime Posts