Ridwan Al Tondongkury: Kopi Gattareng Tak Asing di Lidah, Cita Rasa Khas Barru

  • Whatsapp
Biji kopi asal Barru (dok: H. Barauddin, Desa Harapan)

PELAKITA.ID – Potensi kopi yang berkembang di kawasan pegunungan Kabupaten Barru terus mendapat perhatian dari para pecinta dan pemerhati kopi di Sulawesi Selatan.

Salah satunya datang dari Ridwan Al Tondongkury, owner madu Al Tundungkury yang terkenal asal Pangkep.

Dia menilai Kopi Gattareng di Kecamatan Pujananting memiliki karakter dan identitas rasa yang khas.

Bagi Ridwan, kopi Gattareng bukanlah sesuatu yang baru. Hubungan kekerabatan dan silaturahmi yang telah lama terjalin dengan masyarakat setempat membuatnya cukup akrab dengan kopi yang tumbuh di wilayah pegunungan Barru tersebut.

“Kopi Gattareng Barru tidak asing di lidah kami orang Tondongkura. Keluarga kami banyak di sana, dan setiap kali bersilaturahmi selalu disuguhkan kopi Gattareng,” ungkapnya.

Menurut Ridwan, karakter geografis Gattareng memiliki kemiripan dengan kawasan Tondongkura yang juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi. Keduanya sama-sama berada di wilayah pegunungan dengan bentang alam yang unik.

“Bentang alam Gattareng itu di pegunungan, tetapi posisinya berada di lembah. Mirip dengan Tondongkura,” katanya.

Kondisi agroekologi seperti inilah yang diyakini turut membentuk karakter cita rasa kopi yang khas. Perbedaan suhu siang dan malam, ketinggian wilayah, serta kesuburan lahan pegunungan menjadi faktor penting dalam pembentukan kualitas biji kopi.

Ridwan menjelaskan bahwa kopi dari kawasan pegunungan Sulawesi umumnya memiliki profil rasa yang menarik. Di Tondongkura, misalnya, kopi dikenal dengan aroma floral yang kuat serta sensasi kesegaran buah atau fruity yang muncul dari proses pascapanen secara natural.

“Kopi kami dikenal dengan cita rasa aroma bunga dan kesegaran buah (fruity) karena prosesnya natural,” ujarnya.

Karena itu, ia meyakini bahwa Kopi Gattareng juga memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kopi spesialti dengan identitas tersendiri.

Kemiripan bentang alam dan kondisi lingkungan antara Tondongkura dan Gattareng membuka peluang lahirnya karakter rasa yang unik dan bernilai tinggi di pasar kopi.

Dengan nada berseloroh, Ridwan bahkan mengajak para penikmat kopi untuk lebih dahulu berkunjung ke Tondongkura sebelum melanjutkan perjalanan ke Gattareng.

“Ke Tondongkura mi buktikan, baru lanjut ke Gattareng,” katanya sambil tertawa.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kawasan pegunungan di Sulawesi Selatan menyimpan potensi besar sebagai sentra kopi berkualitas.

Jika dikelola dengan baik, didukung praktik budidaya yang berkelanjutan dan pengolahan pascapanen yang tepat, kopi dari Gattareng, Pujananting, berpeluang menjadi salah satu identitas baru kopi unggulan Kabupaten Barru.

Di tengah meningkatnya minat pasar terhadap kopi spesialti yang memiliki cerita asal-usul (origin) yang kuat, Gattareng tidak hanya menawarkan secangkir kopi, tetapi juga kisah tentang pegunungan, lembah, keluarga, dan tradisi yang telah lama terjaga melalui aroma kopi yang diseduh dari generasi ke generasi.

Redaksi