PELAKITA.ID – Di atas meja domino, kemenangan memang dicari. Namun di Enreco Coffee, Sabtu malam (13/6/2026), para alumni Universitas Hasanuddin menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: persaudaraan yang terus tumbuh dari pertemuan ke pertemuan.
Liga Domino Unhas Seri #2 kembali mempertemukan para alumni lintas generasi dalam suasana hangat yang sulit ditemukan di tengah kesibukan masing-masing.
Gelak tawa bersahutan, strategi dirancang dengan serius, lalu seketika mencair menjadi canda ketika kartu-kartu domino berpindah tangan. Tak ada sekat fakultas, profesi, maupun angkatan. Yang tersisa hanyalah semangat kebersamaan sebagai keluarga besar IKA Unhas.
Bagi penulis, kompetisi kali ini memiliki cerita tersendiri. Setelah pekan lalu meraih posisi juara kedua, penulis kembali turun bertanding dengan berpasangan bersama Akbar Mangenre Kurusi.
Bahkan, demi mengikuti ronde kedua ini, ia harus bergegas pulang dari Kabupaten Barru agar dapat hadir tepat waktu di arena pertandingan.
Perjuangan itu tidak sia-sia. Pasangan Denun-Akbar mencatatkan dua kemenangan dan satu kekalahan pada babak penyisihan.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika mereka berhasil mengalahkan Ketua Batom Domino IKA Unhas, Yasidin Al Alitta, yang berpasangan dengan Maqbul Halim.
Sebuah kemenangan yang menghadirkan kebanggaan kecil sekaligus bahan cerita yang akan dikenang dalam pertemuan-pertemuan berikutnya.

Sebagaimana kehidupan, kompetisi tidak selalu ditentukan oleh jumlah kemenangan. Meski menang dua kali, kami harus mengakhiri perjalanan lebih cepat karena kalah dalam perhitungan selisih poin.
Kami gagal melangkah ke fase berikutnya, meskipun memiliki catatan kemenangan yang cukup baik, tidak lantas pulang namun merenungi nasib bersama Maqbul Halim, Akbar, Arsan dan Yasidin Sang Ketua Batom.
Pada akhirnya, juara pertama diraih pasangan Ucu dan Catur dari Ikatek.
Posisi kedua ditempati Iffank dan Qadri, sementara peringkat ketiga menjadi milik pasangan Idzhar dan Awing.
Tetapi malam itu, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar pulang sebagai pecundang.
Semua peserta membawa pulang hadiah, menikmati hidangan bersama, dan yang paling penting, membawa pulang kenangan tentang persahabatan yang terus dirawat.
Ketua Batom Domino IKA Unhas, Yasidin Al Alitta, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menjaga semangat sportivitas dan kekeluargaan selama kompetisi berlangsung.

“Domino hanyalah medianya. Yang sesungguhnya kita bangun adalah silaturahmi. Selama peserta masih datang dengan senyum, saling menyapa, dan pulang dengan hati yang gembira, maka tujuan kegiatan ini telah tercapai. Kami ingin Batom Domino menjadi ruang yang mempererat persaudaraan alumni Unhas tanpa memandang latar belakang dan angkatan,” ujarnya.
Malam pun semakin larut. Satu per satu peserta meninggalkan arena pertandingan.
Seperti biji domino yang akan kembali disusun pada pertemuan berikutnya, persahabatan yang terjalin malam itu akan terus menemukan jalannya untuk bertemu kembali.
Bagi penulis, dalam setiap kompetisi Batom Domino IKA Unhas, yang paling indah bukanlah menjadi juara, melainkan merayakan kebersamaan.
“Terima kasih mie instannya pak ketua Batom!”
___
Penulis, Denun di Tamarunang









