Rustan Rewa | Program MBG, Jalan Kesejahteraan Petani Lokal

  • Whatsapp
Penulis saat mengunjungi lokasi MBG di Tolitoli (dok: Istimewa)

Oleh: Rustan Rewa
Asisten Ekbang Pemda Tolitoli, pernah sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tolitoli

PELAKITA.ID – Sebagai orang yang cukup lama mengabdikan diri di sektor pertanian, saya merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat berbagai komoditas yang digunakan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tolitoli ternyata berasal dari hasil kerja petani lokal.

Saat berkunjung ke salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), saya melihat langsung jagung, buncis, buah-buahan, dan berbagai komoditas lainnya yang disajikan untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat.

Ketika saya bertanya kepada pengelola, saya mendapatkan kabar yang sangat menggembirakan: sebagian besar bahan pangan tersebut berasal dari petani Tolitoli.

Bagi saya, ini bukan sekadar soal pasokan bahan makanan. Ini adalah bukti bahwa petani lokal memiliki kemampuan untuk menjadi bagian penting dalam mendukung program strategis nasional.

Di balik setiap buah, sayuran, dan bahan pangan yang tersaji di dapur MBG, terdapat kerja keras petani yang setiap hari mengolah lahan dan menjaga keberlanjutan produksi pangan daerah.

Karena itu, saya selalu menyampaikan bahwa Program MBG harus dipandang lebih luas daripada sekadar program pemenuhan gizi. Program ini dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi rakyat apabila dirancang dengan mengutamakan produksi lokal.

Ketika kebutuhan pangan dipenuhi oleh petani daerah sendiri, maka manfaat ekonomi akan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Uang yang beredar melalui program ini tidak keluar daerah, tetapi berputar di desa-desa, menggerakkan ekonomi keluarga petani, pedagang, dan pelaku usaha kecil lainnya.

Di balik setiap buah, sayuran, dan bahan pangan yang tersaji di dapur MBG, terdapat kerja keras petani yang setiap hari mengolah lahan dan menjaga keberlanjutan produksi pangan daerah.

Tolitoli memiliki modal yang cukup kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Selama bertahun-tahun, daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi pangan di Sulawesi Tengah.

Berbagai komoditas hortikultura, jagung, padi, dan hasil pertanian lainnya tumbuh dengan baik. Potensi ini harus menjadi fondasi utama dalam mendukung keberlanjutan Program MBG.

Namun demikian, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan. Jika kita ingin petani terus berproduksi dan bersemangat mendukung program ini, maka hasil pertanian mereka harus dihargai secara layak.

Jangan sampai petani hanya dijadikan pemasok bahan baku dengan harga yang rendah. Program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat seharusnya juga menghadirkan kesejahteraan bagi para produsen pangan.

Bagi saya, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari berapa banyak makanan yang tersaji setiap hari atau berapa banyak penerima manfaat yang terlayani.

Keberhasilan program ini juga harus dilihat dari sejauh mana ia mampu menciptakan pasar yang pasti bagi petani, meningkatkan pendapatan masyarakat desa, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Jika seluruh kebutuhan dapur MBG dapat dipenuhi oleh hasil produksi petani lokal, maka kita tidak hanya sedang membangun generasi yang sehat dan cerdas. Kita juga sedang membangun ekonomi daerah yang lebih mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat fondasi pembangunan dari desa.

Pengalaman yang mulai tumbuh di Tolitoli menunjukkan bahwa hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Dengan dukungan pemerintah, pengelola SPPG, dan komitmen untuk mengutamakan produk lokal,

Program MBG dapat menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya.

Harapan saya sederhana. Semoga semakin banyak petani Tolitoli yang terlibat dalam rantai pasok MBG. Semoga semakin banyak hasil pertanian lokal yang terserap dengan harga yang adil.

Semoga program ini benar-benar menjadi jembatan antara upaya meningkatkan gizi masyarakat dengan cita-cita besar mewujudkan kesejahteraan petani Indonesia.

Ketahanan pangan yang kuat tidak hanya lahir dari program yang baik, tetapi juga dari petani yang sejahtera. Ketika petani tersenyum, sesungguhnya masa depan pangan bangsa sedang dibangun dengan kokoh.

___
Tolitoli, 12 Juni 2026