Faizal ‘Red Corner’ Ungkap Peta Bisnis Kopi, dari Hilirisasi, Inovasi hingga Jaringan Internasional

  • Whatsapp
Ical Red Corner (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Bagi banyak orang, kopi berhenti sebagai komoditas pertanian atau secangkir minuman. Bagi Faizal yang akrab dikenal sebagai “Red Corner”, kopi adalah pintu masuk menuju transformasi ekonomi desa, hilirisasi berbasis inovasi, hingga diplomasi perdagangan internasional.

Pandangan itu ia sampaikan dalam Bincang Ekonomi Daerah bertajuk “Kebijakan UMKM Berbasis Komoditas, Peluang Investasi Kopi serta Kolaborasi untuk Penguatan Ekonomi Daerah”, yang digelar dalam rangkaian Kelas Studi Pembangunan Unhas 2025 bersama Pelakita.ID atas dukungan Universitas Hasanuddin, DPP Garuda Astacita Nusantara dan Ikafe Unhas.

Forum yang berlangsung di Red Corner Cafe, Makassar, pada Jumat, 3 Juli 2026, menghadirkan tiga perspektif berbeda namun saling melengkapi.

Dari sisi pemerintah, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan, Yunita Ghalib yang mewakil Plt Kadis Wiwik E. Wijaya yang memaparkan arah kebijakan pengembangan UMKM berbasis komoditas serta strategi memperkuat daya saing produk Sulawesi Selatan di pasar nasional maupun internasional.

Dari kalangan akademisi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Mursalim Nohong, mengulas pentingnya membangun ekosistem bisnis kopi yang terintegrasi, mulai dari penguatan petani, hilirisasi industri, koperasi, hingga pengembangan coffee tourism sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Ical memulai paparannya dengan mengatakan kopi itu semakin dipelajari, semakin membuat kita turun ke hulu, sampai kepada petani.

“Kalau ingin menghasilkan kopi yang baik, kita harus belajar dari budidaya, roasting, penyeduhan, sampai memahami pasar,” ujarnya.

Menurut Faizal, proses belajar itu justru membuka mata bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Hilirisasi Dimulai dari Kampus

Perjalanan Faizal memasuki dunia kopi berawal ketika dipercaya membantu pengembangan inovasi melalui Technology Transfer Office (TTO) Universitas Hasanuddin.

Ia melihat banyak hasil penelitian kampus yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk diterapkan di masyarakat, namun belum menemukan jalan menuju dunia industri.

Kesempatan itu datang ketika salah satu kepala daerah tertarik mengadopsi teknologi fermentasi kopi hasil inovasi peneliti Unhas.

Dari situlah lahir sebuah proyek hilirisasi yang kemudian diterapkan di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Meski peluncuran teknologi dilakukan pada akhir musim panen sehingga manfaatnya belum langsung terasa, hasilnya mulai terlihat pada musim berikutnya.

Teknologi fermentasi tersebut berhasil meningkatkan kualitas kopi sekaligus menaikkan nilai jual produk petani secara signifikan.

Jika sebelumnya green bean hanya dijual sekitar Rp140.000 per kilogram, setelah melalui proses fermentasi inovatif nilainya melonjak menjadi sekitar Rp190.000 per kilogram.

Artinya, petani memperoleh tambahan nilai ekonomi sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 untuk setiap kilogram kopi yang dihasilkan.

“Dampaknya sudah nyata. Produknya sudah dikirim ke Jakarta dan Makassar. Bahkan sekarang kapasitas alat yang ada sudah mulai tidak mencukupi karena permintaan meningkat,” jelasnya.

Keberhasilan tersebut bahkan membuat pemerintah daerah berencana menambah unit mesin fermentasi agar lebih banyak petani dapat menikmati manfaatnya.

Inovasi Saja Tidak Cukup

Namun bagi Faizal, inovasi teknologi hanyalah tahap pertama.

Tahap berikutnya justru lebih menantang, yakni bagaimana mengubah produk kopi menjadi merek premium yang memiliki nilai emosional dan ekonomi tinggi.

Ia menggambarkan bahwa sebuah produk tidak cukup hanya berkualitas. Produk juga harus memiliki cerita, identitas, kemasan, serta strategi pemasaran yang mampu menciptakan persepsi premium.

