- Masa depan adalah sesuatu yang harus diciptakan. Ia mengutip pemikiran Alan Kay yang terkenal: “The best way to predict the future is to create it.” Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.
- Karena itu, kampus, lembaga riset, pemerintah daerah, dunia usaha, dan ICMI tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan global. Mereka harus menjadi pelaku utama yang menciptakan teknologi, inovasi, kebijakan, dan solusi bagi bangsa.
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Pidato Kebangsaan Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, pada Pelantikan Pengurus CIDES ICMI Sulawesi Selatan di Universitas Negeri Makassar menjadi pemompa semangat untuk keluarga besar Orwil ICMI Sulawesi Selatan.
Di hadapan para rektor, guru besar, akademisi, kepala daerah, pengusaha, dan aktivis ICMI, Prof. Arif menyampaikan serangkaian gagasan besar tentang masa depan Indonesia, peran cendekiawan Muslim, pentingnya inovasi, hingga strategi menjadikan Indonesia sebagai negara maju.
Dari pidato yang berlangsung lebih dari setengah jam itu, setidaknya terdapat sembilan pesan penting yang layak menjadi bahan refleksi bersama.
1. Inovasi Besar Selalu Berawal dari Masalah Nyata
Prof. Arif membuka pidatonya dengan kisah seorang ilmuwan keturunan Palestina yang tumbuh sebagai pengungsi di Yordania. Pengalaman hidup dalam keterbatasan air di kawasan gurun membuatnya terobsesi mencari solusi.
Puluhan tahun kemudian, ia berhasil mengembangkan teknologi yang mampu memanen air dari udara.
Pesan yang ingin disampaikan Prof. Arif sederhana namun mendalam: inovasi tidak lahir dari ruang hampa. Inovasi lahir dari kepekaan terhadap masalah nyata yang dihadapi masyarakat.
Semakin dekat seorang ilmuwan dengan persoalan masyarakat, semakin besar peluangnya melahirkan solusi yang berdampak.
2. Dunia Sedang Bergerak ke Era Presisi dan Personalisasi
Menurut Prof. Arif, perkembangan teknologi saat ini sedang bergerak menuju era personalisasi.
Dalam pertanian, kebutuhan pupuk, air, dan karbon untuk setiap tanaman kini dapat dihitung secara spesifik. Dalam kesehatan, terapi mulai disesuaikan dengan karakter genetik masing-masing individu melalui pendekatan genomik.
Artinya, cara berpikir seragam dan pendekatan massal perlahan akan ditinggalkan.
Masa depan menuntut ketepatan, presisi, dan kemampuan memahami kebutuhan yang semakin spesifik.
3. Kejayaan Islam Dibangun oleh Keterbukaan Ilmu
Prof. Arif mengingatkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia melalui Baitul Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah.
Kemajuan itu tidak lahir dari sikap tertutup, melainkan dari keberanian menyerap pengetahuan dari berbagai peradaban, termasuk Yunani kuno.
Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah tersebut adalah pentingnya memiliki pikiran yang terbuka.
Keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan merupakan syarat utama lahirnya inovasi dan kemajuan.
4. Inovasi Membutuhkan Kesabaran dan Daya Tahan
Salah satu pesan yang paling kuat dalam pidato Prof. Arif adalah pentingnya endurance atau daya tahan.
Ia mencontohkan ilmuwan Jepang Susumu Kitagawa yang membutuhkan hampir 40 tahun untuk mengembangkan teknologi Material Organic Framework (MOF) yang kini menjadi salah satu terobosan penting dalam penyimpanan gas.
Banyak penemuan besar dunia lahir setelah puluhan tahun penelitian. Karena itu, budaya instan tidak akan pernah melahirkan inovasi kelas dunia.
Kesabaran, ketekunan, konsistensi, dan kerja keras adalah prasyarat utama bagi lahirnya temuan besar.
5. Ukuran Keilmuan Adalah Kemanfaatan
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, Prof. Arif menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang cendekiawan bukan terletak pada gelar atau jabatan.
