Menciptakan Masa Depan: Pesan Prof. Arif Satria untuk Cendekiawan Muslim Indonesia

  • Whatsapp
Kepala BRIN, Prof Arif Satria (dok: Pelakita.ID)

“Kalau dulu manusia memanen padi dari tanah, jagung dari tanah, ikan dari laut, sekarang manusia mulai memanen dari udara.”

Prof Arif Satria, Kepala BRIN di Makassar, 7 Juni 2026

PELAKITA.ID – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, mulai dari ketahanan pangan, energi, air, hingga transformasi teknologi global, Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, mengingatkan bahwa masa depan tidak lahir dari kebetulan.

Masa depan diciptakan oleh mereka yang memiliki keberanian untuk berpikir jauh ke depan, bekerja keras, dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi umat manusia.

Pesan itu disampaikan Prof. Arif Satria dalam ‘Pidato Kebangsaan’ pada Pelantikan Pengurus Center for Information and Development Studies (CIDES) ICMI Sulawesi Selatan di Universitas Negeri Makassar, Ahad, 7 Juni 2026.

Di hadapan para akademisi, rektor, dekan, kepala daerah, birokrat, pengusaha, dan aktivis ICMI, Prof. Arif membuka pidatonya dengan sebuah kisah inspiratif tentang seorang ilmuwan keturunan Palestina yang tumbuh sebagai pengungsi di Yordania.

Saat hidup di kamp pengungsian, ilmuwan tersebut merasakan langsung sulitnya memperoleh air di kawasan gurun yang gersang. Pengalaman itu membekas kuat dalam ingatannya hingga dewasa.

Bertahun-tahun kemudian, ketika menjadi ilmuwan, ia mendedikasikan hidupnya untuk mencari solusi atas persoalan yang pernah dialaminya sendiri.

Hasilnya luar biasa. Melalui penelitian yang berlangsung sangat panjang, ia berhasil mengembangkan teknologi yang mampu memanen air dari udara. Sebuah terobosan yang mengubah cara manusia memandang sumber daya alam.

“Kalau dulu manusia memanen padi dari tanah, jagung dari tanah, ikan dari laut, sekarang manusia mulai memanen dari udara,” ujar Prof. Arif.

Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa inovasi besar selalu lahir dari kepedulian terhadap masalah nyata yang dihadapi masyarakat.

Kini, dunia memasuki era baru ketika manusia tidak hanya mampu memanen air dari udara, tetapi juga menangkap karbon dioksida (COâ‚‚), memanen oksigen, hingga mengembangkan sistem pertanian presisi yang mampu memenuhi kebutuhan spesifik setiap tanaman.

Perkembangan teknologi telah membawa manusia menuju era personalisasi. Dalam bidang pertanian, kebutuhan pupuk dan air setiap tanaman kini dapat dihitung secara spesifik. Dalam bidang kesehatan, pengobatan mulai berbasis genomik sehingga setiap individu dapat memperoleh terapi yang berbeda sesuai karakter genetiknya.

“Dulu kita menganggap semua tanaman membutuhkan pupuk yang sama. Sekarang kita tahu bahwa setiap tanaman memiliki kebutuhan yang berbeda. Semua bergerak menuju presisi dan personalisasi,” katanya.

Namun di balik kemajuan tersebut, Prof. Arif mengingatkan bahwa kontribusi ilmuwan Muslim di panggung sains dunia masih relatif kecil. Jumlah ilmuwan Muslim yang berhasil meraih Nobel masih sangat sedikit dibandingkan dengan potensi besar yang dimiliki dunia Islam.

Padahal sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, lahir Baitul Hikmah yang menjadi pusat literasi, perpustakaan, penerjemahan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kemajuan sains Islam pada masa itu justru tumbuh karena keterbukaan terhadap berbagai sumber ilmu, termasuk karya-karya Yunani kuno.

“Kita belajar bahwa kejayaan Islam dibangun oleh keterbukaan berpikir. Para ilmuwan Muslim pada masa itu tidak takut belajar dari siapa pun dan dari mana pun,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Arif mengajak generasi muda Muslim untuk menjadikan keberhasilan para ilmuwan dunia sebagai inspirasi.

Menurutnya, tidak ada inovasi besar yang lahir secara instan. Semua membutuhkan kesabaran, ketangguhan, ketekunan, dan daya tahan yang luar biasa.

Ia mencontohkan peneliti Jepang, Susumu Kitagawa, yang mengembangkan teknologi Material Organic Framework (MOF), sebuah material baru yang memungkinkan penyimpanan gas dalam kapasitas jauh lebih besar dibandingkan teknologi konvensional.

