Sulsel dari Masa ke Masa, Laboratorium Politik Terpenting Partai Golkar

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID oleh AI

Di provinsi ini, Golkar tidak hanya membangun kekuatan elektoral, tetapi juga menguji ketahanan organisasi, merawat tradisi kaderisasi, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

PELAKITA.ID – Jika ada satu provinsi yang paling tepat disebut sebagai laboratorium politik Partai Golkar, maka Sulawesi Selatan hampir selalu berada di urutan teratas.

Sejak kelahirannya sebagai Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 1964 hingga memasuki era demokrasi multipartai saat ini, Sulawesi Selatan bukan hanya menjadi lumbung suara, tetapi juga ruang tempat Golkar menguji strategi, membangun kader, dan melahirkan tokoh-tokoh yang kemudian memainkan peran penting di tingkat nasional.

Hubungan antara Golkar dan Sulawesi Selatan bukan sekadar hubungan organisasi dengan daerah. Lebih dari itu, Sulsel telah menjadi bagian dari identitas politik Golkar sendiri.

Tidak lama setelah Sekber Golkar dibentuk pada 20 Oktober 1964, jaringan organisasi karya mulai berkembang di Sulawesi Selatan melalui organisasi-organisasi seperti KOSGORO, SOKSI, MKGR, serta berbagai organisasi profesi dan kelompok fungsional.

Sebagai provinsi yang memiliki tradisi organisasi dan kepemimpinan yang kuat, Sulawesi Selatan menjadi salah satu daerah dengan perkembangan Golkar paling pesat di kawasan Indonesia Timur.

Ketika Pemilu pertama Orde Baru digelar pada 1971, Sulawesi Selatan langsung tampil sebagai salah satu penyumbang suara terbesar bagi Golkar.

Momentum tersebut menjadi fondasi panjang dominasi Golkar di daerah ini.

Tiga Dekade Menjadi Benteng Golkar

Sepanjang era Orde Baru, Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu basis politik paling solid bagi Golkar.

Selama hampir tiga dekade, partai berlambang pohon beringin itu mendominasi hampir seluruh pemilihan legislatif maupun pemerintahan daerah.

Sebagian besar kepala daerah berasal dari Golkar, sementara jaringan organisasi partai menjangkau hingga tingkat desa.

Keberhasilan tersebut tidak hanya didukung oleh kekuatan birokrasi pada masa itu, tetapi juga oleh budaya organisasi yang relatif kuat serta kemampuan Golkar membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari petani, nelayan, pengusaha, akademisi hingga organisasi kepemudaan.

Tidak berlebihan jika banyak pengamat menyebut Sulawesi Selatan sebagai “miniatur Golkar Indonesia”.

Reformasi 1998 menjadi titik balik politik nasional. Banyak partai yang sebelumnya dominan kehilangan basis dukungan, termasuk Golkar yang identik dengan pemerintahan Orde Baru.

Namun situasinya berbeda di Sulawesi Selatan.

Meski menghadapi tekanan politik pasca-Reformasi, Golkar tetap mampu mempertahankan struktur organisasinya hingga tingkat desa.

Dalam Pemilu 1999, ketika Golkar secara nasional berada di posisi kedua, Sulawesi Selatan tetap menjadi salah satu kantong suara terkuat partai tersebut.

Kemampuan bertahan ini menjadi salah satu alasan mengapa DPP Golkar selalu memberi perhatian khusus terhadap dinamika politik di Sulawesi Selatan.

Melahirkan Tokoh Nasional

Salah satu keunikan Golkar Sulsel adalah kemampuannya melahirkan pemimpin yang tidak hanya berpengaruh di tingkat daerah, tetapi juga nasional.

Nama Jusuf Kalla menjadi contoh paling menonjol. Selain pernah menjabat Ketua Umum Partai Golkar, ia juga dua kali dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Kehadirannya memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu episentrum kepemimpinan Golkar.

