Muh. Rafli Saputra dan Tiga Pelajaran Berharga dari Workshop Konten Budaya Lokal

  • Whatsapp

Catatan Muh. Rafli Saputra, peserta workshop Menulis Konten Budaya Lokal di Balla Barakka ri Galesong, 16 Agustus 2026

PELAKITA.ID – Workshop Konten Budaya Lokal yang saya ikuti pada Sabtu, 15 Agustus 2026, memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang sangat berharga.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda, yaitu Jalil Matewakkang, S.Pd., Gr., M.H., M.M., Yus Amin DB, dan Dr. Junaidi, S.Pd., M.Pd.

Masing-masing membawakan materi yang menarik dan membuka wawasan saya tentang dunia menulis serta pentingnya budaya lokal sebagai sumber inspirasi.

Materi pertama disampaikan oleh Jalil Matewakan dengan tema “Trik dan Tips Menulis.” Dari seluruh materi yang beliau sampaikan, ada satu pelajaran yang paling membekas dalam ingatan saya.

Beliau menjelaskan bahwa ketika ingin menyelesaikan sebuah tulisan, seorang penulis harus fokus pada proses menulis hingga selesai terlebih dahulu.

Kita tidak perlu terlalu sering berhenti untuk mengoreksi susunan kata, ejaan, atau struktur kalimat. Jika terlalu sibuk memperbaiki tulisan di tengah proses, maka tulisan akan sulit diselesaikan dan ide yang ingin disampaikan menjadi terhambat.

Nasihat sederhana ini memberikan motivasi besar bagi saya untuk lebih berani menulis dan menuntaskan tulisan sebelum melakukan penyuntingan.

Materi kedua dibawakan oleh Yus Amin DB dengan judul “Budaya sebagai Ruang Menulis.” Pada sesi ini saya mendapatkan banyak informasi menarik mengenai budaya lokal yang selama ini jarang saya ketahui.

Salah satunya adalah kisah tentang Tari Pakarena.

Selama ini saya hanya mengenal Tari Pakarena sebagai salah satu tarian tradisional Sulawesi Selatan. Namun melalui penjelasan pemateri, saya mengetahui bahwa tarian ini memiliki sejarah dan makna yang lebih dalam.

Tari Pakarena pernah menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu-tamu penting dan kalangan bangsawan pada masa lampau.

Informasi tersebut membuat saya menyadari bahwa budaya menyimpan banyak cerita yang dapat dijadikan bahan tulisan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Materi ketiga disampaikan oleh Dr. Junaidi, S.Pd., M.Pd. dengan tema “Menjadi Penulis Itu Keren.” Dari sesi ini saya memperoleh motivasi yang sangat kuat untuk terus menulis.

Beliau menyampaikan bahwa seorang penulis akan selalu dikenang melalui karya-karyanya.

Meskipun suatu saat penulis telah tiada, gagasan dan pemikirannya tetap hidup melalui tulisan yang dibaca banyak orang. Kalimat tersebut sangat menginspirasi saya karena menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Menurut saya, menjadi penulis memang sesuatu yang keren. Melalui tulisan, seseorang dapat menuangkan ide, pengalaman, dan pandangannya kepada banyak orang.

Tulisan juga menjadi jembatan yang menghubungkan pikiran penulis dengan pembacanya.

Ketika seseorang membaca karya kita, mereka dapat memahami apa yang kita rasakan, pikirkan, dan ingin sampaikan.

Workshop Konten Budaya Lokal ini memberikan tiga pelajaran penting bagi saya. Pertama, fokuslah menyelesaikan tulisan sebelum mengoreksinya.

Kedua, budaya lokal merupakan sumber inspirasi yang kaya untuk ditulis dan dikenalkan kepada masyarakat.

Ketiga, menulis adalah cara untuk meninggalkan warisan pemikiran yang akan terus hidup melalui karya.

Karena itu, saya semakin termotivasi untuk belajar menulis dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Saya bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini dan mendapatkan ilmu yang sangat berharga dari para narasumber.

Semoga pengalaman ini menjadi langkah awal bagi saya untuk terus mengembangkan kemampuan menulis sekaligus ikut melestarikan budaya lokal melalui karya-karya yang saya hasilkan.

___
Tambakola, 23 Agustus 2026