Penelitian tersebut berlangsung selama hampir empat dekade sebelum menghasilkan pengakuan dunia.

“Untuk menciptakan manfaat yang besar, dibutuhkan usaha yang besar. Banyak penemuan besar lahir setelah puluhan tahun penelitian,” kata Prof. Arif.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang ilmuwan tidak semata-mata terletak pada gelar akademik yang disandang, melainkan pada seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkannya bagi masyarakat.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Dalam pandangannya, semakin tinggi ilmu, jabatan, dan posisi seseorang, maka semakin besar pula tanggung jawab kemanfaatan yang harus diberikan kepada masyarakat.

“Kalau seorang profesor, doktor, bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden memiliki ilmu dan kewenangan yang lebih besar, maka kemanfaatan yang dihasilkan juga harus lebih besar,” tegasnya.

Prof. Arif kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan peran strategis ICMI.

Menurutnya, ICMI merupakan organisasi yang unik karena mempertemukan berbagai unsur bangsa dalam satu wadah. Di dalamnya terdapat akademisi, birokrat, kepala daerah, pengusaha, politisi, aktivis sosial, dan tokoh masyarakat.

Keragaman itu harus diubah menjadi kekuatan kolaboratif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pembangunan.

Kepala daerah mengetahui kebutuhan masyarakat di lapangan. Akademisi memiliki kapasitas riset dan analisis. Pengusaha memahami dinamika pasar dan industri. Jika ketiganya dipertemukan dalam ruang dialog yang produktif, maka akan lahir berbagai solusi yang berdampak nyata.

“ICMI harus menjadi hub, menjadi pusat yang mempertemukan berbagai kekuatan itu untuk membangun ekosistem inovasi daerah,” ujarnya.

Dalam konteks pembangunan ekonomi, Prof. Arif mengutip teori pertumbuhan ekonomi modern yang menempatkan riset dan inovasi sebagai faktor utama kemajuan suatu bangsa.

Ia menjelaskan bahwa negara-negara dengan tingkat inovasi tinggi hampir selalu memiliki tingkat pendapatan per kapita yang tinggi, universitas yang kuat, dan daya saing ekonomi yang lebih baik.

Sebaliknya, bangsa yang lemah dalam inovasi akan sulit keluar dari jebakan ketergantungan teknologi.

Karena itu, Indonesia harus berani membangun budaya riset yang lebih kuat.

Prof. Arif mencontohkan kebangkitan Tiongkok yang dalam empat dekade terakhir berhasil bertransformasi dari negara berkembang menjadi salah satu kekuatan teknologi terbesar dunia.

Keberhasilan tersebut bukan semata karena modal ekonomi, melainkan karena investasi besar pada riset, pengembangan teknologi, dan penguatan sumber daya manusia.

Tiongkok tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga menjadi pencipta teknologi.

Jumlah paten yang dihasilkan negara tersebut kini mencapai jutaan setiap tahun, jauh melampaui banyak negara maju lainnya.

“Jumlah paten adalah salah satu indikator yang menggambarkan kemajuan sebuah bangsa,” katanya.

Indonesia, menurutnya, memiliki peluang yang sama jika mampu memperkuat ekosistem inovasi secara serius. Namun untuk mengejar ketertinggalan, Indonesia tidak boleh hanya berjalan secara linear. Indonesia membutuhkan lompatan teknologi sebagaimana pernah dicita-citakan oleh B.J. Habibie.

Pendekatan reverse engineering, keberanian mengadopsi teknologi baru, serta kemampuan membaca arah perkembangan teknologi global menjadi sangat penting.

Karena itulah BRIN saat ini sedang mengembangkan pendekatan technological foresight, yaitu kemampuan memetakan teknologi masa depan dan mengantisipasi perubahan yang akan terjadi dalam lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang.

Melalui pendekatan tersebut, riset nasional tidak hanya berfungsi menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan masa depan.

Pada akhirnya, Prof. Arif menutup pidatonya dengan sebuah pesan yang sangat kuat.

Masa depan memang tidak dapat diprediksi secara sempurna. Namun manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan masa depannya sendiri. Ia mengutip pemikiran Alan Kay yang terkenal: The best way to predict the future is to create it.

Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.

Karena itu, kampus, lembaga riset, pemerintah daerah, dunia usaha, dan ICMI harus bersama-sama menjadi pencipta masa depan Indonesia.

Bukan sekadar penonton perubahan, melainkan pelaku utama yang menghadirkan ilmu, inovasi, dan kebermanfaatan bagi bangsa.

Hanya dengan cara itulah Indonesia dapat melompat menjadi negara maju dan mewujudkan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.

___
Editor K. Azis