Dr Aryo Hanggono: PR berat PRL mengawal keseimbangan ekosistem

  • Whatsapp
Dr Aryo Hanggono (kiri) bersama Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati PRL, Andi Rusandi (dok: istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan  terutama konservasi spesies ikan terancam punah tidak mudah. Sifat laut yang terbuka, berkaitan banyak pemangku dan kepentingan, menjadi penyebab mengapa ruang laut berikut pola pengelolaannya sangat membutuhkan leadership tangguh, bukan hanya KKP tetapi semua pihak.

Simpulan tersebut diperoleh setelah mendengar paparan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr Aryo Hanggono pada seminar daring  Konservasi Ikan Terancam Punah di Indonesia.

Read More

Acara tersebut merupakan kerjasama Sub-Direktorat Konservasi dan KeanekaragamaN Hayati, KKP bersama WCS Indonesia Program, 14 Juli 2020. Ribuan orang mengikuti acara yang digelar via Zoom dan live Youtube ini.

Acara tersebut menghadirkan narasumber dari KKP, Ir. Andi Rusandi, M.Si yang merupakan Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, KKP, Dr Atit Kanti, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Noviar Andayani, Country Director WCS Indonesia Program serta Gayatri Reksodihardjo-Lilley, M.Sc, Direktur Pelaksana Yayasan LINI.

Dalam paparannya, Aryo menyatakan perlunya ekosistem yang sehat dan produktif.  Dia mengingatkan para pihak untuk tidak melupakan aspek konservasi dalam proses transformasi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

“Keseimbangan antara pemanfaatan dan konservasi. PR berat kami di PRL bagaimana mengawal keseimbangan ekosistem dan perairan,” katanya.

Di pandangan Aryo, potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar, sudah mulai mengalami penurunan kualitas.

“Bagamana berupaya merehabilitasi untuk mencapai keseimbangan baru. Kita memberikan ide, bukan hanya makan tapi disi dengan menjaga keberlanjutan. Akses pasar global yang telah menggeser pola pemanfaatan ikan,” katanya.

Dia juga mengingatkan agar penggiat konservasi untuk belajar tentang apa yang mesti dilakukan terkait perlunya harvest control.

“Itu harus sama-sama, bahwa kita menentukan data saintifik, supaya melakukan konservasi di dalam potensi sumber daya ikan. Bukan hanya mendelienasi tetapi potensinya yang berapa sih yang boleh ditangkap, diambil,” ujarnya.

Dia menyebut bahwa sangat penting untuk memperhatikan bagaimana insiatif pengelolaan sumber daya ikan, tentang konservasi sumber daya ikan.

“Keanakeragaman harus dijaga, rantai makanan, saling terhubung. Upaya konsevasi dalam satu agenda pembangunan, spesias prioritas adalah prioritas perlindungan,” imbuhnya.

Poin lain yang disampaikannya adalah tentang ancaman, tentang tekanan pada spesies endemik. Spesies yang reproduksinya rendah yang terancam punah sebagaimana menjadi tema utama pada seminar daring multi pihak ini.

Menurutnya, ada 308 spesies yang menghadapi masalah yang membutuhkan sinergitas. “Ini memerlukan indikator kinerja, pengelolaan keanekaragaman hayati, perlunya penyusunan peta jalan serta jenis-jenis ikan yang terancam punah,” imbuhnya.

Saat in, menurut Aryo, ada 20 jenis spesies sumber daya perairan yang diprioritaskan dari 308 spesies dan menentukan strategi pengelolaan. “Kalau di pengelolaan sumber daya ikan ada harvest strategy, maka perlu pula strategi biota perikanan prioritas,” tambahnya.

“Turunannya ke depan dapat menjadi rencana aksi nasional konservasi masing-masing jenis agar peran stakehoder dapat teritegrasi,” katanya.

“Upaya konservasi tidak hanya oleh pemerintah tetapi perlu komitemn dan partisipasi akif semua pihak, Pemda, akademisi, pelaku usaha, jangan ditinggalak LSM, para pihak lainnya. Ini akan berdampak besar dalam upaya konservasi ikan sehingga manfaatnya bisa optimal,” katanya lagi.

“Selamat mengikuti acara ini supaya dapat bertukar pkiran dalam menjaga dan melestarikan SDI yang lebh baik,” tutupnya.

Related posts