- Politik masih didominasi oleh figur. Organisasi sering dibangun berdasarkan loyalitas kepada tokoh, bukan kepada nilai, aturan, atau visi bersama. Akibatnya, setiap pergantian pemimpin kerap diikuti perubahan arah yang drastis.
- Peter Senge menawarkan perlunya organisasi yang bisa sebagai learning organization. Pengetahuan tidak disimpan oleh individu, tetapi dibagikan kepada seluruh anggota.
PELAKITA.ID – Selama hampir tiga jam, saya duduk membaca WAG favorit. Sesekali memaknai setiap diksi yang muncul, juga keriuhan ucapan selamat dan lampu sorot pada satu partai yang sejatinya besar tapi nampak ‘telah dikerdilkan’ oleh pemuncaknya.
Ya, memang setiap bangsa membutuhkan sosok yang menginspirasi, pemimpin besar, pimpinan partai (nyaris) berkuasa hingga sosok pembaharu nan mencerahkan, sebab tokoh besar dianggap mampu menyalakan harapan, menggerakkan perubahan, dan menjadi simbol perjuangan.
Tapi pernahkah kita berpikir berbeda?
Bahwa ketika kekaguman kepada individu berubah menjadi ketergantungan pada figur, institusi kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan menjadi kuat. Partai yang disebut besar, atau organisasi yang disebut megah dan mulia itu sesungguhnya rapuh secara substansial.
Apa pasal? Ya tentu saja sebab kita hidup di zaman yang gemar menciptakan pahlawan dan defisit dalam menciptakan sistem hidup yang adil dan bertenggang rasa.
Sampai di sini, saya tak lagi mengulang partai, tapi organisasi. Organisasi mana saja.
Atau jelasnya begini: dalam politik, masyarakat mencari pemimpin penyelamat. Dalam bisnis, keberhasilan perusahaan sering dilekatkan pada pendirinya.
Dalam olahraga, kemenangan dianggap lahir dari seorang bintang, bukan hasil kerja kolektif sebuah tim.
Cara pandang seperti ini sebenarnya sangat manusiawi.
Psikolog Daniel Kahneman menjelaskan bahwa otak manusia lebih mudah memahami kisah tentang seseorang daripada proses yang rumit. Sosok memiliki wajah, karakter, dan cerita.
Sebaliknya, sistem bekerja dalam senyap sehingga sering kali luput dari perhatian.
Media massa dan media sosial semakin memperkuat kecenderungan tersebut. Algoritma lebih menyukai tokoh daripada tata kelola.
Bahwa foto seorang pemimpin jauh lebih mudah menjadi viral dibandingkan cerita mengenai reformasi birokrasi atau pembenahan organisasi yang dilakukannya sebagaimana menjadi hakikat pendirian organisasinya.
Padahal, hampir semua keberhasilan besar lahir dari sistem yang bekerja dengan baik.
Organisasi yang sehat memiliki aturan yang jelas, pembagian peran yang tegas, mekanisme evaluasi, budaya belajar, dan proses regenerasi yang berjalan tanpa bergantung kepada satu orang.
Sosiolog Max Weber sejak awal abad ke-20 telah mengingatkan bahwa organisasi modern hanya dapat bertahan melalui institusi yang rasional.
Ini berlaku untuk organisasi mana saja termasuk partai eh, maksud saya, perusahaan, LSM hingga perguruan silat sekalipun.
Bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh kharisma semata, melainkan oleh aturan yang mampu menjaga konsistensi, profesionalisme, dan akuntabilitas.
Sayangnya, sistem yang baik jarang mendapatkan tepuk tangan. Ketika pelayanan publik berjalan lancar, masyarakat menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Sebaliknya, ketika terjadi kegagalan, semua orang baru menyadari betapa pentingnya sebuah sistem.
Kondisi ini melahirkan budaya yang sering disebut hero dependency.
Organisasi menjadi terlalu bergantung pada satu tokoh. Seluruh keputusan terpusat pada pemimpin. Pengetahuan tidak terdokumentasi. Regenerasi terhambat. Ketika sang tokoh pergi, organisasi kehilangan arah.
Fenomena seperti ini dapat ditemukan di berbagai tempat. Banyak perusahaan melemah setelah pendirinya pensiun.
