Dari Lahan Terlantar Menjadi Kebun Produktif: Kisah Nurdin Mengembangkan Nenas Madu di Pujananting

  • Whatsapp
Nurdin, petani nenas madu di Desa Jangan Jangan, Kecamatan Pujananting, Barru (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Rencana melanjutkan perjalanan menuju jantung Gattareng, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru siang 12 Juni 2026 itu terpaksa dibatalkan.

Kondisi jalan di sekitar Poros Pattampa tidak begitu bersahabat, sementara kendaraan yang digunakan mulai menunjukkan gejala panas mesin berlebih. Pilihan paling bijak adalah memutar arah dan kembali ke ruas Jalan Jangan-Jangan.

Gerimis tipis turun membasahi perbukitan. Setelah singgah di sebuah bengkel untuk memastikan kondisi kendaraan, penulis mendapat informasi menarik dari warga setempat.

Di kawasan jalur poros belakang Desa Jangan-Jangan, ternyata terdapat hamparan perkebunan nenas madu yang mulai berkembang dan menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat.

Informasi itu langsung mengingatkan pada pernyataan Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, saat menghadiri pelantikan pengurus Center for Information and Development Studies (CIDES) ICMI Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

“Di Barru, kami juga memiliki banyak areal perkebunan nenas,” ujar Andi Ina di hadapan Kepala BRIN, Arif Satria.

Pernyataan itu rupanya bukan sekadar promosi daerah. Di balik perbukitan Kecamatan Pujananting, geliat budidaya nenas memang mulai terlihat nyata.

Bertemu Nurdin

Gerimis masih turun ketika penulis melintas di pertigaan Jalan Jangan-Jangan menuju Gattareng. Di sebuah lereng kebun, tampak seorang pria bertopi koboi sedang mengayunkan cangkul. Ia merapikan lahan yang akan ditanami bibit nenas baru.

Pria itu bernama Nurdin.

Dengan ramah, ia menghentikan pekerjaannya sejenak dan bercerita tentang usaha yang telah dirintisnya selama dua tahun terakhir. Menurutnya, sebagian besar lahan yang kini ditanami nenas dulunya merupakan area yang tidak produktif dan jarang dimanfaatkan.

“Kami beli ini lahan karena memang tidak dimanfaatkan,” katanya sambil menunjuk hamparan tanaman nenas yang tumbuh di lereng seberang jalan.

Pemandangan di kebun Nurdin cukup menarik. Ribuan tanaman nenas tersusun rapi mengikuti kontur perbukitan, membentuk undakan-undakan alami yang memanjang di sepanjang lereng. Lahan yang sebelumnya dianggap kurang bernilai kini berubah menjadi kebun produktif yang menjanjikan.

Nurdin mengaku mulai serius mengembangkan budidaya nenas madu sejak tahun lalu. Ia melihat komoditas ini memiliki prospek yang baik karena mampu tumbuh di lahan kering dan relatif mudah dirawat.

Nenas madu di pelepah pohonnya (dok: www.faunadanflora.com)

Di beberapa petak kebun, tanaman yang baru berumur sekitar lima bulan tampak tumbuh subur. Sementara itu, di lereng seberang jalan, tanaman yang lebih dahulu ditanam sudah mulai berbunga.

“Sudah siap berbuah itu,” ujarnya dengan nada optimistis.

Keseriusan Nurdin terlihat dari skala usaha yang terus berkembang. Hingga saat ini, ia mengaku telah menanam sekitar 20 ribu pohon nenas madu yang tersebar di beberapa titik lahan.

Bibit yang digunakan berasal dari berbagai daerah. Namun sebagian besar didatangkan dari Kalimantan karena dinilai memiliki kualitas pertumbuhan yang baik dan cocok dengan kondisi lahan di wilayah Pujananting.

Usaha ini juga mendapat dukungan penuh dari keluarga.

