Rusman Madjulekka | Muhammad Ruslin, Senyum Anak Kolong

  • Whatsapp
Prof Muhammad Ruslin (dok: istimewa)

PELAKITA.ID – ADA yang beda. Tak hanya di arena Piala Dunia sepakbola 2026 yang tengah berlangsung di belahan benua Amerika. Namun juga dibalik panggung pelantikan para Wakil Rektor (Warek) Universitas Hasanuddin 2026-2030 Selasa 7 Juli 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan. Terutama bagi Prof.Muhammad Ruslin.

Bagi Prof Ruslin-begitu ia akrab disapa-pelantikan dirinya untuk periode kedua sebagai Warek bidang akademik dan kemahasiswaan Unhas terasa spesial karena amanah itu sekaligus menjadi “kado ultah” bagi pria kelahiran Pangkajene Sidrap, 2 Juli 1973 ini.

Begitu juga di balik keputusan pelantikan para Warek tersebut. Ibarat pertandingan sepakbola ada strategi, mempertahankan skuad, pergantian pemain, dan sebagainya.

Bedanya, lawan Prof Ruslin kali ini bukan Belanda, Maroko, atau Tanjung Verde. Melainkan jam biologisnya sendiri. Usia boleh “senior”, tetapi rasa ingin tahu masih “junior”.

Saya hanya menduga. Sebagai alumni Unhas yang mengamati dari kejauhan. Sama dengan dugaan saya jauh hari sebelumnya bahwa Prof Ruslin, salahsatu Warek yang masih tetap akan dipertahankan dalam kompoisi kabinet baru jilid dua dibawah kepemimpinan Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa.

Beberapa guru besar tertua di Indonesia timur itu yang saya hubungi ketika itu juga membenarkan. Dugaan saya bukan tanpa argumen kuat.

Apalagi setelah melihat rekam jejak dan menengok deretan prestasi akademik yang ditorehkan Unhas beberapa tahun terakhir dengan polesan tangan dingin Ruslin.

Kalau pun ternyata keliru, jangan dihiraukan dan lewatkan saja. Dugaan kadang lebih menarik daripada kepastian. Seperti sepak bola, prediksi bisa meleset.

Bola saja bundar, apalagi pikiran manusia. Tapi satu hal pasti. Dalam setiap perjalanan Prof Ruslin ada cerita seperti dibalik secangkir kopi dan coklat premium celebes yang kerap disuguhkannya kepada saya, dan tamunya yang lain.

Amanah yang diemban Ruslin menjadikannya salah satu sosok yang menentukan arah kebijakan akademik, kualitas pembelajaran, hingga pembinaan puluhan ribu mahasiswa Unhas.

Bukan hanya mengurus administrasi kampus, juga memastikan bahwa Unhas terus melahirkan lulusan yang unggul, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat global.

Ruslin memberi pelajaran bahwa institusi pendidikan tinggi formal bukan batas dari kemampuan seseorang.Tapi sejauhmana kemampuan menerjemahkan ilmu yang melahirkan inovasi.

Pada sisi lain, sebagai dokter bedah mulut dan maksilofasial ia bekerja pada bagian tubuh yang sangat dekat dengan identitas manusia: wajah.

Wajah adalah bahasa pertama sebelum kata-kata lahir. Senyum adalah kalimat paling universal yang dipahami semua orang.

“Saya mengalir saja. Sepanjang itu kebaikan dan memberi manfaat saya tak berhenti melakoninya,” ujarnya merendah.

Semangatnya yang pantang surut dan sikapnya yang disiplin, dua hal yang menonjol dari Ruslin. Hal itu mungkin tak lepas dari cita-citanya yang dulu ingin menjadi tentara seperti ayahnya yang prajurit TNI.

Namun sejarah menuliskan takdir berbeda yang membawanya memilih jalan lain. Jalan ‘anak kolong’ dari pedalaman Sulawesi Selatan yang mungkin tidak menggunakan seragam militer, tetapi tetap menuntut disiplin, keberanian, dedikasi serta ketelitian.

Ketelitiannya sebagai dokter gigi itulah yang ia terapkan di ruang medis dan prakteknya. Kualitasnya ia jaga sungguh-sungguh seperti menjaga giginya orang kaya. Pun orang miskin dan penderita bibir sumbing tetap bisa tersenyum dengan pengobatan gratis melalui yayasan Celebes Cleft Center (CCC) yang dirintisnya bersama koleganya.

“Dokter gigi itu selain matanya awas,insting dan empatinya harus tajam,” katanya.

Ruslin memberi pelajaran bahwa institusi pendidikan tinggi formal bukan batas dari kemampuan seseorang.Tapi sejauhmana kemampuan menerjemahkan ilmu yang melahirkan inovasi.

“Kadang inovasi terbesar bukan menemukan teknologi baru. Tetapi menemukan cara baru menggunakan ilmu lama,” ujarnya.

Di Unhas Ruslin tak hanya menjaga senyum manusia. Ia ikut menjaga atmosfer akademik agar pengguna lulusannya di dunia kerja bisa tersenyum.

Akhirnya, saya mengucapkan dua selamat sekaligus kepadanya: selamat bertugas dan ulang tahun ke-53. * (Rusman Madjulekka).