Pengakuan Sang Demonstran dari Lorong Kambing atas Buku Barunya

  • Whatsapp
Prof Amran Razak (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID — Ada banyak cara merawat sejarah. Prof. Dr. Amran Razak, SE., M.Sc memilih menulisnya. Guru Besar Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) itu kembali membuka lembar-lembar ingatan tentang kampus, demonstrasi, pers mahasiswa, Reformasi, hingga dinamika organisasi kemahasiswaan.

Guru Besar Amran Razak yang kerap disapa Demonstran dari Lorong Kambing itu meluncurkan buku terbarunya berjudul Refleksi, Dinamika, Reformasi dan Transformasi BEM-U dalam sebuah kegiatan Soft Launching yang dirangkaikan dengan Silaturahmi Para Pelaku Sejarah dan Aktivis BEM Transformers.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026, mulai pukul 13.00 WITA hingga selesai, bertempat di Red Corner Cafe, Makassar.

Semua dirangkumnya dalam buku baru yang lahir dari perjalanan panjang seorang akademisi yang pernah tumbuh sebagai aktivis. Seorang “demonstran dari Lorong Kambing”.

Prof Amran Razak dan buku baru darinya untuk Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa disaksikan WR 1 Unhas, Prof Muhammad Ruslin (dok: Istimewa)

Dengan gaya khasnya yang cair dan penuh kelakar, Amran mengaku proses penerbitan buku tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus.

“Semalam sebenarnya kita sudah launching. Buku ini sudah lama selesai, tetapi ada masalah. Saya bilang, Pak Rektor ini bikin masalah,” ujarnya berseloroh. Maksud dia, buku itu menjadi berbelit prosesnya karena harus menunggu Rektor baru terpilih.

Ia bercerita, subjudul buku itu sempat memuat kalimat yang menyebutnya sebagai “kado kecil” untuk Prof. JJ. Bagian tersebut kemudian menjadi salah satu hal yang harus disesuaikan dalam proses penerbitan dan pengurusan ISBN.

Namun, cerita tentang teknis penerbitan hanyalah pintu masuk. Ada alasan yang lebih dalam mengapa Amran menulis buku itu.

“Saya menulis ini karena hobi saja, untuk merawat sejarah supaya orang tidak lupa,” katanya.

Tidak kurang 50 orang hadir pada acara tersebut, umumnya sebagai alumni Unhas (dok: Pelakita.ID)

Dari Lorong Kambing, Pers Kampus, dan Gerakan Mahasiswa

Buku tersebut merekam sejumlah fase perjalanan Amran Razak. Fase pertama membawa pembaca pada kehidupan mahasiswa dan gerakan kampus. Masa ketika demonstrasi, perdebatan, pers mahasiswa, dan komunitas seni menjadi bagian dari denyut kehidupan Universitas Hasanuddin.

Amran mengenang Tamalanrea bukan semata sebagai kawasan kampus. Di sana tumbuh berbagai komunitas dengan karakter dan kreativitas masing-masing. Ada kelompok seni, aktivis, hingga pers mahasiswa yang melahirkan banyak nama dan karya.

Sebagian dari mereka kemudian meniti jalan panjang di dunia media, akademik, pemerintahan, maupun ruang-ruang pengabdian lainnya.

Dalam menulis fragmen masa lalu itu, Amran mengaku berkali-kali mendapat koreksi. Bahkan untuk satu kata sederhana: “almarhum”.

“Saya banyak dikoreksi. Banyak sekali saya tulis almarhum. Ternyata ada yang bilang, jangan ditulis almarhum karena pada waktu peristiwa itu dia masih hidup. Terpaksa dihapus semua almarhumnya,” tuturnya.

Kelakar tersebut menggambarkan tantangan menulis ingatan. Penulis berada di masa kini, sementara kisah yang hendak direkam hidup dalam konteks waktu puluhan tahun silam.

Dari Demonstran Menjadi Pembantu Dekan

Fase berikutnya adalah Reformasi. Pada periode itu, posisi Amran telah berubah. Dari seorang yang pernah berada dalam arus gerakan mahasiswa, ia kemudian masuk dalam struktur kepemimpinan fakultas sebagai pembantu dekan.

