CIDES ICMI Sulsel Resmi Dilantik, Prof. Aris Munandar: Saatnya Cendekiawan Turun dari Menara Gading

  • Whatsapp
Prof Aris Munandar, Ketua Orwil ICMI Sulsel, bersama Kepala BRIN Prof Arif Satria, Plt Rektor UNM Prof Farida Patittingi dan Wakil Ketua ICMI Wakil Ketua Umum ICMI Bidang IPTEK, Agromaritim dan Lingkungan Hidup Prof M. Jafar Hafsah (dok: Pelakita.ID)

Dari Menara Gading ke Arena Publik: CIDES ICMI Sulsel Disiapkan Menjadi Dapur Gagasan Perubahan

PELAKITA.ID – MAKASSAR — Di tengah derasnya arus perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi, para cendekiawan dituntut tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga hadir sebagai pemberi solusi.

Semangat itulah yang menjadi pesan utama dalam pelantikan pengurus Center for Information and Development Studies (CIDES) ICMI Sulawesi Selatan, yang dirangkaikan dengan Silaturahmi Nasional Wilayah (Silakwil) ICMI Sulsel di Universitas Negeri Makassar.

Ketua Orwil ICMI Sulawesi Selatan, Prof. Aris Munandar, menegaskan bahwa pembentukan CIDES bukan sekadar menambah struktur organisasi baru di lingkungan ICMI.

Read More

Kehadiran lembaga tersebut merupakan jawaban atas kebutuhan zaman yang semakin kompleks dan membutuhkan ruang berpikir strategis yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.

“Melalui CIDES, kita ingin keluar dari menara gading. Kita ingin menghadirkan pemikiran yang relevan dan solutif terhadap berbagai persoalan bangsa dan daerah,” ujarnya di hadapan para akademisi, guru besar, pimpinan perguruan tinggi, serta pengurus ICMI yang hadir.

Menurut Prof. Aris, selama ini ICMI telah memiliki jaringan intelektual yang sangat besar. Organisasi tersebut dihuni oleh akademisi, ilmuwan, profesional, dan berbagai tokoh yang memiliki kapasitas keilmuan tinggi. Namun potensi tersebut perlu diorganisasikan agar mampu memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Di tengah tuntutan dunia akademik yang semakin berat, mulai dari publikasi ilmiah hingga berbagai kewajiban administratif, ruang para akademisi untuk terlibat langsung dalam diskursus publik kerap semakin menyempit. Akibatnya, banyak persoalan strategis di masyarakat yang kehilangan sentuhan pemikiran dari kalangan intelektual.

Karena itu, CIDES diharapkan menjadi wadah yang mampu mengonsolidasikan gagasan-gagasan terbaik dari para cendekiawan Muslim untuk menjawab berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari isu politik, ekonomi, pendidikan, pembangunan daerah, hingga dinamika sosial kemasyarakatan.

“CIDES harus menjadi ruang berkumpulnya para pemikir untuk membaca zaman, merumuskan solusi, dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat,” katanya.

Menyongsong Indonesia Emas 2045

Pelantikan CIDES Sulawesi Selatan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi ICMI dalam agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Momentum tersebut semakin penting dengan kehadiran Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Arif Satria, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran Arif Satria dipandang membawa spirit baru dalam penguatan riset, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan bangsa.

Bagi ICMI Sulawesi Selatan, tantangan masa depan tidak cukup dijawab dengan kritik semata. Dibutuhkan gagasan, rekomendasi kebijakan, dan solusi yang lahir dari riset yang kuat serta pemahaman yang mendalam terhadap realitas masyarakat.

Dalam konteks itulah CIDES ditempatkan sebagai “dapur pemikiran” yang akan menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan pembangunan daerah dan nasional.

Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Selain memperkuat peran intelektual melalui CIDES, ICMI Sulawesi Selatan juga terus memperluas kiprahnya di bidang pendidikan.

Prof. Aris mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan pendirian Sekolah Dasar Insan Cendekia Persahabatan di Kabupaten Gowa. Sekolah tersebut diharapkan menjadi model pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Inisiatif tersebut diprakarsai oleh Prof. Dr. Salam Nurhikmah bersama sejumlah tokoh pendidikan lainnya sebagai bagian dari komitmen ICMI dalam membangun generasi masa depan yang unggul dan berintegritas.

Tak hanya itu, ICMI Sulawesi Selatan juga sedang mempersiapkan pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis asrama di Parepare. Lahan untuk pembangunan telah tersedia dan proses persiapan kelembagaan terus dilakukan.

Program tersebut menjadi bukti bahwa ICMI tidak hanya berbicara tentang gagasan besar, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi konkret di bidang pendidikan.

Menurut Prof. Aris, pembangunan sumber daya manusia tidak boleh hanya menyasar kelompok yang telah memiliki akses dan kesempatan luas. Justru kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan lebih besar harus menjadi perhatian utama.

Di sinilah pendidikan dipandang sebagai instrumen paling efektif untuk memperluas kesempatan dan memperkuat mobilitas sosial masyarakat.

Mengembalikan Peran Cendekiawan

Pelantikan CIDES Sulawesi Selatan sesungguhnya membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar pergantian atau pengukuhan kepengurusan organisasi. Ia menjadi simbol keinginan kuat untuk mengembalikan peran cendekiawan ke ruang publik.

Di tengah berbagai tantangan bangsa yang semakin kompleks, keberadaan para intelektual tidak cukup hanya menghasilkan karya ilmiah yang tersimpan di perpustakaan atau jurnal akademik. Pemikiran tersebut harus mampu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Melalui CIDES, ICMI Sulawesi Selatan ingin memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah dan seminar, tetapi hadir dalam kebijakan, pembangunan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Bagi ICMI Sulsel, ukuran keberhasilan seorang cendekiawan bukan hanya pada banyaknya karya yang dipublikasikan, melainkan sejauh mana gagasannya mampu mengubah kehidupan orang banyak menjadi lebih baik.

Penulis K. Azis

Related posts