Kisah Greisdina Marthaeli dan Tanggung Jawab Seorang Perempuan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita oleh AI

Ketika Kepedulian Membawa Seorang Ibu Menemukan Jalan Pengabdian

“Ada ruang kosong di hati saya. Saya merasa belum berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain.”

Greisdina Marthaeli, Peserta Sekolah Politik Perempuan Maupe Angkatan 8, Maros

MAROS – Bagi Greisdina Marthaeli, menjadi perempuan bukan sekadar menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Lebih dari itu, perempuan memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik, dimulai dari keluarga, lalu meluas kepada masyarakat.

Perempuan yang akrab disapa Dina ini lahir dan besar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, 47 tahun silam.

Selama 13 tahun terakhir, ia menetap di Kabupaten Maros bersama keluarganya. Sebagai ibu dari empat orang anak, ia memilih mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk mengurus rumah tangga.

Baginya, mengurus keluarga bukan pekerjaan yang sederhana.

Salah satu perhatian terbesar adalah memastikan kebutuhan gizi anak-anaknya terpenuhi, terutama asupan protein dari ikan.

“Saya sangat memperhatikan jenis ikan yang dibeli, tingkat kesegarannya, cara membersihkannya, hingga waktu memasaknya. Semua saya lakukan agar nilai gizinya tetap terjaga,” tuturnya.

Dina mengaku memiliki tinggi badan kurang dari 150 sentimeter. Namun, kondisi itu justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa tinggi badan seorang ibu tidak menentukan masa depan anak-anaknya.

“Saya ingin mematahkan anggapan bahwa ibu yang bertubuh pendek pasti melahirkan anak-anak yang pendek juga. Dengan perhatian pada gizi dan pola hidup sehat, Alhamdulillah anak-anak saya tumbuh sehat dengan tinggi badan yang ideal,” katanya bangga.

Kini tiga dari empat anaknya telah bekerja di perusahaan-perusahaan besar, sementara putra bungsunya baru duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Menemukan Makna di Luar Rumah

Lima tahun terakhir, Dina mulai mengembangkan usaha rumahan berupa bakery dengan sistem made by order.

Usaha kecil itu perlahan berkembang berkat dukungan sang suami yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Sulawesi Selatan.

Produk rotinya bahkan telah dipasarkan hingga Menara Bosowa dan sejumlah toko di Kota Makassar.

Meski kehidupan keluarganya berjalan baik, Dina mengaku ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. “Ada ruang kosong di hati saya. Saya merasa belum berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain,” ujarnya.

Perasaan itu muncul setiap kali melihat berbagai persoalan sosial di lingkungan sekitarnya. Ia merasa terpanggil untuk ikut menjadi bagian dari solusi.

Namun sebagai pendatang di Maros, ia menyadari memiliki keterbatasan. Ia membutuhkan teman seperjalanan, sebuah komunitas, dan ruang belajar yang memiliki visi yang sama.

Menemukan Jalan di Sekolah Politik Perempuan

Sebenarnya, semangat itu bukan sesuatu yang baru. Delapan belas tahun lalu, ketika masih tinggal di Palu, Dina pernah mengikuti Sikolah Mombine, sebuah sekolah nonformal yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan akar rumput yang dipelopori Mutmainah Korona.

Sayangnya, aktivitasnya sebagai karyawan swasta di salah satu kantor BUMN membuatnya tidak bisa mengikuti seluruh proses pembelajaran.

Keinginan untuk kembali belajar akhirnya membawanya mencari organisasi pemberdayaan perempuan di Maros. Dengan akses informasi yang terbatas, ia mencoba mencari melalui Google dan Facebook.

Pencarian sederhana itu mempertemukannya dengan Agusnawati, Ketua Yayasan Maupe.

Dari sanalah ia mengenal Sekolah Politik Perempuan Maupe (SPPM).

Awalnya, Dina mengaku sempat ragu.

“Jujur saya agak skeptis karena mendengar kata ‘politik’. Tapi saya berpikir, ikut saja dulu. Mungkin ada sesuatu yang baik yang bisa saya pelajari.”

Ternyata dugaannya keliru.

Di SPPM, ia menemukan makna politik yang berbeda.

“Bagi saya, politik yang diajarkan di sini adalah strategi untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan perempuan. Politik bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi tentang bagaimana perempuan memiliki kesadaran memilih pemimpin yang memiliki kapasitas dan berpihak pada kepentingan perempuan.”

Selain ilmu, ia juga mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cari: jaringan pertemanan, ruang berdiskusi, dan semangat untuk bergerak bersama.

Peserta kelas SPPM dan pilar Yayasan Maupe angkatan 8 (dok: Pelakita.ID)

Belajar dari Banyak Orang

Salah satu sesi yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti materi komunikasi yang dibawakan oleh Kamaruddin Azis, pendiri Pelakita.ID.

Ia terinspirasi ketika mendengar kisah perjalanan narasumber yang pernah berinteraksi dengan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Dina mengaku telah lama mengagumi sosok Susi.

“Bagi saya, Bu Susi adalah perempuan yang berani. Saya juga menerapkan kampanye yang pernah beliau gaungkan di lingkungan keluarga kami, dan Alhamdulillah hasilnya sangat baik.”

Menurutnya, perempuan Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang berani, tegas, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Berawal dari Rumah, Berakhir untuk Masyarakat

Bagi Dina, pengalaman mengikuti SPPM tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara pandangnya tentang tanggung jawab seorang perempuan.

Jika selama ini pengabdian dimulai dari memastikan keluarga sehat dan anak-anak tumbuh dengan baik, kini ia percaya bahwa kepedulian itu harus meluas kepada masyarakat.

Ia ingin menjadi bagian dari perempuan-perempuan yang ikut menyelesaikan persoalan sosial, mendorong kesetaraan, memperjuangkan hak-hak perempuan, serta berkontribusi melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.

“Terima kasih SPPM,” ucapnya singkat.

Di balik kalimat sederhana itu tersimpan perjalanan seorang perempuan yang telah menemukan ruang untuk mengubah kegelisahan menjadi tindakan.

Dari dapur rumah, usaha roti rumahan, hingga ruang belajar politik perempuan, Greisdina menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dari jabatan atau kekuasaan.

Ia lahir dari kepedulian, tumbuh melalui pembelajaran, dan menemukan maknanya ketika seseorang memilih untuk menjadi bagian dari solusi bagi orang lain.

___
Editor Denun