Jejak Kopal Tanah Luwu, Warisan Penyadap Getah di Antara Danau Towuti dan Mahalona

  • Whatsapp
Momen sederhana itu diabadikan dalam sebuah foto yang diperkirakan diambil antara tahun 1900 hingga 1940, dan kini menjadi bagian dari koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW) di Belanda.

PELAKITA.ID – LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN – Di tengah lebatnya hutan tropis yang membentang di kawasan antara Danau Towuti dan Danau Mahalona, seorang pria tampak tekun menyadap getah kopal dari batang pohon.

Momen sederhana itu diabadikan dalam sebuah foto yang diperkirakan diambil antara tahun 1900 hingga 1940, dan kini menjadi bagian dari koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW) di Belanda.

Foto tersebut bukan sekadar dokumentasi aktivitas sehari-hari masyarakat pedalaman Sulawesi Selatan. Ia menjadi saksi sejarah tentang bagaimana hasil hutan non-kayu pernah memainkan peran penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Luwu jauh sebelum industri pertambangan, perkebunan modern, maupun pembangunan infrastruktur berkembang di kawasan tersebut.

Kopal merupakan getah alami yang dihasilkan berbagai jenis pohon dari famili Dipterocarpaceae, terutama damar (Agathis) dan sejumlah spesies lainnya yang tumbuh di hutan hujan tropis.

Setelah mengeras, getah ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan sejak lama diperdagangkan sebagai bahan baku vernis, cat, perekat, tinta cetak, hingga berbagai kebutuhan industri di Eropa dan Asia.

Pada masa Hindia Belanda, kopal menjadi salah satu komoditas ekspor hasil hutan yang cukup penting. Bersama damar, rotan, gaharu, dan berbagai hasil hutan lainnya, kopal dikumpulkan dari kawasan pedalaman Sulawesi untuk kemudian dipasarkan melalui pelabuhan-pelabuhan di pesisir.

Jalur perdagangan ini memperlihatkan bahwa masyarakat lokal telah lama terhubung dengan jaringan ekonomi regional maupun global melalui pemanfaatan sumber daya hutan.

Kawasan antara Danau Towuti dan Danau Mahalona sendiri merupakan bagian dari bentang alam yang kini dikenal memiliki kekayaan hayati luar biasa. Selain menjadi habitat berbagai spesies endemik, wilayah ini sejak dahulu dihuni oleh komunitas-komunitas lokal yang menggantungkan hidup pada hasil hutan, perikanan air tawar, serta pertanian tradisional.

Aktivitas menyadap kopal menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hutan yang relatif lestari karena tidak mengharuskan penebangan pohon, melainkan hanya mengambil getah yang keluar dari sayatan pada batang.

Foto bersejarah ini juga memperlihatkan ketangguhan para pekerja hutan pada masa itu. Dengan peralatan sederhana dan mengandalkan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun, mereka menembus hutan untuk mengumpulkan getah yang kemudian menjadi sumber penghidupan keluarga.

Pengetahuan mengenai jenis pohon, waktu penyadapan, hingga cara menjaga agar pohon tetap produktif merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkembang selama bergenerasi.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, bentang alam Towuti–Mahalona dikenal luas sebagai salah satu kawasan strategis di Kabupaten Luwu Timur. Di satu sisi, kawasan ini menjadi pusat aktivitas industri pertambangan nikel berskala dunia. Di sisi lain, kawasan tersebut tetap menyimpan jejak panjang sejarah hubungan manusia dengan hutan, sebagaimana tergambar dalam foto penyadap kopal tersebut.

Bagi para sejarawan, antropolog, dan pemerhati lingkungan, dokumentasi seperti ini memiliki nilai yang sangat penting.

Foto tersebut membantu merekonstruksi sejarah ekonomi lokal, memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara tradisional, sekaligus mengingatkan bahwa sebelum hadirnya ekonomi ekstraktif modern, hutan telah menjadi ruang hidup, sumber pengetahuan, dan penopang kesejahteraan masyarakat.

Lebih dari sekadar potret seorang penyadap getah, arsip visual ini merupakan pengingat bahwa sejarah Luwu tidak hanya dibangun oleh kisah kerajaan dan perdagangan, tetapi juga oleh kerja keras masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan. Di balik setiap tetes getah kopal yang dipanen, tersimpan cerita tentang ketekunan, pengetahuan lokal, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam yang menjadi bagian penting dari warisan sejarah Sulawesi Selatan.