“Saya sekarang berada pada fase promosi dan marketing. Produk ini sudah punya kualitas. Tinggal bagaimana membangun positioning dan branding sehingga orang bersedia membayar lebih mahal.”

Menurutnya, kemasan tidak boleh lagi dibuat secara sederhana.

Sebaliknya, kopi premium harus tampil mewah, elegan, dan mampu merepresentasikan kualitas yang dimiliki.

Ia mencontohkan bagaimana berbagai merek dunia mampu menjual produk dengan harga tinggi bukan semata-mata karena kualitas bahan, tetapi karena keberhasilan membangun citra dan pengalaman merek.

Karena itu, Faizal mengajak generasi muda, praktisi pemasaran, hingga akademisi untuk bersama-sama menciptakan strategi branding yang kuat bagi kopi Indonesia.

Masalah Terbesar: Informasi Pasar Global

Di luar persoalan produksi dan pemasaran domestik, Faizal menilai Indonesia masih menghadapi kelemahan mendasar dalam membaca pasar internasional.

Selama ini, menurutnya, pelaku usaha harus mencari sendiri informasi mengenai negara tujuan ekspor.

Mulai dari harga pasar, preferensi konsumen, jaringan distribusi, hingga siapa pemain utama di masing-masing negara, seluruh data tersebut belum tersedia secara memadai.

“Saya sering mengirim sampel kopi ke berbagai duta besar. Pertanyaan saya sederhana, kopi ini kalau dijual di negara Bapak, harganya berapa?”

Jawaban yang diterimanya cukup mengejutkan.

Di Bahrain, misalnya, kopi dengan kualitas serupa diperkirakan dapat dijual dengan nilai sekitar Rp300.000 per kilogram.

Informasi dari Australia pun menunjukkan bahwa kopi premium masih memiliki ruang harga yang kompetitif.

Temuan-temuan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa kopi Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar memperoleh nilai tambah jauh lebih tinggi apabila mampu masuk langsung ke pasar internasional.

Sayangnya, pelaku usaha masih kekurangan data strategis yang seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis.

“Saya butuh market intelligence. Berapa ukuran pasarnya, siapa pemainnya, bagaimana strategi mereka, siapa yang menguasai distribusi. Semua itu adalah senjata bagi pengusaha untuk melakukan ekspansi.”

Tiga Langkah Besar Membangun Ekosistem Kopi

Berdasarkan pengalaman tersebut, Faizal menawarkan tiga langkah strategis untuk mempercepat pembangunan ekosistem kopi nasional.

Pertama, memperbanyak replikasi model sukses hilirisasi seperti yang telah dilakukan di Desa Baderan melalui kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Kedua, mempertemukan para pengusaha, khususnya generasi muda, dengan para inovator agar produk-produk kopi memperoleh dukungan branding, pemasaran, dan strategi bisnis yang profesional.

Ketiga, membangun jejaring internasional melalui kerja sama dengan para duta besar dan berbagai negara tujuan ekspor guna membuka akses pasar sekaligus memperoleh informasi bisnis yang lebih akurat.

Menurut Faizal, ketiga langkah tersebut akan membentuk mata rantai yang selama ini terputus antara petani, inovasi teknologi, dunia usaha, dan pasar global.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Faizal menegaskan dirinya tidak melihat kopi semata sebagai komoditas ekspor dalam jumlah besar dengan harga yang terus ditekan.

Sebaliknya, ia ingin mendorong lahirnya ekosistem specialty coffee yang memberikan keuntungan lebih besar kepada petani sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar premium dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, kolaborasi menjadi syarat utama.

Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga generasi muda harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Kalau semua pihak fokus pada titik-titik masalah yang ada, saya yakin ekosistem specialty coffee bisa terbentuk. Model ini bisa diduplikasi di banyak daerah penghasil kopi di Indonesia.”

Gagasan Faizal menunjukkan bahwa masa depan kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas kebun atau tingginya produksi, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan inovasi, branding, riset pasar, dan diplomasi ekonomi dalam satu strategi yang utuh.

Di sanalah nilai tambah lahir, dan di sanalah kesejahteraan petani dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.