Perubahan posisi tersebut memberinya cara pandang berbeda terhadap gerakan mahasiswa.

Ia mengingat bagaimana pimpinan fakultas menghadapi dinamika mahasiswa pada masa Reformasi. Menurutnya, kampus tidak semestinya selalu berdiri sebagai penghalang gerakan. “Kami tidak menutup. Kami bukan menjadi penghalang, tetapi pengawal,” kenangnya.

Pengalaman berada pada dua sisi—sebagai aktivis dan kemudian bagian dari pimpinan kampus—menjadi salah satu kekuatan perspektif Amran.

Ia memahami energi mahasiswa, tetapi sekaligus mengetahui tanggung jawab institusi dalam menjaga kehidupan akademik.

“Ini Sketsa, Bukan Sejarah”

Amran sejak awal tidak ingin bukunya diperlakukan sebagai catatan sejarah yang lengkap. Ia menyebut apa yang ditulisnya sebagai sketsa.

Karena itu, ketika muncul pertanyaan mengapa satu nama masuk sementara nama lain tidak disebut, jawabannya lugas.

“Ini sketsa. Memang maunya penulis,” katanya.

Ia bahkan mempersilakan siapa pun menulis versi mereka sendiri.

“Kalau Bapak mau bikin, bikin tulisan sendiri. Tidak ada yang melarang,” ujarnya.

Menurut Amran, sejarah memiliki tuntutan metodologis dan verifikasi yang lebih ketat. Sementara buku yang ditulisnya berangkat dari pengalaman, ingatan, percakapan, dan fragmen kehidupan kampus yang bersentuhan langsung dengannya.

Justru ia berharap buku tersebut menjadi pancingan.

Media sosial, terutama Facebook, ikut membantu proses merawat ingatan tersebut. Percakapan dengan para sahabat dan kolega memunculkan kembali ratusan nama dan cerita.

“Setelah ini diterbitkan, jangan bilang saya sudah menulis semuanya. Ada teman-teman lain yang boleh menulis,” katanya.

Tentang BEM dan “Resep” untuk Rektor

Bagian lain dari buku Amran membahas Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM dari berbagai perspektif.

Namun, ia menegaskan gagasan tersebut bukan tekanan kepada Rektor Unhas. Buku itu tidak sedang mendikte pimpinan universitas mengenai bentuk organisasi kemahasiswaan yang harus diterapkan.

“Kita tidak memaksakan Pak Rektor bahwa harus ada BEM atau bagaimana. Ini resep saja. Terserah mau dipakai atau tidak. Saya hanya menyampaikan gagasan,” tegasnya.

Bagi Amran, pengalaman masa lalu dapat menjadi bahan refleksi. Tetapi keputusan tetap berada pada institusi dan generasi yang menghadapi konteks zamannya sendiri.

Menulis agar Kampus Tidak Kehilangan Ingatan

Perbincangan buku itu mempertemukan lebih dari 40 orang dari berbagai fakultas dan lintas generasi. Sebuah jumlah yang, bagi Amran, terasa istimewa.

“Kumpul-kumpul seperti ini sekarang sudah berat. Tetapi yang betul-betul datang lebih 30 orang. Itu sudah luar biasa, dari berbagai fakultas dan berbagai generasi,” ungkapnya.

Tidak ada kesimpulan formal dari pertemuan tersebut. Mereka datang untuk bercerita, mengenang, bertukar perspektif, dan kembali menyambungkan persahabatan.

Barangkali memang demikian cara Prof. Amran Razak merawat sejarah.

Sang demonstran dari Lorong Kambing itu kini adalah Guru Besar Ekonomi Kesehatan FKM Unhas. Tetapi ingatannya tentang lorong, demonstrasi, pers kampus, dan keriuhan gerakan mahasiswa tidak sepenuhnya ditinggalkan.

Ia memilih menuliskannya.

Bukan sebagai sejarah besar yang mengklaim paling lengkap. Hanya sketsa. Fragmen-fragmen kecil tentang manusia dan zamannya.

Sebab, seperti pengakuannya sendiri, ada satu alasan sederhana di balik buku barunya: “Untuk merawat sejarah supaya orang tidak lupa.”

___
Penulis Denun