PELAKITA.ID — Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari didaulat oleh Ketua CIDES ICMI, Adi Suryadi Culla untuk memberikan masukan kepada Kepala BRIN Prof Arif Satria di tengah dialog yang digelar di Rujab Rektor UNM Makassar, Ahad, 7 Juni 2026.
Mengenakan busana khas Bugis bernuansa kuning, Andi Ina menyampaikan betapa pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan komunitas cendekiawan dalam mendorong pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Pernyataan Andi Ina tersebut disampaikan langsung ke Kepala BRIN Arif Satria, yang membahas masa depan riset dan inovasi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat Silakwil ICMI Sulsel dan pelantikan pengurus CIDES ICMI Sulawesi Selatan.
Dalam kesempatan itu, Andi Ina mengakui bahwa banyak kepala daerah saat ini menghadapi tantangan fiskal yang tidak ringan.
“Sejak dilantik pada Februari lalu, pemerintah daerah harus beradaptasi dengan berbagai kebijakan pengelolaan anggaran yang berdampak pada ruang fiskal daerah,” sebut Andi Ina.
Meski demikian, Andi Ina mengungkapkan, daerah tetap memiliki peluang besar untuk berkembang apabila mampu mengelola potensi yang dimiliki secara lebih efektif dan berbasis data.
Dia menggambarkan Kabupaten Barru yang punya beragam potensi sumber daya mulai dari pertanian, perikanan, kelautan, perkebunan. “Barru punya panjang pantai 78 kilometer,” ungkap Andi Ina.
“Barru sebenarnya merupakan daerah yang kaya. Kami memiliki sumber daya kelautan dan perikanan, wilayah pesisir yang panjang, kawasan pegunungan, serta daratan yang menyimpan banyak potensi ekonomi,” ujarnya.
Andi Ina menjelaskan bahwa Kabupaten Barru memiliki garis pantai sepanjang sekitar 78 kilometer yang menjadi modal penting bagi pengembangan sektor perikanan, kelautan, pariwisata pesisir, hingga ekonomi biru yang kini menjadi perhatian berbagai negara.
Selain wilayah pesisir, Barru juga memiliki kawasan pegunungan dan lahan daratan yang dapat dikembangkan untuk sektor pertanian, perkebunan, serta berbagai kegiatan ekonomi produktif lainnya.
Meski demikian, potensi besar tersebut tidak akan memberikan manfaat optimal tanpa dukungan riset yang memadai.
Dikatakan Ina, pemerintah daerah membutuhkan dukungan akademisi dan lembaga penelitian untuk mengidentifikasi potensi unggulan, menyusun strategi pengembangan, hingga menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
“Untuk mengelola potensi-potensi itu dengan baik, kami membutuhkan riset. Karena itu kami sangat terbuka terhadap kerja sama dengan perguruan tinggi, peneliti, maupun ICMI,” kata alumni Fakultas Hukum Unhas itu.
Andi Ina bahkan menyatakan bahwa Kabupaten Barru siap menjadi laboratorium pembangunan bagi berbagai penelitian yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan membuka ruang seluas-luasnya bagi para peneliti yang ingin melakukan kajian, pengembangan teknologi, maupun inovasi sosial di wilayahnya.
“Barru terbuka untuk siapa saja yang ingin melakukan riset. Apa pun yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah, tentu kami akan mendukung,” ujarnya.
Bagi Andi Ina, hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai laporan akademik atau publikasi ilmiah semata. Riset harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan.
Pandangan tersebut mendapat respons positif dari Prof. Arif Satria yang menekankan bahwa pertumbuhan Indonesia pada masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal.
Menurut Arif, paradigma riset saat ini telah bergeser. Jika sebelumnya banyak penelitian berakhir di ruang-ruang akademik, kini yang dibutuhkan adalah “riset berdampak”, yakni penelitian yang mampu meningkatkan produktivitas, menghasilkan teknologi baru, menciptakan lapangan kerja, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
Ia menilai daerah merupakan ruang strategis untuk menghadirkan inovasi tersebut karena sebagian besar potensi ekonomi Indonesia berada di tingkat lokal.
Karena itu, diperlukan jembatan yang lebih kuat antara universitas, lembaga riset, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai konsep, melainkan berkembang menjadi solusi nyata bagi pembangunan.
Bagi Kabupaten Barru, kolaborasi tersebut membuka peluang besar untuk mengakselerasi pengembangan sektor-sektor unggulan yang selama ini menjadi kekuatan daerah. Dengan dukungan riset yang tepat, potensi kelautan, perikanan, pertanian, hingga pariwisata dapat diolah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pesan yang ingin disampaikan Andi Ina cukup sederhana namun penting: daerah tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemitraan yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.









