Di SPPM, Aswa tidak hanya belajar tentang politik, tetapi juga menemukan kembali dirinya—seorang gadis yang memilih menulis hidupnya dengan semangat, satu bait puisi demi satu langkah perubahan.
PELAKITA.ID – Di balik nama panjangnya, Sitti Nur Aswa Riski Wahyuni, tersimpan kisah seorang gadis yang belajar menjadi kuat bahkan sebelum ia memahami arti kehidupan.
Bukan karena hidupnya mudah, tetapi justru karena sejak kecil ia harus menerima kenyataan yang tidak dialami semua anak seusianya.
Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ketika kedua orang tuanya berpisah, Aswa kecil tumbuh dalam pelukan kasih sayang sang nenek dan kakek. Dari merekalah ia belajar tentang cinta yang tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna.
“Tidak semua orang memahami masa kecil saya. Saya sering dipandang sebelah mata,” tuturnya. Namun, pengalaman itu tidak membuatnya tenggelam dalam kesedihan.
Sebaliknya, ia menemukan pelajaran paling berharga: penilaian orang lain tidak akan pernah menentukan masa depannya.
Aswa memilih untuk tidak menyimpan amarah kepada siapa pun, termasuk kepada kedua orang tuanya.
“Bagi saya, hidup bukan tentang menyalahkan masa lalu. Hidup adalah tentang memilih ke mana semangat kita akan membawa kita hari ini.”
Kalimat itu bukan sekadar penghiburan bagi dirinya sendiri, melainkan prinsip hidup yang terus ia pegang hingga sekarang.
Di tengah segala keterbatasan, Aswa memelihara sebuah mimpi sederhana, tetapi sangat berarti: menjadi seorang penulis puisi.
Baginya, puisi bukan hanya rangkaian kata-kata indah.
Puisi adalah tempat menyembuhkan luka, menyimpan harapan, sekaligus menjadi ruang bagi perempuan untuk menyuarakan isi hati yang sering kali tidak didengar.
“Puisi adalah cara saya menjahit luka, merayakan harapan, dan menyuarakan suara perempuan.”
Perjalanan hidupnya kemudian menemukan babak baru ketika ia bergabung dalam Sekolah Politik Perempuan Maupe (SPPM) Maros.
Cerita dari SPPM Maros
Awalnya, ia datang dengan keraguan seperti banyak peserta lainnya. Namun, ruang belajar itu perlahan mengubah cara pandangnya.
Diskusi, pelatihan, dan berbagai pengalaman selama mengikuti SPPM membuatnya menemukan keberanian untuk berbicara, berpendapat, dan percaya pada kemampuannya sendiri.
“Di SPPM saya merasa diberi peluang. Saya merasa didengar. Saya jadi lebih percaya diri.”
Tidak hanya memperoleh pengetahuan, Aswa juga menemukan keluarga baru. Para senior dan fasilitator tidak sekadar mengajar, tetapi menjadi teman belajar yang membimbing dengan penuh kesabaran.
Usahanya pun berbuah manis.
Di akhir program, Aswa berhasil meraih peringkat pertama di kelasnya.
Prestasi itu bukan sekadar angka. Baginya, penghargaan tersebut menjadi simbol bahwa seorang anak yang dibesarkan oleh nenek dan kakeknya, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tetap memiliki kesempatan untuk berdiri di barisan terdepan.
“Hari ini saya terus melangkah. Bukan untuk membuktikan kepada orang-orang yang pernah meremehkan saya, tetapi untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa hidup saya bisa berubah.”
Ia percaya bahwa dunia membutuhkan lebih banyak perempuan yang memilih bangkit daripada menyerah.
Perempuan yang pernah terluka, tetapi tidak menjadi pahit.
Perempuan yang diuji, tetapi tidak kehilangan harapan.
Perempuan yang memilih terus bertumbuh.
Bagi Aswa, identitas seseorang tidak ditentukan oleh latar belakang keluarganya.
“Aku bukan siapa-siapa karena orang tuaku. Aku adalah siapa aku karena aku memilih untuk terus maju.”
Semangat itulah yang kemudian ia tuangkan dalam sebuah puisi yang dipersembahkannya untuk SPPM, ruang belajar yang menurutnya telah mengubah cara ia memandang dirinya sendiri dan masa depan.

Ruang Kita Bernama SPPM
Puisi karya Sitti Nur Aswa Riski Wahyuni
Di sini kami datang membawa ragu,
Membawa cerita yang lama dibungkam,
Membawa nama “perempuan” yang sering disuruh diam.Tapi SPPM menyambut dengan meja bundar,
Bukan untuk memerintah, tapi untuk berdiskusi.
Bukan untuk bersaing, tapi untuk saling menguatkan.Senior berbagi luka dan strategi,
Moderator menyalakan nalar dan keberanian.
Dan kami…
Kami belajar bahwa politik bukan sesuatu yang kotor.
Politik adalah cara kita merawat rumah, desa, dan bangsa.SPPM bukan sekolah biasa.
Ini adalah rumah tempat kami belajar berdaya.
Tempat kami memahami bahwa suara perempuan bukan sekadar gema,
Melainkan keputusan yang mampu mengubah masa depan._____
Kisah Aswa mengingatkan bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang kelas formal.
Kadang, ia tumbuh dari keberanian seseorang untuk membuka hati, menerima masa lalunya, lalu melangkah dengan keyakinan bahwa setiap perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Di SPPM, Aswa tidak hanya belajar tentang politik, tetapi juga menemukan kembali dirinya—seorang gadis yang memilih menulis hidupnya dengan semangat, satu bait puisi demi satu langkah perubahan.
___
Editor Denun