Putranya, Ilham, turut membantu pengembangan kebun dan pemasaran hasil panen. Bahkan, nenas madu dari kebun mereka pernah dibawa hingga ke Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk pertanian Barru kepada pasar yang lebih luas.

Bagi Nurdin, menanam nenas madu bukan hanya soal mencari keuntungan ekonomi. Ia melihatnya sebagai cara menghidupkan kembali lahan-lahan yang selama ini terbengkalai agar kembali memberikan manfaat.

Ia berharap apa yang dirintisnya dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk memanfaatkan lahan yang belum produktif menjadi sumber pendapatan baru.

Penampakan nenas madu jika sudah dipanen (autoimuncare.co.id)

Di tengah tantangan sektor pertanian yang terus berubah, kisah Nurdin menunjukkan bahwa peluang sering kali hadir dari tempat yang selama ini dianggap tidak bernilai.

Dengan ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan melihat potensi lahan, perbukitan yang dahulu terlantar kini perlahan berubah menjadi kebun nenas madu yang menjanjikan masa depan.

Tentang nenas madu

Tanaman nanas merupakan salah satu komoditas hortikultura yang relatif mudah dibudidayakan karena mampu tumbuh pada berbagai kondisi iklim, baik basah maupun kering.

Tanaman ini dapat beradaptasi pada curah hujan sekitar 1.000–1.500 mm per tahun, dengan suhu ideal antara 23–32 derajat Celsius.

Nenas madu juga menyukai daerah yang mendapatkan sinar matahari cukup dan lebih cocok dikembangkan di dataran rendah dengan tanah berpasir, subur, kaya bahan organik, serta memiliki tingkat keasaman (pH) antara 4,5 hingga 6,5.

Perbanyakan tanaman nanas umumnya dilakukan secara vegetatif menggunakan tunas batang karena lebih cepat dan praktis dibandingkan melalui biji.

Bibit yang baik berasal dari tanaman induk yang sehat dan sedang atau telah selesai berbuah. Tunas dengan panjang sekitar 30–35 cm dipilih, kemudian sebagian daun bagian bawah dipangkas untuk mengurangi penguapan.

Setelah disemaikan dalam polybag hingga cukup kuat, bibit siap dipindahkan ke lahan permanen yang telah diolah dan dibuat bedengan agar drainase berjalan dengan baik. Dalam proses budidaya, pemeliharaan menjadi faktor penting untuk memperoleh hasil yang optimal.

Penyiangan gulma perlu dilakukan secara berkala agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Pemupukan pertama biasanya diberikan saat tanaman berumur 2–3 bulan, kemudian diulang setiap 3–4 bulan hingga tanaman memasuki fase berbunga dan berbuah.

Meskipun nanas dikenal tahan terhadap kekeringan, penyiraman tetap diperlukan terutama pada musim kemarau, dengan frekuensi yang disesuaikan kondisi cuaca dan kebutuhan tanaman.

Nanas umumnya mulai berbuah dalam waktu 15–18 bulan setelah tanam, meskipun pada beberapa varietas panen dapat dilakukan antara 12 hingga 24 bulan.

Buah yang siap dipanen ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi kekuningan pada bagian dasar, mata buah yang lebih datar dan membulat, munculnya aroma khas nanas yang harum, serta tangkai buah yang mulai mengerut.

Dengan pengelolaan yang baik sejak pembibitan hingga panen, budidaya nanas dapat menjadi usaha pertanian yang menjanjikan sekaligus memberikan nilai ekonomi yang tinggi bagi petani.

Saat ini harga nenas madu bervariasi tentang pengolahan dan lokasi. Di Jakarta, harganya bisa mencapai 25 ribu per kilo. Biasanya ada sampai 2 sampai 3 kilo untuk satu buah. Di Surabaya bahkan bisa mencapai 30 ribu per kilo.

Menggiurkan bukan?

___
Penulis Denun