Kepala BRIN Arif Satria Dengarkan Masukan Akademisi Sulsel, dari Hasrullah hingga Tasrif Surungan

  • Whatsapp
Prof Aris Munandar, Ketua Orwil ICMI Sulsel, bersama Kepala BRIN Prof Arif Satria, Plt Rektor UNM Prof Farida Patittingi dan Wakil Ketua ICMI Wakil Ketua Umum ICMI Bidang IPTEK, Agromaritim dan Lingkungan Hidup Prof M. Jafar Hafsah (dok: Pelakita.ID)

Dari transformasi Saudagar Bugis-Makassar, urgensi revolusi teknologi hingga pengembangan kendaraan energi listrik.

PELAKITA.ID – Dalam sesi diskusi antara Kepala BRIN Prof Arif Satria bersama sejumlah tokoh akademisi, praktisi, dan pemimpin daerah, berbagai gagasan strategis mengemuka terkait masa depan pembangunan industri dan teknologi di Sulawesi Selatan mencuat sejumlah isu dan reminder konstruktif untuk masa depan.

Sejumlah pandangan disampaikan antara lain oleh Prof. Tasrif Surungan dari Universitas Hasanuddin, perwakilan Pengurus Yayasan Wakaf (YW) UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA, hingga Pakar Komunikasi Unhas Dr. Hasrullah sebagaimana direkam oleh Pelakita.ID, Ahad, 7 Juni 2026.

Guru Besar Fisika MIPA Unhas, Prof. Tasrif Surungan menyoroti pentingnya transformasi peran Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Sulawesi Selatan dalam menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, selama ini istilah “saudagar Bugis-Makassar” lebih identik dengan aktivitas perdagangan.

Ke depan, paradigma tersebut perlu ditingkatkan menjadi “industriwan Bugis-Makassar” yang mampu menciptakan nilai tambah melalui inovasi dan penguasaan teknologi.

“Yang perlu kita transformasikan adalah bagaimana wawasan saudagar berkembang menjadi wawasan industriwan. Industri yang kita bangun harus berorientasi pada keberlanjutan atau green industry. Untuk itu dibutuhkan lompatan pemikiran, pembangunan karakter, sekaligus penguatan kapasitas sumber daya manusianya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ICMI memiliki posisi strategis untuk mendorong lahirnya generasi baru industriwan Bugis-Makassar yang tidak hanya mengandalkan kemampuan berdagang, tetapi juga didukung oleh inovasi, invensi, dan penguasaan teknologi.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Wakaf UMI, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf (YW) UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA membagikan pengalaman menarik hasil kunjungan ke Bandung.

Dalam kunjungan tersebut, ujar Prof Masrurah, rombongan bertemu dengan seorang alumni Fakultas Teknik yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa pada dekade 1980-an.

“Alumni tersebut kini berhasil mengembangkan kendaraan listrik hasil riset yang telah digelutinya selama lebih dari satu dekade,” ungkapnya.

Menurutnya, inspirasi penelitian tersebut berawal dari pengamatannya terhadap kendaraan angkutan kota yang dahulu populer di Makassar.

Pengalaman itu mendorongnya untuk mencari solusi transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Hasilnya, ia berhasil menciptakan kendaraan listrik yang kini telah memperoleh sertifikasi operasional dan memasuki tahap produksi.

Yayasan Wakaf UMI bahkan telah memesan satu unit ambulans listrik dan satu unit bus listrik yang direncanakan akan diperkenalkan pada perayaan Milad UMI tanggal 21 Juni mendatang.

Meski begitu, sebut Masrurah, tingginya permintaan dari berbagai daerah seperti Jakarta dan Yogyakarta menunjukkan bahwa pengembangan industri kendaraan listrik nasional masih membutuhkan dukungan permodalan dan kolaborasi lintas lembaga.

“Kami melihat potensi yang sangat besar. Karena itu diperlukan sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga-lembaga yang memiliki komitmen terhadap pengembangan teknologi nasional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, pakar komunikasi Unhas, Dr. Hasrullah mengangkat isu yang lebih luas terkait posisi Indonesia dalam perkembangan teknologi global.

Sebagai akademisi komunikasi, ia mengaku banyak mempelajari pemikiran para futuris dan pengamat teknologi dunia.

“Salah satu kesimpulan yang sering muncul adalah bahwa Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pasar atau konsumen teknologi dibandingkan sebagai pencipta teknologi,” sebutnya.

Ia mengingatkan bahwa berbagai teori perkembangan peradaban, mulai dari konsep “gelombang perubahan” Alvin Toffler hingga berbagai kajian tentang revolusi teknologi, menunjukkan bahwa negara yang mampu menguasai inovasi akan menjadi pemain utama dalam ekonomi global.

“Indonesia membutuhkan lompatan besar. Kita tidak boleh terus-menerus menjadi konsumen teknologi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat bertransformasi menjadi produsen teknologi yang mampu bersaing secara global,” katanya.

Sebagai contoh, ia menyinggung perkembangan industri otomotif Tiongkok.

Jika beberapa dekade lalu kendaraan buatan Tiongkok belum mendapat tempat di pasar internasional, kini negara tersebut justru menjadi salah satu pemimpin dunia dalam industri kendaraan listrik dan teknologi manufaktur maju.

Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi Indonesia.

“Dengan sumber daya manusia yang besar dan potensi inovasi yang melimpah, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk melakukan lompatan serupa apabila mampu membangun ekosistem riset, inovasi, investasi, dan industrialisasi secara terintegrasi,” jelasnya.

Diskusi tersebut akhirnya bermuara pada satu kesimpulan bersama: masa depan Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh semangat kewirausahaan tradisional, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan teknologi, mengembangkan industri berbasis inovasi, serta membangun kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Prof Arif Satria, Kepala BRIN mengapresiasi masukan para akademisi, pakar dan peneliti, bahkan berharap bisa dipertemukan dengan sosok yang disebut telah berkontribusi dalam pengembangan kendaraan listrik tersebut.

Redaksi