Tidak sedikit organisasi masyarakat berhenti bergerak ketika ketuanya wafat. Bahkan lembaga pemerintahan sering kehilangan ritme setelah pergantian pimpinan.
Sebaliknya, organisasi terbaik di dunia justru dibangun agar mampu bekerja tanpa bergantung kepada satu figur. Toyota adalah contoh yang sering dikutip.
Keunggulannya tidak berasal dari satu direktur legendaris, melainkan dari Toyota Production System yang mengajarkan perbaikan berkelanjutan, disiplin, dan pembelajaran kolektif.
Singapura juga menunjukkan pelajaran serupa. Lee Kuan Yew memang memainkan peran penting dalam fondasi pembangunan negaranya.
Keberhasilan Singapura bertahan hingga kini lebih banyak ditopang oleh birokrasi profesional, sistem merit, serta budaya pemerintahan yang konsisten melampaui pergantian pemimpin.
Publik dunia mengenal Selandia Baru, yang menjadi contoh lain. Negara tersebut berkali-kali berganti pemerintahan, tetapi kualitas pelayanan publik tetap berada di antara yang terbaik di dunia.
Rahasianya bukan pada siapa yang berkuasa, melainkan pada institusi yang transparan, akuntabel, dan dipercaya masyarakat.
Pakar manajemen W. Edwards Deming bahkan pernah mengatakan bahwa sistem yang buruk akan mengalahkan orang baik setiap saat.
Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Individu terbaik sekalipun akan kesulitan menghasilkan kinerja maksimal apabila bekerja dalam sistem yang kacau.
Sebaliknya, sistem yang baik mampu membantu orang biasa menghasilkan pekerjaan yang luar biasa.
Standar kerja yang jelas, budaya kolaborasi, mekanisme pengawasan, dan ruang belajar membuat organisasi tidak bergantung pada bakat segelintir orang.
Peter Senge menyebut organisasi seperti ini sebagai learning organization. Pengetahuan tidak disimpan oleh individu, tetapi dibagikan kepada seluruh anggota.
Kesalahan dijadikan pelajaran, bukan sekadar alasan untuk saling menyalahkan. Inilah fondasi organisasi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Persoalan ini terasa semakin relevan di banyak negara berkembang.
Politik masih didominasi oleh figur. Organisasi sering dibangun berdasarkan loyalitas kepada tokoh, bukan kepada nilai, aturan, atau visi bersama. Akibatnya, setiap pergantian pemimpin kerap diikuti perubahan arah yang drastis.
Samuel Huntington mengingatkan bahwa stabilitas negara lebih bergantung pada kekuatan institusi daripada kharisma seorang pemimpin.
Negara yang maju bukanlah negara yang selalu melahirkan pahlawan, melainkan negara yang berhasil membangun organisasi yang mampu bekerja secara konsisten.
Tentu saja, artikel ini bukan ajakan untuk mengurangi penghormatan kepada para pemimpin.
Bangsa tetap membutuhkan tokoh yang visioner, jujur, dan berani mengambil keputusan sulit. Kepemimpinan yang kuat tetap menjadi bagian penting dalam proses perubahan.
Pemimpin terbaik bukanlah mereka yang membuat organisasi bergantung pada dirinya.
Pemimpin terbaik adalah mereka yang membangun sistem sehingga organisasi tetap berjalan baik bahkan ketika dirinya sudah tidak lagi memimpin.
Jim Collins dalam Good to Great menyebut bahwa organisasi unggul tidak dibangun oleh ego pemimpin, melainkan oleh disiplin, budaya, dan institusi yang membuat keberhasilan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sudah saatnya kita mengubah cara memberi penghargaan.
Kita tetap menghormati tokoh yang berjasa, tetapi juga mulai memberikan apresiasi yang sama besar kepada organisasi yang bekerja dengan baik, birokrasi yang profesional, serta sistem yang mampu menghadirkan keadilan dan pelayanan secara konsisten.
Begitulah, pahlawan memang dapat memulai perubahan. Namun, hanya institusi yang kuat dan sistem yang sehat yang mampu memastikan perubahan itu bertahan lama.
Bangsa yang ingin maju tidak cukup melahirkan pemimpin hebat. Bangsa tersebut harus membangun organisasi yang tetap hebat, siapa pun yang memimpinnya.
Tulisan ini selesai saat istri datang menjemput.
___
Warkop Enreco, 17 Juli 2026