Di tingkat organisasi, Nurdin Halid menjadi figur yang sangat identik dengan konsolidasi Golkar Sulsel pada era Reformasi.

Di bawah kepemimpinannya, partai berhasil mempertahankan dominasinya dalam berbagai pemilu legislatif dan melahirkan banyak kepala daerah dari kader internal.

Sulawesi Selatan juga dikenal memiliki tradisi kaderisasi yang kuat. Banyak tokohnya kemudian mengisi posisi strategis di Dewan Pimpinan Pusat (DPP), DPR RI, kementerian, hingga pemerintahan daerah.

Arena Pertarungan Elite

Jika di banyak provinsi Musyawarah Daerah (Musda) berlangsung relatif biasa, di Sulawesi Selatan Musda Golkar hampir selalu menjadi perhatian nasional.

Hal ini terjadi karena DPD II kabupaten dan kota memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan arah kepemimpinan DPD I. Setiap kontestasi tidak hanya berbicara mengenai pergantian ketua, tetapi juga menjadi cerminan dinamika politik nasional Golkar.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah nama seperti Erwin Aksa, Nurdin Halid, Taufan Pawe, Munafri Arifuddin, Rahman Pina, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Andi Ina Kartika Sari hingga tokoh-tokoh kepala daerah seperti Andi Kaswadi Razak dan Indah Putri Indriani menjadi bagian dari dinamika politik internal Golkar Sulsel.

Perbedaan pandangan, kompetisi kepemimpinan, hingga proses konsolidasi justru memperlihatkan bahwa organisasi ini tetap hidup dan dinamis.

Memasuki era kepemimpinan nasional di bawah Bahlil Lahadalia, Golkar Sulsel menghadapi fase regenerasi.

Munculnya generasi baru pemimpin daerah, profesional, dan pengusaha membawa warna baru dalam organisasi.

Regenerasi tidak lagi hanya berbicara mengenai usia, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap politik, penguatan kelembagaan, dan adaptasi terhadap tantangan demokrasi digital.

Di sini, posisi DPP atau dengan kata lain interest selera Bahlil sangat dominan untuk disebut, sebagaimana dominannya JK atau Nurdin Halid di masanya. Dominan dalam pengertian sebagai ‘at the end will be by the decision maker’. 

Nah, Musda DPD I Golkar Sulsel menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi sekaligus menjaga kesinambungan antara pengalaman para senior dan energi generasi baru.

Lebih dari Sekadar Basis Suara

Selama lebih dari enam dekade, Sulawesi Selatan telah memainkan peran yang jauh melampaui fungsi sebagai lumbung suara Partai Golkar.

Daerah ini menjadi ruang lahirnya pemimpin nasional, tempat bertemunya dunia usaha, birokrasi, akademisi, dan organisasi masyarakat dalam satu ekosistem politik yang khas. Berbagai dinamika yang terjadi di Sulsel sering kali menjadi cerminan perubahan yang kemudian bergulir di tingkat nasional.

Itulah sebabnya Sulawesi Selatan layak disebut sebagai laboratorium politik terpenting Partai Golkar.

Di provinsi ini, Golkar tidak hanya membangun kekuatan elektoral, tetapi juga menguji ketahanan organisasi, merawat tradisi kaderisasi, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di tengah tantangan politik yang semakin kompleks, sejarah Golkar di Sulawesi Selatan menunjukkan satu pelajaran penting: partai yang mampu bertahan bukanlah partai yang bebas dari konflik, melainkan partai yang mampu mengelola perbedaan, melahirkan pemimpin baru, dan menjaga hubungan yang kuat dengan masyarakat.

Kesan itu mulai perlahan surut setelah mereka tak lagi menguasai DPRD Sulawesi Selatan. Nasdem jadi yang paling dominan.

Lalu, akankah Musda Golkar Sulsel kali ini akan jadi sebagai bounch back? Malla’ mama’

Editor Denun
Enreco, 17 Juli 2026