Ukuran sesungguhnya adalah dampak yang dihasilkan bagi masyarakat. Semakin tinggi pendidikan dan posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab kemanfaatan yang harus diberikan.
Profesor, doktor, kepala daerah, menteri, hingga presiden harus mampu menghadirkan manfaat yang sebanding dengan amanah yang diemban.
6. ICMI Harus Menjadi Hub Kolaborasi
Menurut Prof. Arif, salah satu kekuatan terbesar ICMI adalah keberagamannya. Di dalam organisasi ini terdapat akademisi, birokrat, kepala daerah, politisi, pengusaha, aktivis sosial, dan tokoh masyarakat.
Jika seluruh elemen tersebut mampu berkolaborasi, maka ICMI dapat menjadi pusat lahirnya berbagai solusi pembangunan.
Ia membayangkan ICMI menjadi ruang dialog yang mempertemukan kebutuhan daerah dengan kemampuan riset para akademisi serta sumber daya yang dimiliki dunia usaha.
“ICMI harus menjadi hub inovasi,” tegasnya.
7. Tidak Ada Kemajuan Ekonomi Tanpa Inovasi
Prof. Arif menegaskan bahwa kemajuan ekonomi modern sangat bergantung pada kekuatan riset dan inovasi. Negara dengan tingkat inovasi tinggi hampir selalu memiliki pendapatan per kapita yang tinggi, universitas yang kuat, dan daya saing ekonomi yang lebih baik.
Sebaliknya, bangsa yang lemah dalam inovasi akan terus bergantung pada teknologi negara lain.
Karena itu, penguatan riset bukan sekadar agenda akademik, melainkan agenda pembangunan nasional.
8. Indonesia Harus Berani Melakukan Lompatan Teknologi
Dalam pidatonya, Prof. Arif beberapa kali menyinggung pentingnya melakukan lompatan teknologi atau technological leapfrogging. Menurutnya, Indonesia tidak memiliki cukup waktu jika harus mengejar negara maju melalui jalur yang sama secara bertahap.
Indonesia perlu belajar dari strategi yang pernah diperjuangkan oleh B.J. Habibie dan yang kini dilakukan Tiongkok, yakni mempercepat penguasaan teknologi melalui inovasi, reverse engineering, dan pengembangan kapasitas nasional.
Jika terus berjalan secara linear, Indonesia akan selalu tertinggal. Namun dengan lompatan teknologi, peluang untuk mengejar ketertinggalan tetap terbuka.
9. Masa Depan Tidak Ditunggu, Tetapi Diciptakan
Pesan terakhir sekaligus yang paling filosofis dari pidato Prof. Arif adalah bahwa masa depan bukan sesuatu yang ditunggu.
Masa depan adalah sesuatu yang harus diciptakan. Ia mengutip pemikiran Alan Kay yang terkenal: “The best way to predict the future is to create it.” Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.
Karena itu, kampus, lembaga riset, pemerintah daerah, dunia usaha, dan ICMI tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan global. Mereka harus menjadi pelaku utama yang menciptakan teknologi, inovasi, kebijakan, dan solusi bagi bangsa.
Menjadi Pencipta Masa Depan
Di balik seluruh gagasan yang disampaikan Prof. Arif Satria, terdapat satu benang merah yang sangat jelas: Indonesia membutuhkan lebih banyak pencipta masa depan.
Bukan sekadar pengamat, bukan sekadar komentator, melainkan orang-orang yang mampu mengubah ilmu menjadi solusi, mengubah riset menjadi inovasi, dan mengubah gagasan menjadi kemanfaatan.
Di hadapan keluarga besar ICMI Sulawesi Selatan, Prof. Arif tidak hanya berbicara tentang sains dan teknologi. Ia sedang mengingatkan kembali misi utama kaum cendekiawan: menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Dari sanalah masa depan Indonesia akan dibangun.









